IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 63 Membuka Pagi Dengan Sebuah Pelukan


__ADS_3

Pagi itu dinginnya udara merasuki kulit hingga menembus ke dinding jiwa. Ada sebuah pelukan dari dua tangan yang mendekap tubuh Daffa. Lalu, membelai perasaan Daffa dengan sekecup cium yang mendarat di keningnya. Mencetak senyum yang menghangatkan di tengah gigil yang mendera.


"Selamat pagi, Mas," ucap Andhira dengan kedua tangan yang masih melingkar di tubuh Daffa.


"Pagi juga, Cantik. Tumben ...."


"Tumben? Apanya yang tumben, Mas?" tanya Andhira sambil mengerutkan keningnya merasa heran.


"Pagi-pagi sudah kasih Mas peluk dan cium," jawab Daffa sambil menyunggingkan senyuman.


Wajah Andhira bersemu merah. Lalu, dia menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Memangnya sangat aneh, ya?" cetus Andhira sambil malu-malu.


"Hihihi ... ekspresi macam apa itu, hum? Apa kata-kata 'tumben' mengganggu pikiranmu?" tawa Daffa sembari mengangkat dagu Andhira dengan dua jari tangannya hingga pandangan mereka menjadi sejajar.


Andhira hanya diam membisu. Bibirnya kelu bagai terkunci dan sulit untuk berkata-kata. Daffa membaca kegugupan Andhira, dan dia pun berusaha mengurainya dengan sesapan manis di bibir indah itu.


"Aku senang saat kamu membuka pagiku dengan peluk dan cium seperti tadi. Kamu membuat aku bersyukur sekali lagi atas kesakitan dan luka di sekujur tubuhku ini," papar Daffa, sembari melihat pada luka-luka yang belum mengering dan masih terbalut kassa perban di beberapa bagian tubuhnya.


"Iihhh, gombal terus," lontar Andhira sambil mencubit manja sisi perut Daffa.


"Aaaw, sakit, Sayang. Kenapa kamu mencubitku?" rengek Daffa mengaduh.


"Siapa suruh jadi tukang gombal," jawab Andhira pura-pura ketus.


Lantas, Andhira merawat luka Daffa dengan membersihkan dan mengganti kassa perbannya. Di sepanjang waktu Andira mengurusinya, Daffa tidak henti-henti memperhatikan wajah cantik natural Andhira. Sesekali dia merekahkan senyuman yang lahir dari lubuk hati paling dalam.


"Ternyata benar, terkadang Tuhan menghendaki sesuatu yang kita benci terjadi pada kita, karena ada kebaikan di dalamnya. Mungkin, itulah sebabnya aku mengalami kecelakaan ini. Agar kemudian aku merasakan nikmatnya perhatian dan cinta dari istriku," batin Daffa.


***

__ADS_1


BRUGHH!!!


Farid membuka pintu kamarnya dengan sebuah bantingan yang kasar. Dia melepaskan kemeja dan menyisakan kaos berwarna putih yang masih melekat di tubuhnya. Kemudian, Lelaki berperawakan tinggi kekar itu membanting tubuhnya ke atas kasur.


"Arrrghh! Ini tidak bisa dibiarkan. Aku sudah banyak mengeluarkan uang untuk membayar orang, tapi semuanya selalu gagal," raungnya geram. Dia tidak terima melihat Daffa yang masih tampak bahagia, setelah dia melakukan beberapa fitnah kejinya pada Daffa dan juga Andhira.


Tok! Tok! Tok!


Pintu kamar Farid diketuk dari luar. Disusul dengan suara seruan dari Ummi-nya. "Farid, keluar dulu, Nak. Abah ingin bicara denganmu," tutur Ummi.


"Siaal!! Kenapa hidupku diliputi oleh orang-orang yang menyebalkan?" gerundal Farid sambil memukulkan tangannya ke tempat tidur.


"Farid! Kamu dengar Ummi 'kan?" ualng Ummi memastikan.


"Iya, Mi. Sebentar lagi Farid keluar," jawabnya tanpa membuka pintu.


Di ruang tamu, tampak Abah sudah duduk menunggu Farid. Sepertinya, ada kecemasan yang tersirat di wajah tuanya itu. Sembari menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, terlihat benar kalau Abah tengah memikirkan sesuatu.


"Maaf, Bah. Abah memanggil Farid?" sapa Farid dengan sangat sopan. Kalau dilihat dari sikapnya saat itu, tidak ada yang akan mengira bahwa Farid adalah seorang lelaki yang bengal.


"Farid ...," lirih Abah.


"Dari mana saja kamu, Nak? Kenapa tidak mengangkat telepon Abah?" lanjut Abah bertanya dengan sangat tenang.


"Maaf, Bah. Kemarin Farid sedang ada urusan pekerjaan di luar kota, dan di sana susah sinyal," terang Farid memberi alasan palsu. Abah manggut-manggut.


"Apa Abah perlu Farid untuk melakukan sesuatu?"


"Ya, kalau tidak keberatan, Abah mau kamu berkunjung ke rumah Daffa. Sudah hampir dua minggu sejak dia pergi ke Gorontalo, Abah belum mendengar kabarnya lagi. Abah khawatir dia kenapa-kenapa. Tolong ya, Nak!" pinta Abah.

__ADS_1


"Shitt! Hal inilah yang membuatku malas dan paling aku hindari, tapi Si Tua ini malah menyuruhku datang ke sana," umpat Farid di dalam hati.


"Bagaimana, Nak?" tanya Abah yang belum juga ditanggapi oleh Farid.


"Eemm, boleh, Bah. Tapi, mungkin Farid bisanya nanti malam," jawab Farid.


"Tidak apa-apa yang penting kamu pastikan kalau Daffa baik-baik saja," sambung Abah lagi.


"Baik, Bah.


Percakapan mereka pun ditutup dengan sebuah tepukkan lembut di punggung Farid dari Abah. Kemudian, keduanya kembali ke aktifitas masing-masing. Abah pergi ke toko tekstilnya, sedangkan Farid masuk ke dalam kamar.


"Merepotkan saja! Apa dia begitu mengkhawatirkan Daffa? Ya, tentu saja Farid. Bukankah Daffa anak kandungnya!" tandas Farid menggerundal dan memaki sendiri.


Masih dalam keadaan kesal, Farid menghubungi seseorang.


[Hallo, Vina .... Aku butuh kamu. Kita bertemu di hotel biasa,] ucap Farid langsung pada intinya.


Dari ujung telepon terdengar suara seorang wanita bernama Vina yang bicara dengan nada lembut. [Seperti yang kamu minta, Farid sayang,] tuturnya. Farid lalu menutup panggilan telepnnya begitu saja.


Ya, Vina adalah teman kencan Farid yang lain. Kebaikan dan sikap lembut Farid adalah topeng belaka. Dan itu hanya berlaku ketika dia sedang berada di hadapan Ummi dan Abah saja, sebagai upaya untuk menarik simpati ayah sambungnya yang tidak lain adalah Abah. Bukan karena dia tulus bersikap demikian.


Kurang dari satu jam kemudian, Farid sudah sampai di hotel yang dijanjikan. Sementara itu, Vina sudah menunggu di salah satu kamar hotel yang telah dipesan. Dia tampak sexyy dengan gaun hitam berbelahan dada rendah, yang menyembulkan kedua bukit kembarnya.


"Layani aku sekarang, Vina. Kepalaku sedang pusing," perintah Farid tanpa basa-basi lagi, saat dia sudah berada di kamar yang sama dengan Vina.


Vina yang sudah hapal dengan sikap Farid pun langsung melakukan tugasnya dengan sempurna. Hanya dalam waktu sekejap saja semua pakaian yang menempel di tubuh keduanya sudah berserakan teronggok di lantai. Begitulah, Farid memang selalu melampiaskan kekesalannya dengan mengencani para wanita.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2