
Sepulang dari rumah Daffa. Farid mengurungkan niatnya untuk langsung pulang. Dia memilih mengukur jalanan dengan mengemudikan mobilnya tanpa arah dan tujuan, sambil membawa sejuta kekesalan dan amarah dalam dirinya. Sesekali dia berdecak sebal mengingat kata-kata Daffa yang membuatnya kalah telak. Tiba-tiba saja, dia melihat Shella yang sedang berjalan kaki menyusuri jalanan kota yang sudah mulai sepi dari lalu lalang kendaraan.
"Shella! Sedang apa dia di sini dan di waktu selarut ini?" gerundal Farid.
Dia pun menepikan mobilnya, lalu membuka kaca jendelanya. "Shella!" seru Farid. Wanita itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Farid.
"Mau apa lagi Lelaki arogan ini?" cicit Shella.
"Masuk!" perintah Farid seakan Shella adalah bawahan yang bisa dia suruh-suruh sesuka hatinya.
"Tidak mau!" jawab Shella ketus.
"Shiitt! Apa dia sedang mencoba untuk menolakku? Tidak, ini tidak boleh terjadi." Farid langsung turun dari mobil dan memaksa Shella untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Lepaskan aku, Farid. Apa kamu sudah gila? Aku tidak mau ikut denganmu. Kamu sudah lupa, ya? Kemarin kamu menurunkanku begitu saja," oceh Shella memberontak.
"Aku tidak perduli tentang kemarin, Shella. Yang aku mau sekarang kamu ikut denganku!"
"Biadaab! Laki-laki macam apa dirimu itu, huh? Dasar tidak punya perasaan," maki Shella dengan posisi kedua tangannya dipegangi sangat erat oleh Farid.
__ADS_1
Farid tidak mengindahkan semua hardikan Shella terhadapnya. Dia tetap menyurung tubuh Shella hingga masuk ke dalam mobilnya. Selekas kemudian, dia melajukan kemudinya dengan kecepatan tinggi.
"Pelan-pelan, Farid. Dasar gila! Aku tidak mau celaka," sungut Shella.
"Diam!" tandas Farid tanpa menoleh. Dia membawa Shella ke sebuah jalanan gelap dan sepi.
"Di mana ini? Apa yang kamu inginkan dariku? Kenapa kamu membawaku ke sini, Farid?" sentak Shella, yang justru membuat Farid semakin menjadi.
Sesampainya di jalan yang benar-benar sepi. Bahkan, lebih sepi dari sebelumnya. Farid menghentikan mobilnya secara mendadak dan nyaris membuat kepala Shella terbentur ke dashboard mobil. Beruntungnya, dia sudah memakai sabuk pengaman sehingga tubuhnya tertahan dan menyelamatkannya.
Tatapan penuh amarah dari keduanya pun saling bertemu. Sebagai wanita yang notabene mengedepankan perasaan, jujur saja Shella masih sangat sakit hati atas perbuatan Farid padanya tempo hari. Namun, bertolak belakang dengan Farid yang hanya mementingkan egonya tanpa mengingat kesalahannya. Yang dia pikirkan hanyalah bagaimana caranya memuaskan diri.
"Ciihh! Aku memang menyukaimu, Farid. Tapi bukan berarti kamu bisa memperlakukanku sesuka hati. Buka pintu mobilnya! Aku tidak sudi bersama denganmu lagi.
"Hahaha ... kau sangat marah padaku rupanya. Aku bisa saja menurunkanmu di sini, Shella. Tapi, apa kamu tidak takut, huh? Jalanan ini sangat sepi dan jarang sekali ada orang yang lewat. Bagimana kalau ada binatang buas yang memangsamu," kata Farid dengan senyuman licik.
"Aarrrgghh! Siaaal," cerca Shella mendengus kesal.
"Sudah aku katakan, Shella sayang. Sekarang kamu tidak punya pilihan lain selain melayaniku." Farid langsung membuka zipper celananya dan membimbing tangan Shella untuk memanjakannya.
__ADS_1
Tidak munafik, Shella pun sebenarnya tidak keberatan melakukan semua itu asalkan Farid tidak semena-mena padanya. Dan akhirnya, saat itu Shella pun hanya bisa pasrah melayani hasrat Farid. Sampai keadaan berbalik dan Shella yang meminta pada Farid.
"Ciihh! Sekali jalaang tetaplah jalaang. Akhirnya kamu juga yang lebih menginginkannya dari pada aku, Shella," hardik Farid dengan suara yang parau dikuasai gairah.
Makian itu sangat menyakitkan, tapi juga membuat Shella justru semakin bergairah. "Please, Farid! Jangan buat aku tersiksa," mohonnya ingin disentuh lebih dalam lagi.
***
Di rumah Abah. Kala itu dia masih terjaga. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Abah, apa Abah tidak istirahat? Ini sudah hampir dini hari. Nanti abah sakit kalau tidak tidur dengan cukup," papar Ummi yang terbangun dan melihat Abah masih saja belum tidur.
"Tidak apa-apa, Mi. Abah hanya sedang memikirkan Daffa. Farid juga belum pulang dan memberi kabar tentang keadaan Daffa. Abah takut sesuatu yang buruk sudah terjadi pada Daffa. Karena ponselnya belum bisa dihubungi sampai saat ini," ungkap Abah.
Ummi meringsut duduk dan mengelus pelan lengan Abah. "Sabar ya, Bah. Ummi yakin kalau Farid akan memberikan kabar baik saat dia pulang nanti," tutur ummi menghibur Abah.
"Abah harap juga begitu, Mi." Lantas, Abah tersenyum kepada Ummi.
Bersambung ....
__ADS_1