IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 19 Luapkan Saja Tangismu


__ADS_3

"Dhira," ucap Maya sembari memeluk Andhira.


"Aaawwhh! rintih Andhira mengaduh.


Suara aduhan itu sontak membuat Maya melepaskan pelukannya. Lantas, Maya menyingkap sedikit lengan baju Andhira ke atas. "Sudah aku katakan sejak awal," gumam Maya di dalam hati.


Andhira pun mempersilakan teman-temannya itu untuk masuk. "Tunggu sebentar, ya. Aku akan membuat minuman untuk kalia," ujar Andhira.


"Dhira ...," seru Rere yang membuat langkah kaki Andhira tertahan. Andhira menoleh ke arah Rere.


"Tidak usah repot-repot. Duduklah bersama kami," ajak Rere.


"Iya, Dhir. Tadi kami membeli minuman kesukaan kamu, saat akan berangkat ke sini," timbrung Fahri seraya menunjukkan sebuah kantung yang berisi beberapa cup es kopi kesukaan Andhira.


Andhira mengulas senyuman, lantas duduk bersama mereka. "Kalian tahu dari mana rumahku di sini?" tanya Andhira.


"Emm, itu tidak penting, Dhira. Katakan, bagaimana keadaanmu? Apakah kami sudah dilupakan dari daftar pertemananmu?" goda Rere sembari tersenyum.


"Ohh, Rere sayang. Mana mungkin aku melupakan kalian semua," jawab Andhira.


Obrolan demi obrolan pun berlangsung begitu hangat di antara mereka berempat. Namun, ada yang tidak begitu senang di sana. Ya, seperti biasa Maya tampak tidak begitu menikmati kerbersamaannya itu. Sebab, sejak mereka datang tadi, Maya melihat raut wajah tak bahagia pada Andhira.

__ADS_1


"Dhira, boleh menumpang kamar mandi tidak, ya? Ujar Fahri.


"Tentu saja, kamu jalan lurus kemudian belok sedikit, kamar mandinya ada di sebelah kiri," terang Andhira. Fahri pun segera ke sana.


"Aduh, perutku juga tiba-tiba sakit. Apa ada kamar mandi lain?" kata Rere sembari meringis dan memegangi perutnya.


"Ada, Re ... yang mengarah ke dapur itu. Kamu bisa memakainya," tunjuk Andhira. Segera saja Rere berlari menuju ke kamar mandi tersebut.


Andhira menggelengkan kepalanya. "Mereka kompak sekali," ujarnya menyelipkan tawa.


Sekarang di ruang tamu itu hanya ada Andhira dan Maya. Andhira tampak menunduk dengan mata redup. Entah apa sebabnya, mungkin dia merasa malu karena ternyata ketidak setujuan Maya pada pernikahannya bersama Daffa, bersambut siksa-siksa yang dilakukan Daffa terhadap dirinya.


"Dhira, aku tahu Lelaki itu pasti sudah menyakitimu 'kan? Sudah bisa aku tebak sejak awal aku melihat wajah dan sikapnya," tutur Maya.


Tiba-tiba saja, ada rasa nyeri yang menyeruak di dalam dada Andhira. Ingin rasanya dia mengatakan bahwa semua yang Maya katakan itu adalah benar. Namun, bibir Andhira kelu dan tak mampu untuk mengutarakannya. Dia hanya terus menundukkan wajah menyembunyikan air mata yang lolos begitu saja dari sudut dalam netranya.


"Dhir ... aku tidak memaksamu untuk bercerita mengenai apa yang sedang terjadi di antara kamu dan suamimu. Tapi, kamu harus tahu bahwa aku, Rere dan juga Fahri siap mendengarkan keluhanmu," papar Maya seraya menggenggam tangan Andhira.


Andhira menghela napas dalam. Lalu, dia menghambur memeluk Maya dengan suara tangisan yang berusaha dia tahan sekuat tenaga. "Terima kasih, Maya." Hanya kata itu yang mampu Andhira ucapkan.


"Jangan ditahan, itu pasti rasanya sangat sesak. Luapkan saja tangismu, Dhira."

__ADS_1


Memang benar, dia sudah tidak tahan lagi, Andhira pun menangis hingga terdengar sedu sedan dari tangisannya tersebut. "Aku harus bagaimana, Maya? Dia terus memperlakukanku bagai sampah yang tidak berguna," adu Andhira sambil terus menangis.


Maya melepaskan pelukan Andhira, lantas kembali menggenggam tangan Sahabatnya itu. "Dengarkan aku baik-baik, Dhira. Sekarang atau nanti ... keluargamu harus tahu perbuatan Lelaki itu."


"Tapi, May, aku tidak ingin Ibu kepikiran," sanggah Andhira.


"Apa yang membuatmu khawatir? Ibumu akan lebih kepikiran saat melihat keadaanmu seperti ini. Lihat! Sekujur tubuhmu dipenuhi memar dan luka-luka lebam yang membiru. Percayalah, Dhira. Keluargamu menikahkan kamu dengan Lelaki itu, karena berharap dia bisa membahagiakanmu. Lantas, apakah mereka akan terima saat mengetahui ternyata dia hanya membuatmu tersiksa? Tidak, Dhira ...."


Andhira semakin menangis mendengar penuturan Maya. Sahabatnya itu memanglah benar, keluarga Andhira menumpukan harap pada Daffa untuk memberinya kebahagiaan. Bukan untuk menyakiti apa lagi menyiksanya dengan sengaja. "Maya ...," lirih Andhira seraya menyeka air matanya.


"Iya, Dhira," jawab Maya.


"Dari mana kamu bisa tahu bahwa Daffa bukan laki-laki yang baik? Jujur saja, pada mulanya aku mengira kamu hanya iri pada pernikahanku. Oleh sebab itu, kamu selalu menunjukkan rasa tidak sukamu pada Suamiku," tanya Andhira seraya mengakui perasaan dirinya sebelum ini.


Maya menyunggingkan senyuman di bibirnya dengan mata berkaca-kaca.


Bersambung ....


Like, komen, favoritkan .... Itu saja yang othor minta, tapi kalau mau kasih ghift dan vote juga othor sangat ikhlas menerimanya. 😭😭😭😭😭


Lope-lope .... ❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2