
Daffa terdiam seribu bahasa. Lalu, dia tersadar akan sesuatu. "Kenapa rambutnya sekarang pendek? Bisiknya dalam hati seraya mengerutkan dahi.
Andhira melangkah hendak menuju ke pintu kamar. Dia bepikir untuk pergi saja dari rumah itu. Namun, tanpa diduga Daffa mencegahnya dengan memegangi pergelanan tangan Andhira.
Adhira menghela napasnya dalam, lantas menoleh ke arah Daffa. "Lepaskan," ronta Andhira.
"Kamu mau kemana?" tanya Daffa kali ini dengan suara pelan.
"Apa begitu penting bagimu mengetahui kemana aku akan pergi?" balas Andhira balik bertanya.
"Tentu saja, kita suami istri 'kan?" ucap Daffa menatap penuh harap kepada Andhira.
Andhira tersenyum getir. "Suami istri macam apa yang tidak punya kasih sayang dalam rumah tangganya?" tutur Andhira menampar Daffa dengan kata-katanya.
"Baiklah, Dhira. Aku minta maaf atas kekhilafanku selama ini," akui Daffa.
"Maaf? Aku bisa saja memaafkanmu atas kesalahan yang kamu lakukan berulang-ulang itu. Akan tetapi, tidak mudah bagiku untuk melupakannya," papar Andhira dengan mata berkaca-kaca menahan perih yang menjalar di dalam hatinya.
"Oke, aku mengaku salah. Aku minta maaf sudah membuatmu kecewa dan merusak suasana hatimu," imbuh Daffa lagi.
__ADS_1
"Bukan hanya merusak suasana hatiku, tapi juga seluruh kepercayaanku padamu!" tandas Andhira.
Daffa tertegun seperti merenungi kalimat yang baru saja Andhira utarakan. Lalu, dia meluruh di lantai sambil bersimpuh di kaki Andhira. "Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaikinya, Dhira," ucap Daffa memohon.
"Apa yang kamu lakukan? Jangan merendahkan harga dirimu di hadapanku yang bahkan, tidak pernah pernah penting dalam hidupmu!" sarkas Andhira sembari mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri semula.
Namun, Daffa tidak menyerah begitu saja. Dia bangkit dan langsung memeluk Andhira. "Kamu boleh memakiku sesuka hatimu, tapi tolong jangan pergi," ujar Daffa dengan sungguh.
Kala itu perasaan Andhira menjadi semakin bingung dibuatnya. Dia tidak tahu apa yang dia lakukan sudah benar, atau belum? Tapi, akhirnya Andhira membuat sebuah keputusan. "Baiklah, aku tidak akan pergi," ucap Andhira dengan nada datar.
Daffa menangkup kedua belah pipi Andhira. Lantas, dia menatap Andhira dengan sorot mata berbinar. Seolah ada perasaan cinta di sana. "Terima kasih, Dhira." Daffa melabuhkan ciuman di kening Andhira dengan waktu yang lama seakan sangat meresapinya.
Dalam hati Andhira berkata 'apakah dia harus bersikap berani dan memberontak dulu, barulah Daffa bisa bersikap baik padanya?'. Sungguh, perubahan sikap Daffa yang sangat sulit ditebak membuat Andhira sangat keheranan. Andhira juga bertanya-tanya 'perlukah dia memperecayai Daffa lagi, atau sebaiknya jangan?'. Semua yang terjadi di hadapan Andhira, membuatnya berpikir keras.
"Tidak apa-apa. Kemarilah, biar aku rapikan," ajak Daffa menuntun tangan Andhira. Dia membawa Wanita yang sedang tidak karuan itu ke depan cermin besar yang sebelumnya digunakan oleh Andhira.
Andhira menatap ragu pada Daffa. Namun, Daffa membalas tatapan Andhira dengan lembut dan merekahkan senyuman di bibirnya. Rasanya, itu senyuman terbaik dari Daffa yang pernah Andhira terima.
"Diamlah, aku akan memotong sisa rambut yang belum rapi," titah Daffa. Andhira pun patuh padanya.
__ADS_1
Laki -laki itu mulai melakukan guntingan pada rambut Andhira. Harus diakui, kala itu dia melakukannya dengan sangat hati-hati. Meskipun semua itu masih menjadi misteri. Apakah Daffa berbuat demikian karena benar-benar telah menysal? Atau mungkin hanya untuk membuat Andhira melupakan kesalahan yang telah dia lakukan, dan sifatnya sementara saja? Tidak ada yang benar-benar mengetahui.
Tidak sampai di situ saja. Daffa juga mengoleskan krim obat pada luka memar yang ada di tubuh Andhira seluruhnya. "Apa rasanya sangat sakit?" tanya Daffa seraya menatapi Andhira dengan lekat.
"Aku harus menjawab apa? Jika aku mengatakan itu tidak sakit, bukankah aku telah berbohong? Lalu, jika aku mengakui bahwa itu rasanya sangat sakit, apa kamu juga akan percaya?" urai Andhira.
Daffa menghela napas panjang dan membuangnya perlahan. "Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi," ucap Daffa.
Laki-laki itu masih saja melakukan sesuatu yang malah membuat Andhira semakain merasa aneh. Dia mengangkat tubuh Andhira dan membawanya ke atas kasur. Lalu, direbahkannya tubuh Wanita yang kini berambut pendek itu dengan hati-hati. Andhira hanya bisa pasrah, tapi di dalam pikirannya gencar bertanya-tanya.
"Istirahatlah! Aku akan memasak makanan untuk kita," titah Daffa.
"Apa?" sentak Andhira yang kala itu langsung duduk terbangun.
"Tenang saja, aku tidak akan mmasukkan racun atau obat apa pun di dalam masakanya," terang Daffa.
Andhira hanya menunduk dengan alis yang dicekungkan. Lalu, tangan Daffa mengangkat dagu Andhira dengan sangat perlahan, hingga tatapan mata Andhira sejajar dengannya. Dan sebuah sapuan yang sangat lembut dari lidah Daffa, menjamah bibir Andhira yang masih tampak pucat.
Bersambung ....
__ADS_1
Cieee Cieeee pada deg-degan cieeee .... Wkwkwk!
DUKUNGANYA JANGAN LUPA, YE! LOPE-LOPE. ❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤