IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 74 Kamu Di Mana?


__ADS_3

Hari demi hari Andhira dan Daffa lalui dengan banyak cinta dan sedikit warna cemburu dan seteru manja sebagai pemanis dalam rumah tangganya. Di bulan keenam kehamilannya, Andhira menjadi sangat manja, bahkan lebih manja dari sebelumnya. Hari ini dia sedang merajuk pada Daffa, karena cemburu pada salah seorang wanita yang menjadi karyawati di toko tekstil Abah. Masalahnya remeh, hanya karena Daffa memberi ucapan selamat siang pada wanita tersebut saat mereka berkunjung ke sana.


"Sayang, sudah, ya, marahnya. Mas janji tidak akan bicara lagi pada wanita lain siapa pun itu," ucap Daffa membujuk Andhira yang terus diam dan mengacuhkannya.


"Antarkan aku ke rumah ibu," pinta Andhira dengan nada datar karena masih kesal.


"Tapi 'kan kita masih harus menunggu Abah, Dhira. Abah ingin bicarakan sesuatu dengan Mas," terang Daffa.


"Antarkan aku sekarang! Lagi pula, Abah 'kan hanya ingin bicara pada Mas saja, tidak padaku juga. Setelah itu Mas kembali saja lagi ke sini. Biar bisa lebih leluasa menggoda wanita lain," ketus Andhira.


"Astaghfirullah, Sayang. Mana ada Mas menggoda wanita lain, itu tidak akan mungkin." Daffa mengelus dada.


"Ya sudah. Ayo antarkan aku ke rumah ibu, sekarang!" ulang Andhira dengan nada bicara yang ditekankan.


"Oke, Sayang, oke. Ayo ... aku akan mengantarmu." Mereka pun segera menuju ke mobil yang terletak di area parkir toko tekstil Abah tersebut.


Andhira kembali diam dan bersikap acuh pada Daffa selama perjalanan menuju ke rumah Salamah. Hatinya masih kesal pada Daffa gara-gara hal sepele tadi. Bahkan, dia tidak mau menoleh dan melihat wajah Suaminya itu.


"Aduuuh, rasanya tidak enak sekali didiamkan tanpa kesalahan begini," batin Daffa sambil sesekali melirik Andhira.


"Tapi mau bagaimana lagi? Permaisuriku sedang dalam suasana hati yang tidak baik," lanjutnya masih membatin.


Tidak berselang lama, Daffa memberhentikan mobilnya. "Sayang, kenapa aku dihukum atas kesalahan yang tidak aku lakukan?" protes Daffa sambil memelas.


Andhira tidak mengindahkan Daffa. "Kenapa berhenti?" ketusnya. Dia bahkan tidak menjawab pertanyaan Daffa kala itu.


"Kita sudah sampai, Sayang," jawab Daffa yang terus mengalah.


"Ooh! Ya sudah. Mas kembali saja ke sana," titah Andhira sembari membuka pintu mobil hendak turun.


"Apa tidak ada ciuman sayang untukku? Atau setidaknya sebuah pelukan?" rengek Daffa yang membuat Andhira kembali ke posisi duduknya semula.

__ADS_1


"Tidak ada! Hari ini Mas sangat menyebalkan, jadi tidak ada cium-cium apa lagi pelukan." Andhira pun bergegas turun dari mobil meninggalkan Daffa.


"Huuuft! Kenapa semenjak hamil istriku jadi sangat sensitif? Apa semua wanita seperti itu di masa kehamilannya?" gerundal Daffa seraya menghela napasnya dalam-dalam.


Kemudian, Daffa kembali lagi ke toko tekstil Abah, mengingat dirinya telah memiliki janji temu dengan Abah. Entah perihal apa yang akan Abah bicarakan, tapi kelihatannya sangat serius dan penting. Oleh sebab itu, Daffa berusaha untuk tetap menunaikan janjinya pada Abah, walau hatinya tengah gundah gulana akibat dicemburui Andhira yang teramat dia cintai.


Adhira mengetuk pintu rumah Salamah seraya mengucap salam. Lantas, suara jawaban pun terdengar dari dalam rumah. Beruntung, Salamah sedang tidak pergi ke luar saat itu.


"Dhira!" seru Salamah agak terkejut. Wanita paruh baya itu pun mengedarkan pandangannya seperti mencari keberadaan seseorang.


"Kamu datang dengan siapa, Nak?" lanjutnya bertanya, setelah mendapati tidak ada sesiapa yang bersama dengan Andhira.


"Dengan Mas Daffa, Bu," jawabnya lemas.


"Loh, di mana Daffa sekarang?" imbuh Salamah seraya mengerutkan dahi.


"Mas Daffa pergi menemui Abah dulu, Bu, terang Andhira.


"Ada apa, Nak? Kok wajahnya ditekuk begitu?" tutur Salamah dengan lembut.


"Tidak ada apa-apa, Bu. Dhira hanya sedang merasa bosan," alibi Andhira.


"Ya sudah. Kalau begitu, Ibu buatkan rujak buah segar, mau?" hibur Salamah agar Andhira tidak murung lagi.


"Hehehe, sepertinya enak, Bu." Andhira memberika jawban yang berarti setuju untuk dibuatan rujak buah segar oleh Salamah.


***


Di toko tekstil Abah. Daffa tengah berbincang dengan Lelaki paruh baya tersebut. Senang sekali rasanya melihat mereka sangat akrab dan penuh kehangatan.


"Begini, Daf. Abah 'kan sudah semakin tua. Sekarang saatnya Abah mengalihkan sebagian tanggung jawab usaha tekstil ini padamu. Sebagian lagi biar Farid yang menghandlenya, saat dia sudah kembali dari pesantren nanti," ujar Abah.

__ADS_1


"Tapi, Bah, Daffa 'kan masih menjalani bisnis kuliner bersama teman Daffa," kata Daffa menanggapi.


"Untuk kali ini Abah mohon, Nak. Pada siapa lagi Abah harus mempercayakan usaha keluarga kita ini kalau bukan pada anak-anak Abah?," paparnya.


Daffa tertunduk sembari berpikir sejenak. "Baiklah, Bah. Akan Daffa usahakan untuk bicara dengan partner Daffa," jawab Daffa pada akhirnya. Abah tersenyum senang mendengar keputusan Daffa tersebut.


Ya. Selama ini Daffa memang menjalani bisnis kuliner bersama salah seorang temannya. Akan tetapi, dia tidak pernah bercerita pada Andhira mengenai hal itu. Sehingga Andhira hanya tahu bahwa Daffa bekerja sebagai seorang karyawan di sebuah perusahaan. Namun, pada kenyataannya, Daffa adalah salah satu owner dari bisnis yang didirikannya bersama temannya tersebut. Itulah mengapa, dia terbilang leluasa mengambil sebuah cuti dan izin untuk tidak datang ke pekerjaannya, karena mereka memang sudah memilki beberapa tenaga kerja yang membantu menghandle outletnya.


Calon Ayah dari bayi yang dikandung Andhira itu pun lantas berpamitan pada Abah, usai menyelesaikan pembicaraan mereka. Keduanya saling memberi peluk sebagi salam perpisahan. Kemudian, Daffa dengan cepat melajukan mobilnya untuk menyusul Andhira ke rumah ibu mertuanya.


"Bagaimana mungkin aku bisa jauh-jauh darimu, Dhira. Sedangkan hatiku terasa begitu hampa, padahal baru beberapa jam saja kita tidak bersama. Mungkin karena kamu sedang merajuk, mangkanya aku terus gelisah memikirkanmu," gumam Daffa sambil menyalakan kemudinya.


Daffa sampai di rumah Salamah dengan waktu lebih cepat dari seharusnya. Dengan sangat terburu-buru, dia masuk ke rumah Salamah untuk menemui Kekasih Halalnya tersebut. Namun, Daffa dirundung kekecewaan kala Salamah mengatakan bahwa ....


"Dhira sudah pulang sejak tadi, Nak Daffa. Katanya dia ingin memasak untuk makan siang," papar Salamah.


"Dia pulang naik apa, Bu?" tanya Daffa penuh kekhawatiran.


"Naik taksi, Nak."


Tanpa basa-basi lagi, Daffa langsung menyalami tangan Salamah dan berpamitan untuk pulang ke rumahnya. Hati Daffa tak tenang mendapati hal itu. Dia takut terjadi apa-apa pada Andhira dan calon bayinya.


"Kenapa kamu melakukan semua ini, Sayang?" gerundal Daffa dibarengi kemelut yang meresahkan jiwanya. Dia kembali melesakkan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Setengah jam waktu ditempuhnya, kini Daffa pun tiba di rumahnya. Dengan perasaan yang campur aduk dia segera masuk dan menyeru nama Andhira. Dia terus berjalan menyusuri setiap ruangan rumahnya.


"Dhira! Sayang! Di mana kamu?" teriak Daffa mencari jawaban dari keberadaan Andhira.


Lantas, Daffa pergi mengecek dapur. Akan tetapi, Andhira juga tidak ditemukan di sana. "Dimana kamu, Sayang? Semarah itukah kamu padaku?" tutur Daffa sambil terisak.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2