IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 50 Terbakar Cemburu


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal psikoterapi Andhira. Dia akan mengunjungi dr. Chatra, psikiater yang menangani dirinya. Semuanya sudah disiapkan oleh Daffa.


"Sarapan dulu, setelah itu bersiap," titahnya sembari mengelus lembut pucuk kepala Andhira.


"Terima kasih, Mas," ucap Andhira.


"Sama-sama, Sayang," balas Daffa dan mereka pun sarapan bersama.


"Mas ...," seru Andhira lirih di sela waktu sarapan mereka.


"Ya, ada apa?"


Andhira menunduk diam, lalu mengangkat kembali wajahnya dan bertanya. "Apa Mas tidak lelah menghadapi aku?" katanya sambil menatap Daffa.


Daffa menaikkan alis matanya dan menghela napas lembut. "Sayang, jangan pikirkan apa pun. Kamu hanya perlu bersemangat agar cepat pulih, ya," tutur Daffa menanggapinya dengan santai.


"Tapi, Mas ... Aku tidak memaksamu bertahan. Jika kamu merasa lelah, kamu boleh memilih untuk per ...."


"Dhira! Mas tidak mau mendengar hal semacam ini. Kenapa kita tidak berjuang sama-sama saja ketimbang membicarakan hal-hal yang membuat kepikiran?!" tandas Daffa menyela kalimat Andhira dengan menekankan nada bicaranya.


Andhira memejamkan matanya mendengar Daffa seperti itu. "Maafkan aku, Mas," ucapnya pelan seperti orang ketakutan.


"Sayang, maaf ... aku tidak bermaksud menakutimu, tapi tolong jangan lemahkan perjuanganku, humm."


CUP!


Daffa memberi kecupan penenang di kening Andhira. Sepertinya, Lelaki itu mulai peka sekarang. Terbukti dari kesigapannya menyadari kata-katanya sendiri saat ucapan yang membuat Andhira tak nyaman.


"Habiskan sarapannya, kita akan menemui dr. Chatra, oke!"


"Baik, Mas," jawab Andhira patuh.


***


"Bagaimana perasaanmu, Dhira?" ucap dr. Chatra saat Andhira sudah sampai di sana.


"Baik," jawabnya singkat.


Daffa hanya menunggu di luar dan mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Matanya tidak lepas dari pengawasannya terhadap Andhira. "Sok tampan sekali dr. Chatra itu!" gerundal Daffa sambil tersenyum tidak simetris.


"Apa-apaan! Dia bertingkah sok akrab dengan Istriku ... Huuh!" sambung Daffa mendengus tak kesal.

__ADS_1


Lelaki itu tampak tidak senang melihat Andhira berbincang dengan pria lain meski hanya sebatas keperluan psikoterapi. Tentu saja, seorang psikiater akan melakukan pendekatan dengan pasiennya guna mempermudah mendapatkan informasi dan mengetahui kondisi untuk menunjang penanganan terhadap si pasien. Tapi, hal itu tidak disadari oleh Daffa yang kelihatannya sedang terbakar oleh rasa cemburunya.


Berulang kali Daffa mencengkeram rambut dan mengusap wajahnya dengan kasar. Dia juga memijat-mijat dagunya seolah tidak tenang. Kakinya tak diam dan terus berjalan kesana kemari seperti orang yang gelisah. Hingga setelah beberapa saat kemudian, Andhira pun keluar dari ruangan itu.


"Dhira," sergah Daffa sembari mengecek seluruh bagian tubuh Andhira.


"Kenapa, Mas?" tanya Andhira bingung.


"Kamu tidak apa-apa 'kan? Apa yang dilakukan dr. Chatra itu padamu?" selidik Daffa.


"Memangnya apa, Mas? Dia hanya menanyaiku mengenai beberapa hal.


"Oke, tunggu di sini! Aku akan bicara dengannya," tukas Daffa, lalu masuk ke ruangan dr. Chatra yang kala itu memang sedang menunggunya untuk membahas perihal Andhira.


"Apa kabar, Pak Daffa?" Sambut ramah dr. Chatra pada Daffa.


"Biasa saja, dr. Chatra! Bagaimana kabar Anda?"


"Apakah sangat senang setelah bertingkah sok akrab dengan istriku?" lanjut Daffa di dalam hati.


"Saya baik, Pak Daffa."


"Tentu saja," balas Daffa sarkas.


"Semoga secepatnya, Pak. Namun, perlu diketahui ... Kasus seperti ini tidak semudah itu disembuhkan. Ada proses panjang yang perlu ditempuh dan harus didukung dengan berbagai hal yang mendorong kesembuhannya. Sebaiknya, lebih sering membiarkan Dhira melakukan hal-hal yang digemari akan sangat membantu dalam pengalihan emosinya," papar dr. Chatra menjelaskan.


Obrolan pun berlangsung hingga 15 menit lamanya di antara Daffa dan dr. Chatra. Sementara itu, Andhira masih duduk menunggu Daffa sembari melamun. Selekas kemudian, Daffa pun keluar dari ruangan itu.


Tatapan mereka bertemu. Daffa menatap cemas, sedangkan Andhira menatap penuh tanya. Lalu, Daffa mengangguk dan mengisyaratkan untuk pergi dari sana menuju ke parkiran mobil.


Dalam perjalan pulang kali ini, Daffa tidak seperti biasanya. Dia lebih banyak diam seakan enggan bicara pada Andhira. Begitu pun dengan Andhira, dia hanya fokus meluruskan pandangannya ke depan dan tidak bergeming.


"Kenapa dia tidak bertanya padaku? Apa dia tidak ingin tahu kenapa aku diam saja? Entah kapan hatinya yang sebeku gunung es itu akan mencair. Mungkin nanti setelah ditabrak oleh kapal pesiar seperti di film Titanic, barulah dia akan mencair," oceh Daffa di dalam hati.


Tiba-tiba saja Daffa menepikan mobilnya di jalanan yang sepi. Andhira menoleh ke arah Daffa dengan tatapan heran. Raut wajah Lelaki itu menyiratkan kegusaran yang teramat dalam.


"Ada apa, Mas? Kenapa berhenti di sini? Bukankah jarak rumah kita masih jauh" tanya Andhira.


Daffa meremmat jemari tangannya. "Tidakkah kamu ingin menanyakan hal yang lain?" batin Daffa berharap.


"Mas?" imbuh Andhira masih menanti Daffa untuk menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


Namun, Daffa malah menarik tubuh Andhira hingga duduk di atas pangkuannya. Andhira jelas terkejut dengan sikap Daffa yang demikan. Tidak ada penjelasan tahu-tahu sudah seperti itu.


"Kenapa, sih, Mas? Ada apa?" lontar Andhira ketakutan.


Daffa mencengkeram lembut kedua belah pipi Andhira. "Kamu hanya milikku, Dhira. Aku tidak suka melihat lelaki lain dekat denganmu!" tandas Daffa.


Andhira hanya pasrah dan semakin kebingungan. "Siapa lelaki lain yang kamu maksud, Mas? Aku tidak punya hubungan dengan lelaki lain," elak Andhira yang tak merasa.


"Lalu, dr. Chatra! Bukankah dia tampak sangat dekat denganmu? Hingga dia lebih banyak tahu tentang dirimu lebih dari aku," beber Daffa.


"Mas ... sebenarnya kamu kenapa? Kamu juga tahu 'kan kalau hubunganku dengan dr. Chatra tidak lebih dari sekedar pasien dan psikiater?" ungkap Andhira.


"Tapi aku tetap tidak suka dengan sikapnya yang sok akrab denganmu. Aku cemburu!" akui Daffa sambil melepaskan tangannya dari pipi Andhira.


"Lantas apa maumu, Mas? Haruskan aku berhenti melakukan psikoterapi dan tetap dengan kondisi ini?" tutur Andhira.


"Shittt! Apa yang sudah aku lalukan?" ujar Daffa merutuki perbuatannya.


"Maafkan aku, Sayang. Sungguh, aku tidak bisa mengendalikan rasa cemburuku," kata Daffa dan membiarkan Andhira duduk kembali di kursinya.


"Jangan membuatku bingung, Mas. Kalau begini caramu, aku bisa semakin tidak betah berjuang," batin Andhira.


Di sisi lain, Daffa masih saja cemas dan takut Andhira akan terpikat pada dr. Chatra. Tampaknya dia benar-benar dikuasai api cemburu yang sebenarya tidak perlu. Lelaki itu berusaha sekuat tenaga untuk mengontrol dirinya.


"Dhira ...," lirih Daffa seraya meraih tangan Andhira, lalu menciumnya dengan segenap rasa.


Andhira menoleh dengan mimik wajah datar. Hanya mata sendu yang memancarkan keraguan. Tidak ada kata yang terucap dari mulutnya lagi, walau Daffa ingin sekali mendengar Andhira mengatakan sesuatu.


"Katakan padaku bahwa kamu tidak akan membiarkanku disiksa cemburu, Dhira. Jangan hanya diam seakan kamu rela semua ini menimpaku. Belum cukupkah kamu menyiksaku dengan sikap dinginmu itu?"


Hati Daffa terus saja menguraikan kegundahannya.


Bersambung ....


Oh ya, teman-teman. Othor launching novel baru, nih dengan judul ESMERALDA CANDUKU. Jangan lupa baca setelah berhasil rilis nanti, ya. Love u all. ❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


Blurb : "Jangan coba merayuku dengan ketampanan dan uang, karena aku tidak butuh semua itu! Yang utama bagiku adalah integritas tinggi dari seorang pria, bukan tingkah menye-menye yang menyebalkan. Sekali lagi, jangan mengandalkan tampang dan harta di hadapanku!"


Esmeralda (21 tahun), tidak pernah menyangka bahwa pria yang ditemuinya di gedung tua saat dia tersesat ternyata menaruh hati padanya. Pria itu bernama Maheer (29 tahun), telah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap sosok Esmeralda yang cantik, bersuara merdu, memikat dan penuh pesona. Hingga berbagai cara pun dilakukan untuk menaklukkan gadis pujaannya tersebut.


Akankah Esmeralda luluh dan membalas cinta Maheer?

__ADS_1



__ADS_2