
Ummi dan Abah saling bertatapan. Ada rasa haru sekaligus bangga mendengar Farid yang memutuskan untuk mondok. Ummi dan Abah pun memberikan dukungan penuh terhadap Farid.
"Mi, kalau begitu biar Abah antarkan Farid sampai ke pondoknya. Abah punya kenalan seorang pemilik pesantren," tutur Abah dengan rona wajah sangat bahagia.
"Tidak perlu, Bah. Farid tidak ingin merepotkan Abah."
"Abah tidak repot, Nak. Lagi pula, sudah kewajiban Abah sebagai orang tua untuk mengantarkan kamu ke sana. Betul 'kan Mi?"
"Iya, Nak. Sekalian biar kami tahu tempatmu mondok dan mudah untuk menjengukmu sewaktu-waktu," tutur Ummi yang tidak kalah bahagia.
"Baiklah, Bah, Mi. Terima kasih sekali lagi. Tadinya Farid belum tahu akan mondok di mana. Tapi, kalau Abah punya kenalan, ya sudah, di sana saja," tutur Farid.
Atas buah dari perbincangan itu. Abah pun mengantarkan Farid meuju sebuah pondok pesantren milik kenalan Abah. Jaraknya sekitar 5 jam perjalanan dari rumah Abah ke pondok pesantren tersebut.
Farid sendiri sudah bertekad untuk berubah menjadi lebih baik dengan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruknya selama ini. Walau, jujur saja semua itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Namun, bukankah kehidupan adalah tentang sebuah proses? Jadi, jangan takut untuk menjadi lebih baik, meski jalannya terjal dan sulit.
***
"Sayang, kamu sudah siap?" tanya Daffa seraya mencium dengan secepat kilat pipi Andhira.
"Sudah, Mas," jawab Andhira sambil menyunggingkan senyum terbaiknya.
Hari ini, rencananya Daffa ingin mengajak Andhira pergi menemui Salamah dan juga Nindi. Mereka akan menyampaikan kabar bahagia mereka yang akan segera menjadi seorang ayah dan seorang ibu, sekalian makan bersama. Setelah drama rumah tangga mereka yang pelik dan tidak mengenakkan, tentunya kabar ini akan menjadi obat bagi segenap luka jiwa bagi keluarga Andhira.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Salamah. Daffa tak henti-henti menunjukkan binar kegembiraan di wajah tampanya. Begitu juga dengan Andhira, dia sangat bersyukur dan merasa diistimewakan oleh Daffa.
__ADS_1
"Mas, memangnya Mbak Nindi juga ada di rumah Ibu?" tanya Andhira di sela Daffa mengemudikan mobilnya.
"Ya, Sayang. Mas sudah mengabari Mbak Nindi kemarin siang," jawab Daffa.
"Oh, Mas tidak memberitahuku dulu?"
"Aku terlalu antusias untuk mengabarkan kebahagiaan ini, Sayang." Daffa tersenyum sekali lagi.
"Hmmm, sampai aku dilupakan," rajuk Andhira.
"Hihihi ... mana mungkin aku melupakan kamu. Bahkan, untuk sedetik saja aku tidak mampu melakukannya. Ingatanku tentangmu selalu segar tak pernah lekang oleh waktu."
Andhira senang mendengar hal itu. Dia menutupi wajahnya malu-malu sambil menyembunyikan senyumnya yang tak bisa dia tahan. Aah, Daffa selalu saja bisa membuat perasaannya terbang ke awang-awang.
"Ayo kita turun, Mas," ajak Andhira yang masih sedikit malu-malu. Tampak dari rona pipinya yang memerah.
Namun, Daffa menahan tangan Andhira kala dia sudah mau membuka pintu mobilnya. Dan hal itu membuat Andhira duduk dengan posisinya semula. "Ada apa sih, Mas? Kenapa Mas tidak membiarkan aku turun?" tanya Andhira seraya menatap Daffa penuh tanya.
"Aku ingin menyesap madu dari bibirmu dulu, Sayang." Tanpa menunggu persetujuan, Daffa langsung memagut bibir Andhira dengan rakus.
"Iihh, Mas ini. Kenapa menciumku di sini? Malu 'kan kalau nanti ketahuan," protes Andhira kala Daffa sudah melepaskan pagutan bibirnya. Andhira bicara sembari menekuk wajahnya sebal.
"Biarkan saja ketahuan. Memangnya kenapa? Kita 'kan sudah suami istri dan halal melakukannya," jawab Daffa santai.
"Menyebalkan!" ketus Andhira.
__ADS_1
"Hihihi .... Maafkan Mas, Sayang. Habisnya kamu menggemaskan. Aura cantikmu semakin memancar setelah kamu hamil," puji Daffa.
"Gombal!"
"Biar saja. Memang begitu 'kan."
"Biar Mas beritahu, kamu itu tidak boleh sombong," imbuh Daffa lagi.
"Sombong? Sombong bagaimana? Aku tidak merasa begitu," kata Andhira tidak terima.
"Ya, kamu sombong. Menolak kebenaran adalah perbuatan sombong. Baru saja kamu menolak kebenaran bahwa kamu memang menggemaskan dan semakin cantik saja. Itu artinya kamu sombong," papar Daffa dengan nada canda.
"Ya ampun. Bukan begitu konsepnya, Mas. Iiihh, Mas benar-benar menyebalkan." Andhira memukul-mukul pelan dada bidang Daffa.
"Tolong hentikan, Sayang. Jangan memancing naluri kelelakianku. Perbuatanmu ini menjadikan pusakaku menegang," ujar Daffa sambil melirik ke bagian bawah tubuhnya.
Andhira pun turut melihat ke sana. Lalu, dia menatap Daffa kembali. Dan mereka pun tertawa bersamaan.
"Sudah, ayo kita turun," kata Andhira mengulang ajakannya.
"Tidak, diamlah dulu di sini, biarkan aku membukakan pintu untuk Permaisuriku," tahan Daffa pada Andhira. Dia pun turun lebih dulu baru kemudian membukakan pintu untuk Andhira.
Kini, keduanya sudah masuk ke rumah Salamah dan disambut dengan pelukan hangat dari Nindi dan juga Salamah. Namun, ada kejutan lain yang ternyata sudah menanti dan turut menyambut mereka.
Bersambung ....
__ADS_1