
Mereka yang baru saja terlelap, sampai bangun sambil terperanjat kaget karena suara pecahan kaca tersebut. Dengan hati berdebar dan benak yang penuh tanya, keduanya sama-sama saling melempar pandang. Lalu, Daffa menyelimuti tubuh Andhira, sementara dia berjalan untuk memeriksa keadaan.
Dari balik tirai yang kacanya sudah pecah. Daffa mengintai, mencari tahu barangkali ada petunjuk yang didapatnya. Benar saja, dari sejauh mata memandang, Daffa melihat seseorang dengan gerak-gerik yang mencurigakan. Pandangan mata Daffa beralih ke bawah, dan dia melihat sebuh batu berukuran sebesar kepalan tangan orang dewasa. Sepertinya, batu itulah yang digunakan orang tersebut untuk melempar kaca jendela kamar rumahnya hingga pecah berkeping-keping.
"Ada apa, Mas?" tanya Andhira dengan rona ketakutan di wajahnya.
"Sayang, tetaplah di sini. Aku akan memeriksa keadaan. Jangan sentuh serpihan kacanya, ya," titah Daffa sambil berpesan.
"Baik, Mas." Patuh Andhira.
Daffa berganti pakaian, kemudian bergegas keluar. Dia berjalan mengendap memindai seorang lelaki yang berdiri sejajar dengan letak kamarnya. Dia memperhatikan kamar yang ditempati Daffa dan Andhira tersebut dengan seksama.
Lalu, dengan tangkas dan cekatan Daffa mengunci tubuh lelaki tersebut dari arah yang tidak terduga. Lalu, Daffa membawanya hingga dia merapat ke dinding rumah dengan posisi membelakangi Daffa dan tangannya diputar ke belakang. "Katakan siapa yang menyuruhmu melakukan ini?" tandas Daffa dengan geram.
Lelaki yang kini berada dalam kuasa Daffa itu hanya diam sambil meringis kesakitan. Daffa yang tidak mendapat jawaban, mencengkeram lengan orang asing itu dengan keras. "Katakan, atau akan kupatahkan tanganmu!" ucap Daffa memberi peringatan.
"Ampun, tolong lepaskan tanganku!" mohon Lelaki itu.
"Aku hanya butuh kamu menjawab pertanyaanku! Cepat beritahu aku atau kamu akan kehilangan kedua tananmu!" ancam Daffa. Dia tidak tahu bahwa Daffa punya keahlian yakni keterampilan bela diri yang bisa dengan mudah menaklukkan musuhnya.
"A-aku hanya disuruh."
"Siapa yang menyuruhmu? Cepat katakan padaku, Dungu!"
Dalam jarak sekitar 20 meter dari rumah Daffa, ada Farid yang tengah gelisah karena orang suruhannya tertangkap oleh Daffa. "Aarrrggg! Bodoh!," makinya penuh amarah. Dia meremass rambutnya frustasi. Lalu, dia memusatkan perhatiannya lagi ke arah Daffa dan orang suruhannya. Farid sangat penasarana karena tidak bisa mendengar suara mereka.
"Maafkan aku. Aku hanya sedang butuh uang. Sungguh, aku tidak ingin mengambil pekerjaan ini atau menyakiti siapa pun. Tapi, ibuku sedang sakit dan harus berobat, aku tidak punya cukup biaya untuk membawanya ke rumah sakit," papar Lelaki tersebut.
"Apa ucapanmu bisa dipercaya?" tanya Daffa ingin memastikan.
"Aku bersumpah demi ibuku, bahwa aku tidak sedang berbohong," terangnya lagi.
Daffa mengendurkan cengkeramannya terhadap Lelaki asing tersebut. "Siapa namamu?" ujar Daffa yang kini tampak lebih tenang.
"Namaku Aldi, Bang," jawabnya.
"Ikut aku!" perintah Daffa sambil membawa Orang itu masuk ke dalam rumahnya.
"T-tapi, Bang."
__ADS_1
"Sudah ikut saja!" tukas Daffa tidak ingin dibantah.
Daffa menyuruh Aldi duduk di ruang tamu. Kemudian, menyuguhkan air minum padanya. Mereka tampak mengobrol, tapi entah apa yang dibicarakan.
Tidak lama, Andhira keluar dari kamar dalam keadaan sudah berganti pakaian. Lantas, matanya kini tertuju pada Daffa dan seorang lelaki lain, yang hanya tampak punggungnya saja. Dia pun semakin mendekat ke arah sana.
"Mas ...," seru Andhira lirih.
"Sayang," jawab Daffa sambil tersenyum.
Tiba-tiba Aldi menoleh pada Andhira, dan mereka berdua saling membelalakkan mata.
"Mbak Dhira," sebut Aldi dengan wajah memerah seperti terbakar rasa malu bercampur kesedihan.
"Aldi! Kamu sedang apa di sini?" tanya Andhira. Lelaki itu hanya terisak.
"Loh, kalian sudah saling kenal?" tanya Daffa heran.
"Iya, Mas. Ini Aldi, anaknya Bu Alya," terang Andhira.
"Ibu Alya siapa?" tanya Daffa lagi.
"Kamu kenal di mana? Kamu sering bertemu dengan Aldi?" kata Daffa mulai cemburu. Dia tidak perduli kalau Aldi mendengar pembicaraannya dengan Andhira.
"Mereka berjualan di dekat TPU tempat ayah dimakamkan, Mas. Aku sering membeli bunga pada mereka," jelas Andhira.
"Oh, begitu," ujar Daffa sembari manggut-manggut.
"Oh, ya, kamu juga kenal Aldi, Mas?" kata Andhira balik bertanya.
Daffa menggelengkan kepalanya, sambil melirik ke arah Aldi yang tertunduk malu. "Eemm, tadi tidak sengaja bertemu dia di depan rumah. Sepertinya, dia sedang kebingungan, jadi kuajak saja dia masuk," tutur Daffa menutupi yang sebenarnya demi menjaga harga diri Aldi.
Aldi sontak menatap Daffa sambil merasa kebingungan. " Kenapa Bang Daffa tidak mengatakan yang sebenarnya? Apa dia sedang menjaga aku agar tidak malu di depan Mbak Dhira?" batin Aldi penuh tanya.
"Tadi Aldi bercerita bahwa ibunya sedang sakit dan butuh biaya," lanjut Daffa.
"Ya ampun, Bu Alya sakit, Al?" Andhira mengalihkan pandangannya pada Aldi.
"I-iya, Mbak. Belakangan ini kondisi Ibu sangat menurun, tapi ...." Aldi tidak melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
"Jangan dipikirkan soal biayanya, Al. Aku ada sedikit tabungan. Nanti kamu bawa ibumu berobat, ya!" pungkas Daffa.
Aldi tidak bisa menahan rasa harunya. Sungguh dia tidak menyangka, dirinya akan dipertemukan dengan orang sebaik Daffa juga Andhira. Padahal, dia baru saja melakukan kejahatan pada mereka. Meski bukan atas dasar kemauan, melainkan terpaksa melalukannya demi sejumlah uang untuk berobat ibunya yang sakit. Di samping itu, Aldi juga tidak tahu bahwa yang dia lempari batu tadi adalah rumah Andhira. Pelanggan yang selalu membeli kembang dan air mawar pada Bu Alya dan dirinya, saat berziarah.
Ya, itulah Daffa yang sebenarnya. Dia peka terhadap lingkungan dan keadaan orang yang membutuhkan bantuan. Aku beritahu kalian, Daffa juga rajin menyisihkan uang untuk kegiatan amal. Hanya saja, kegiatan itu sudah lama tidak dia ikuti sejak dia menikah dengan Andhira. Dia merasa hidup sangat tidak adil padanya. Tapi kini, setelah cinta kembali bersemayam di dalam hatinya, Daffa pun berniat memulainya lagi.
"Terima kasih, Mas," ucap Andhira sambil menatap Daffa dengan senyuman bangga.
"Aldi tidak tahu harus berterima kasih dengan cara apa pada Abang, dan juga Mbak."
"Panggil Mas saja, Al. Biar tidak terlalu banyak nama sebutan yang aku dengar," tutur Daffa.
"I-iya, Mas."
"Santai saja, Aldi. Aku tahu bagaimana rasanya mencemaskan ibu yang sedang sakit," ucap Daffa dengan suara parau seperti menahan tangis.
Andhira memberi usapan lembut di pundak Daffa. Dia mengerti Daffa sedang mengenang mendiang ibunya. Selain itu, Andhira sendiri sangat mengerti betapa sakitnya ditinggalkan oleh orang yang disayang untuk selamanya. Seperti halnya Andhira yang kerap dibayang-bayangi kesedihan atas kepergian ayah tercintanya.
Daffa meraih tangan Andhira dari pundaknya, lalu mencium tangan itu dalam-dalam. "Sayang, tunggu sebentar," titah Daffa, lantas beranjak pergi ke kamar.
Tidak berapa lama, dia pun kembali lagi dengan sebuah amplop di tangannya. "Aldi, pulanglah dan segera bawa ibumu berobat. Jangan menunda lagi," titah Daffa sambil memberikan amplop berisi sejumlah uang tersebut ke tangan Aldi.
Aldi sudah hendak bersimpuh di kaki Daffa, tapi Daffa menahan dan memeluknya.
"Pergilah, aku sudah memesankan taksi unukmu," ujar Daffa. Dia sudah tahu alamat Aldi, karena mereka mengobrol cukup banyak tadi. Aldi pun berpamitan pada dua orang yang kini bagai malaikat baginya.
Setelah Aldi pergi dan tidak terlihat lagi, Andhira menghambur memeluk Daffa. "Mas." Hanya itu yang keluar dari mulut Andhira.
"Ya, Sayang." Daffa membalas memeluk Andhira.
Tampaknya Andhira mulai tambah cinta pada sosok Daffa yang ternyata memiliki hati yang lembut. Begitu juga dengan Daffa, yang memang sudah sangat cinta pada Andhira seiring waktu dan saling mengenal. Namun, ada yang mengganjal di hati Daffa. Ya, itu tentang Farid yang belum menyerah dalam mengusik hidupnya.
"Seharusnya kita saling menyayangi meski hanya sebagai saudara tiri, Farid. Tapi, kamu selalu ingin membuatku susah sejak dulu, dari pertama kamu masuk ke dalam kehidupanku. Entah dosa apa aku padamu hingga kamu selalu jahat terhadapku," batin Daffa berkecamuk.
Saat mengobrol tadi, Aldi juga memberitahu siapa yang memberinya pekerjaan keji itu. Kini Farid sudah tidak bisa mengelak. Karena Daffa sudah tidak ingin diam lagi.
"Kita lihat saja, Farid. Apa lagi yang akan kamu lakukan setelah ini?!" geram Daffa di dalam hati.
[Dering ponsel berbunyi.]
__ADS_1
Bersambung ....