
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamar diketuk oleh Nindi. "Dhira, Daffa, makan siang sudah siap. Ibu sudah menunggu di meja makan," seru Nindi pada keduanya.
Namun, tidak ada satu suara pun yang menyahuti. Kedua insan yang ada di dalam kamar itu masih terengah-engah mengatur napasnya usai bertempur. Karena Nindi berpikir bahwa mereka sudah dewasa dan lagi suami istri, akhirnya dia hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya seolah mengerti sesuatu.
"Kalau saja menurut pada egoku, rasanya aku ingin menghajarmu karena sudah membuat adikku menderita, Daffa. Sayangnya, kalian masih terikat dalam pernikahan yang sah. Jadi, apa mau dikata? Kurasa di dalam sana sedang terjadi peperangan yang begitu panas," gerundal Nindi sembari berbalik menuju meja makan.
"Loh, Nak ... di mana adikmu dan suaminya?" tanya Salamah.
"Entahlah, Bu. Biarkan saja dulu. Mungkin mereka sedang bicara, atau mungkin juga ketiduran di kamar," jawab Nindi.
"Huuuh, kalau begitu kita makan duluan saja, Nak," ajak Salamah. Nindi mengangguk patuh.
Mereka pun menikmati santap siangnya tanpa Andhira dan Daffa. Salamah sudah tidak sabar ingin mengetahui hasil pemeriksaan Andhira tadi. Namun, Nindi menahannya dan akan bercerita sekaligus di hadapan Daffa, agar Lelaki itu juga mengetahui kondisi yang dialami Andhira.
Melihat pada keadaan di dalam kamar Andhira. Daffa sedang membujuk Wanita itu untuk ikut pulang bersmanya. "Dhira, kumohon ... pulanglah bersamaku ke rumah kita, Sayang. Aku tidak sanggup melewati malam tanpa hadirmu."
"Sebaiknya aku tetap di sini, Mas. Aku khawatir akan merepotkanmu. Biarkan aku di sini saja," tolak Andhira bersikukuh.
"Tidakkah kamu rindu padaku, Dhira?" tanya Daffa dengan wajah sedih.
__ADS_1
Andhira menatap kepada Daffa. "Bukan tidak rindu, tetapi aku selalu merasa sakit setiap kali memikirkan tentang dirimu, Mas. Rinduku adalah kesakitan, cintaku adalah luka, dan harapanku adalah serpihan hati yang telah hancur," papar Andhira.
"Dhira ...."
"Bagaimana mungkin kamu mengharapkan bahwa aku merindukanmu, Mas. Sementara, ada rasa sakit di setiap kali aku mengenangmu," selah Andhira memotong kalimat Daffa.
Daffa meneguk salivanya dengan kasar. Dia mencoba meresapi rasa sakit yang Andhira alami. "Bagaimana dengan bermain hujan bersama? Apa kamu juga tetap merasa benci mengingatnya?" cetus Daffa. Andhira mengangkat wajah, lalu menunduk kembali.
"Aku selalu melihat bayanganmu menari di bawah hujan, aku melihatmu mengulum senyuman, aku mendengar lirih suaramu yang menyambutku setiap kali aku datang. Dan aku sakit saat menyadari, ternyata semua itu hanyalah angan-anganku saja." Daffa meratap mengenang kesepiannya saat tidak bersama Andhira.
"Andai saja kata-kata itu aku dengar sedari dulu, Mas. Saat aku sangat mengharapkan cintamu hadir menyentuh perasaanku. Bukan saat ini, ketika dinding jiwaku telah koyak dan mustahil untuk kembali utuh dengan mudah."
"Serapat itukah kamu menutup pintu hatimu untukku, Dhira?"
"Lagi pula, aku tidak yakin kamu akan mampu bertahan bersamaku setelah kamu mengetahui kondisiku saat ini," lanjut Andhira.
"Tidak akan ada yang merubah perasaanku padamu, meski apa pun yang terjadi, Dhira."
"Jangan terlalu yakin, Mas. Bukankah sebelumnya kamu juga pernah mengatakan hal yang sama? Kamu pernah berkata bahwa aku bukanlah istri yang kamu harapkan, kamu juga pernah menegaskan bahwa kamu tidak akan mencintaiku dan selamanya aku hanyalah pakaian kusut bagimu. Aku yakin kamu masih mengingatnya. Lalu, sekarang kamu ingin aku percaya kalau perasaan cintamu tidak akan berubah setelah kamu mengetahui kondisi kejiwaanku yang sebenarnya? Huuh, bahkan untuk memimpikannya saja aku tidak berani, Mas."
"Dhira, haruskah semua perasaanku saat ini dikaitkan dengan dosa-dosa dan kesalahanku di masa lalu?"
__ADS_1
"Sebenarnya tidak perlu, Mas. Aku juga tidak ingin terus mengingatnya, tapi mau bagaimana lagi? Melupakan kesakitan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan."
"Tapi, Dhi ...."
"Sudahlah, Mas. Jangan berdebat denganku. Sebaiknya kamu persiapkan saja dirimu untuk hal-hal besar yang akan terjadi nanti."
JLEP!
Seketika hati Daffa terasa nyeri bagai teriris mata pisau yang berkarat. Kata-kata Andhira seakan mengancam dan memathkan harapanya. Selain itu, Daffa juga merasa bahwa Andhira menutup jalan bagi Daffa untuk menujunya.
"Dhira, andai kamu tahu betapa remuknya perasaanku, akankah kamu melontarkan kalimat penolakkanmu itu berulang kali? Ougghh ... ini rasanya seribu kali lebih sakit dibandingkan dengan sebilah pedang yang menusuk tepat di jantungku," bisik hati Daffa.
"Lalu, kenapa kamu masih melayani dan menerima sentuhanku, Dhira?" tanya Daffa ingin tahu.
"Aku harap kamu tidak sedang memandang rendah kepadaku atas hal itu, Mas!" tegas Andhira.
"Aku hanya melakukan kewajiban yang aku mampu saja, Mas. Dengan kondisiku saat ini dan aku masih diberi kesadaran untuk melakukannya, itu merupakan hal yang luar biasa. Bersyukurlah untuk hal itu, tapi jangan menuntut lebih padaku, Mas. Karena aku tidak akan sanggup untuk saat ini!"
"Bahkan, dia masih memikirkan kebutuhan biologisku. Tidakkah dia tahu bahwa dia sangat mencintaiku tanpa dia sadari?" batin Daffa.
"Keadaan ini rumit dan sangat sulit aku pahami. Tapi, satu hal yang aku sadari bahwa aku telah salah menyia-nyiakan mutiara seindah dirimu, Andhira," lanjut Daffa berbisik di dalam hati.
__ADS_1
"Izinkan aku memperjuangkanmu hingga menang, Dhira." Daffa melabuhkan kecupan di leher jenjang Andhira seraya menggenggam tangan Isrinya tersebut dengan posesif.
Bersambung ....