IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 42 Semoga Tidurmu Nyenyak


__ADS_3

"Bu ...," lirih Andhira seraya membuka matanya perlahan. Namun, dia tidak mendapati ibunya di sana.


"Aduh, kenapa tubuhku sangat lemas? Ya ampun, sudah berapa lama aku tertidur?" gumam Andhira bicara sendiri.


Saat itu pukul 03.00 dini hari. Keadaan rumah sangat sepi, karena Salamah dan juga Nindi yang sedang menginap masih tertidur. Andhira berjalan menuju kamar Ibunya, dan sedikit terkejut karena melihat Nindi di sana.


"Sejak kapan Mbak Nindi ada di sini?" batin Andhira.


Andhira kembali ke kamarnya dan meraih ponsel yang dia taruh di dekat bantal. Tampak ada beberapa pesan yang masuk di sana. Andhira pun membukanya.


[Selamat malam, Dhira. Semoga tidurmu nyenyak malam ini. Aku tahu, mungkin aku tidak pantas bahkan untuk sekedar singgah di dalam pikiranmu, tapi izinkan aku tetap memelukmu meski hanya lewat mimpi dan angan-anganku. Aku merindukanmu, Dhira.]


Pesan itu dikirim beberapa jam yang lalu oleh Daffa. Akan tetapi, Andhira baru membacanya karena dia memang baru banghun. "Mas Daffa, kenapa dia bicara seperti itu?" gumam Andhira usai membaca pesan singkat dari Daffa tersebut.


Andhira tidak membalas pesan itu. Dia hanya menaikkan alis dan mengerutkan keningnya merasa heran. Lalu, meletakkan kembali ponselnya.


"Aku merasa hidupku sudah tiada artinya lagi. Apa yang harus aku pertahankan dalam hidup ini? Semuanya telah hancur berkeping-keping."


Andhira menggulung baju berlengan panjang yang dikenakannya. Lalu, dia melihat pada luka sayatan yang dia buat beberapa hari yang lalu. Pikirannya mulai terdorong untuk melakukan hal yang sama lagi.


Wanita dengan suasana hati yang labil itu pergi ke dapur. Tentu saja, dia akan mencari benda tajam yang sekiranya bisa digunakan untuk melancarkan keinginannya. "Bentuk pisau ini sangat lucu," cetusnya seraya mengambil sebuah pisau kecil yang ada di sana.


Sembari tersenyum, dia mulai mengarahkan pisau tersebut pada pergelangan tangannya yang sebagian masih terbalut perban. Namun, Salamah muncul dengan tiba-tiba tanpa Andhira ketahui. Wanita paruh baya itu terhenyak dan langsung merebut pisau dari tangan Andhira.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan, Sayang? Jangan melakukan hal-hal bodoh yang membuatmu sakit begini!" ujar Salamah sembari menangis.


"Ini ... sejak kapan ada luka di tanganmu ini, Nak?" lanjut Salamah sambil menunjuk pada lengan Andhira yang terbalut perban.


Andhira hanya menggelengkan kepalanya sembari menangis. Selama ada di rumah Salamah, Andhira selalu mengenakan baju lengan panjang untuk menutupi seluruh permukaan lngannya. Karena itulah Salamah tidak tahu dan terkejut saat melihat luka itu.


Nindi yang mendengar suara gaduh tangis dan kecemasan dari dalam kamarnya, segera bangkit dan berlari menghampiri pusat suara. Benar saja, ada dua wanita yang tidak lain adalah Ibu dan Adiknya sedang menangis bersahut-sahutan. "Ibu, Dhira, ada apa ini?" lontar Nindi sambil berusaha melerai kegaduhan.


"Adikmu, Nak. Dia mencoba untuk melukai tangannya dengan pisau," adu Salamah sambil terus menangis.


Andhira yang hanya bisa menangis pun tidak bisa membela dirinya. Dia hanya menggelengkan kepalanya karena tidak tahu harus menjelaskan apa. Sungguh, itu benar-benar di luar kendalinya.


"Dhira sayang, kemarilah ... Adikku yang cantik," bujuk Nindi sambil membawa Andhira ke dalam pelukannya.


"Dhira harus apa, Mbak? Dhira mau ikut ayah saja," racau Andhira yang masih berada dalam dekapan Nindi.


"Suuttt, jangan bicara seperti itu, Cantiknya Mbak. Dhira sangat berarti bagi kami semua."


"Dhira, ada banyak orang yang mencintaimu di sini. Kamu harus kuat ya, Sayang. Kita akan minta bantuan seseorang, oke!" tutur Nindi lagi.


Andhira mereda, dia mengangguk dan mendengarkan kata-kata Nindi. Sementara, Salamah masih menangis dengan tubuh yang gemetar. Hanya Nindi yang bisa mengendalikan keadaan kala itu. Dia membawa kedua wanita itu menuju ruang tamu.


"Bu, jangan khawatir. Nindi janji Andhira akan baik-baik saja. Kita akan mengupayakan yang terbaik untuk memulihkan kehatannya," tutur Nindi bicara dengan nada lirih.

__ADS_1


"Ibu sangat cemas dengan semua ini, Nak.


"Iya, Bu. Nindi tahu," sambung Nindi memahami perasaan Salamah.


"Bu ...," lirih Andhira.


"Dhira minta maaf ya, Bu," lanjut Andhira seraya memeluk Salamah.


"Tidak, Sayang. Dhira tidak salah, Nak." Salamah kembali tersedu, lantas membalas pelukan Andhira dan membelai lembut pucuk kepalanya.


Sesaat suasana menjadi sangat kaku. Nindi kembali membujuk Andhira. Mengatur kalimat agar adiknya tidak tersinggung saat diajak melakukan psikoterapi nanti.


"Dhira, kamu ingin sembuh 'kan? Mbak tahu, kamu pasti rindu melakukan hal-hal menyenangkan seperti sunday morning riding bersama teman-teman. Iya 'kan?" tutur Nindi. Andhira mengangguk pelan.


"Kalau begitu, kita akan mengunjungi seseorang. Kamu mau, ya."


"Iya, Mbak .... Dhira mau."


Nindi pun memberi isyarat pada Salamah agar berhenti menangis.


***


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2