IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 61 Obati Aku Dengan Kehangatanmu


__ADS_3

Malam semakin larut. Nindi dan Adi berpamitan untuk pulang pada Andhira. Meski sebenarnya mereka tidak tega, tapi Adi harus pergi keesokan harinya ke luar kota untuk bekerja, dan hal tersebut membuat Nindi harus menyiapkan segala keperluannya. Jadi, mau tidak mau mereka harus meninggalkan Andhira sendirian menjaga Daffa.


"Kamu tidak apa-apa 'kan ditinggal? Apa perlu Mbak hubungi Ibu biar menemani kamu di sini?"


"Tidak apa-apa, Mbak. Tolong jangan beritahu ibu sekarang. Dhira tidak ingin Ibu khawatir."


"Oke, Sayang." Nindi memeluk Andhira sebagai salam perpisahan sebelum akhirnya pergi bersama Adi.


Kini, tinggal Andhira sendirian berteman Daffa yang tidak sadarkan diri. Dia menyeret kursi khusus untuk menjaga pasien dan duduk tepat di sisi bed pasien Daffa. Netranya melekatkan pandangan pada wajah Suaminya yang berbalut perban di kepala.


"Mas, aku tidak bisa tidur malam ini. Tidakkah kamu ingin bertanya padaku?" tutur Andhira lirih. Dia menangis dalam senyuman. Merasakan perih hati yang mengiris di dalam dadanya.


"Semudah itukah kamu lupa pada kata-katamu sendiri, Mas?"


"Bukankah, waktu itu kamu sendiri yang berkata 'jangan pernah lelah dalam berjuang untuk memepercayaimu'. Lalu, kenapa setelah aku berjuang, malah kamu yang tidak percaya dan tidak mau mendengar kata-kataku, Mas?"


"Mas, aku di sini. Aku janji, malam ini dan malam-malam berikutnya, kita akan tetap tidur bersama. Saling memeluk berlama-lama. Bukankah itu yang Mas mau?"


Hujan air mata itu kembali terjadi, usai mendung yang menyelimuti wajah Andhira. Tiba-tiba saja, dia merasa sangat putus asa. Rambutnya mulai dia remaas keras seperti biasa saat fase depresinya datang.


"Obatku ...," lirihnya. Dia pun langsung mengambil butiran obat yang ada di dalam tas, kemudian meminumnya.


Tidak lama, Andhira kembali tenang dan mulai bisa mengontrol diri. Pikirannya terlalu lelah. Dia pun lalu tertidur beberapa saat setelah itu. Dalam keadaan duduk di kursi dan kepala berada di sisi bed pasien Daffa. Lengkung tangan dan jemari lentik itu melingkar ke tubuh Lelaki yang masih terbujur tak berdaya tersebut.


Daffa membuka mata sambil menggerakkan tangan dan kakinya yang terasa kaku. Dia membuka matanya, lalu tersenyum melihat Andhira yang setia menjaganya hingga tertidur. Dielusnya lembut pucuk kepala Andhira dengan jemari tangan yang masih terasa nyeri saat digerakkan.


"Ternyata sesakit ini mencintaimu, Dhira. Aku harus rela terluka dulu hanya untuk mendapatkan sebuah kebenaran. Dan ternyata, semua usahaku tidaklah sia-sia. Aku sudah mendengar semuanya."


Ya, Daffa memang mengalami banyak luka-luka termasuk di bagian kepalanya. Tentang semua itu Daffa tidak pura-pura. Akan tetapi, perihal ketidak sadarannya ... dia itu tidak sepenuhnya benar. Karena sebenarnya, Daffa sudah siuman beberapa jam setelah mendapat penangan dari dokter.


***


Keesokan paginya, Andhira terbangun dan dia merasaka sesuatu di atas keplanya. "Mas Daffa ... apa dia sudah sadar? Kenapa tangannya ada di kepalaku?" batin Andhira sembari melihat ke sekujur tubuh Daffa yang tampak tidak bergerak. Dia mengerutkan dahinya merasa binging.


"Kalau tidak bergerak sendiri lalu siapa yang meletakkan tangan Mas Daffa di kepalaku?" batin Andhira dipenuhi tanya.


"Mas ...," lirih Andhira sambil meraih tangan Daffa dari atas kepalanya dan meletakkan ke sisi tubuh Daffa.


Daffa pura-pura belum sadar. Dia masih ingin melihat bagaimana reaksi Andhira selanjutnya. "Ayo, Dhira. Katakan lagi kalau kita akan selalu bersama dan memeluk satu sama lain," harap Daffa di dalam hati.


Namun, setelah beberapa saat. Suara Andhira hilang tak terdengar lagi. "Kenapa sepi sekali? Apa dia pergi?" batin Daffa yang masih menunggu kata-kata indah dari mulut Andhira, tapi rupanya Andhira malah tidak ada di sana.


Dia bergerak untuk duduk. "Aakh," pekik Daffa merasakan sakit di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Wajah Daffa masih terus meringis. "Aku tidak suka rasa sakit ini, tapi demi mendengar lagi ucapan manis dari mulut istriku tak apa, aku akan berusaha menahannya," gerundal Daffa.


"Mas, kamu sudah sadar? Syukurlah ... aku merindukan kamu, Mas." Andhira muncul dengan tiba-tiba dari arah kamar mandi.


Sontak saja Daffa diam membeku. Dia berpura-pura biasa saja. Padahal, hatinya dag-dig-dug tidak karuan. Hanya saja, dia sengaja ingin merasakan kerinduan-kerinduan semacam itu, atau kata manis lainnya yang hadir dari mulut Andhira yang memanjakan telinga.


"Awww," pekik Daffa menunjukkan kesaitannya. Seolah meminta diperhatikan oleh Andhira.


"Sakit ya, Mas? Di mana yang sakit?" kata Andhira dengan kepanikan yang membuat Daffa tersanjung.


"Di sini." Daffa menunjuk bagian dada dengan dagunya, lalu mengarahkan tangan Andhira untuk menyentuhnya di sana.


"Apa ini maksudnya Mas Daffa masih sakit hati dan cemburu padaku?" batin Andhira penuh tanya.


"Mas, soal buket bunga itu-"


"Sudahlah, Dhira. Aku tidak ingin mendengar tentang itu lagi!" pungkas Daffa.


"Tapi, aku tidak mau kamu salah paham dan menuduhku macam-macam. Mas tahu tidak, rasanya dipaksa mengakui apa yang tidak kita lakukan? Itu menyakitkan, Mas." Andhira mengadu sambil memasang wajah sedihnya.


"Bukankah kamu senang kalau aku salah paham, lalu pergi meninggalkanmu?" lontar Daffa bernada datar.


"Apa maksudmu, Mas? Kamu pikir semudah itu merelakan orang yang kita sayang?" ketus Andhira.


"Bukti apa yang kamu punya untuk meyakinkanku? Kalau hanya sekedar kata-kata saja, semua orang juga bisa." Daffa berakting lagi.


"Memangnya kejujuranku tidak cukup membuktikan? Mas ini jahat sekali," rajuk Andhira.


"Ayo cium aku, Sayang. Aku ingin kamu melakukannya duluan. Selama ini selalu saja aku yang menciummu," batin Daffa penuh harap.


Entah keajaiban apa yang terjadi. Akan tetapi, Andhira seolah mendengar keinginan yang terpendam di dalam hati Daffa. Pertama-tama dia menatap mata Daffa dengan tatapan sayu bak merindukan sesuatu. Selekas kemudian, bibir lembutnya sudah mendarat di permukaan bibir Daffa, dilanjutkan dengan sesapan yang sangat lembut dan menggetarkan jiwa.


Sontak saja Daffa membelalakkan matanya. Dia tidak mengira keinginan hatinya akan terwujud secepat itu. Dia pun mendorong kepala bagian belakang Andhira sehingga ciuman mereka menjadi lebih dalam.


"Shiiitt! Dia selalu berhasil menegangkan pusakaku, padahal aku sedang dalam keadaan sakit begini," bisik hati Daffa memaki.


Detik berikutnya, Andhira melepaskan ciumannya. Lalu, dia menutupi wajah dengan kedua tangannya. Mungkin dia merasa malu. Bibirnya terasa tebal akibat ciuman panasnya bersama Daffa. Kalian tahu tidak? Bermesraan setelah bertengkar itu sensasinya sangat berbeda.


"M-mas, aku mau pergi du-"


"Mau kemana, Sayang? Tetaplah di sini! Aku membutuhkanmu," rayu Daffa memohon. Sebuah senyuman yang sangat indah terbit dari bibirnya.


"Apa di pipimu ada kelopak mawar?" tanya Daffa sambil meneliti permukaan wajah Andhira.

__ADS_1


"Ha? T-tidak, Mas. Kelopak mawar dari mana?" jawab Andhira gugup.


"Hemm, tidak ada, ya? Lantas, kenapa pipimu bersemu merah?" sambung Daffa lagi dengan nada menggeoda.


"Iihh! Mas membodohiku, ya? Jahat!" rengek Andhira manja.


"Hihihi ... aku suka melihatmu salah tingkah. Apa lagi kalau ...."


"Kalau apa, Mas? Jangan berpikir macam-macam, ya!" tandas Andhira menyelah kalimat Daffa.


"Biarkan saja, lagi pula sama istri sendiri 'kan boleh macam-macam," ledek Daffa menggodai Andhira, sembari tersenyum nakal.


"Mas ini! Sedang sakit saja masih menyebalkan," lontar Andhira.


Daffa menarik lengan Andhira hingga tubuhnya terbawa merapat pada Daffa. "Obati aku dengan kehangatanmu, Sayang."


"Mas, tapi ini 'kan di rumah sakit. Bagaimana kalau ada yang memergoki kita?" tahan Andhira.


"Ya, itu derita mereka."


"Mas nakal!" cela Andhira, sambil beranjak meninggalkan Daffa.


"Sayang, mau kemana?" rengek Daffa manja.


"Cari sarapan di luar dulu, Mas. Aku tidak yakin kamu akan menyukai makanan rumah sakit," terang Andhira.


Daffa tersenyum lega. "Kalau begini caranya, tidak sia-sia aku terluka dan mobilku rusak," gumam Daffa setelah Andhira meninggalkan ruangan. Dia teramat senang mendapatkan semua perhatian dari Andhira.


***


Di kamar hotel yang sama, Farid masih menikmati kebersamaannya dengan Shella. Dia sama sekali tidak tahu bahwa perbuatannya justru menghadirkan kebahagiaan lain bagi Daffa juga Andhira. Sehingga Lelaki itu tampak masih merayakan kemenangannya.


[Dering telepon berbunyi.]


"Farid, ponselmu berbunyi," ucap Shella memberitahu.


"Lihat saja! Siapa yang berani mengganggu kesenanganku?" ujar Farid, memerintahkan Shella untuk melihat panggilan masuk tersebut.


"Abah!" ungkap Shella sambil menunjukkan layar ponsel yang berdering tersebut.


"Siaaal! Mau apa orang tua itu?" desisnya tak suka dan merasa terganggu.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2