
"Dhira ... Bibirmu sudah membiru. Lihat, kulit tanganmu juga mengerut. Itu tandanya kamu sudah kedinginan. Ayo kita masuk dan mandi," ajak Daffa.
Saat itu mereka masih setia berada di bawah hujan yang seakan enggan untuk berhenti. Andhira masih asyik menempa tawa dan memercikkan jatuhan hujan dari tangannya pada Daffa. Sekilas Wanita itu tampak lupa pada beban masalah yang tengah merundunginya.
"Tidak, Mas, sebentar lagi!" jawab Andhira bersikukuh. "Bukankah ini sayang untuk dilewatkan begitu saja?" alibinya mencari alasan untuk lebih lama bermain hujan.
"Ayo, nanti bisa masuk angin," ajak Daffa lagi sembari menarik lengan Andhira.
Andhira yang kala itu tidak menjaga keseimbangan tubuhnya dengan baik hampir saja terjatuh karena tarikan Daffa tersebut. Namun, dengan sigap tangan Daffa meraih tubuh Andhira dan membawanya merapat ke tubuhnya. Lalu, wajah mereka menjadi sangat dekat dan nyaris menempel antara satu sama lain. Daffa semakin mendekatkan bibirnya pada bibir Istrinya itu, mencoba mencari celah untuk bisa meneguk madu dari sana. Akan tetapi, suara petir yang menggelegar menghambat terjadinya adegan itu.
"Mas, ayo kita masuk ke dalam rumah saja. Petirnya membuatku takut," papar Andhira yang dengan spontan memeluk Daffa.
Mereka pun bergegas masuk ke dalam rumah dan meninggalkan derasnya hujan yang masih betah berlama-lama singgah di permukaan bumi. Sampai di dalam, seperti tidak ada masalah yang pernah begitu mendera. Keduanya santai saja saling tertawa, lalu mandi bersama-sama. Apa sebenarnya mereka telah saling jatuh cinta? Entahlah, mari kita lihat seperti apa ke depannya.
__ADS_1
Di dalam sana, kala Daffa bermaksud membantu Andhira memakaikan sabun menggunakan spons ke tubuhnya. Mata Daffa terbelalak kaget melihat sesuatu. "Apa sekujur tubuhnya selalu lebam dan memar, bahkan ketika aku sudah berhenti mengasarinya?" batin Daffa.
"Aakhhh, pelan-pelan saja menggosoknya, Mas," ringis Andhira.
"Baiklah, maaf, kalau begitu aku akan lebih berhati-hati," Daffa berhenti sejenak, lalu melanjutkannya lagi.
Tentu saja tubuh Andhira penuh lebam dan memar. Sebab, semalam saat Wanita itu mengurung diri di dalam kamar mandi, dia tak henti memukuli dan membenturkan dirinya sendiri. Itulah yang terjadi tanpa Daffa ketahui.
"Sudah selesai, sekarang bilaslah tubuhmu dan keringkan dengan handuk. Aku akan melanjutkan mandiku," titah Daffa.
Beberapa menit kemudian, Andhira sudah berganti pakaian. Sedangkan Daffa, juga telah menyelesaikan mandinya. Dia mengambil baju ganti, lantas mengenakannya.
"Apa kamu kedinginan?" tanya Daffa ketika menghampiri Andhira yang diam dengan tubuh menggigil.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, aku akan mengambil minyak kayu putih agar tubuhmu hangat." Daffa bergegas mengambil minyak kayu putih tersebut. Sedangkan, Andhira tetap diam tak bicara ataupun melakukan apa-apa.
"Berbaringlah," titah Daffa lagi. Dia benar-benar seperti sedang mengurusi seorang balita.
Andhira pun berbaring di atas kasur empuk yang menjadi saksi bisu mengenai banyak hal tentang mereka. Lantas, tanpa basa-basi lagi, Daffa langsung mengoleskan minyak kayu putih itu ke bagian perut dan pusar Andhira. Dia juga membalurkannya di bagian telapak kaki dan punggung Istrinya itu.
"Apa sekarang lebih baik?" tanya Daffa. Andhira hanya mengangguk.
"Kemarilah," ujar Daffa seraya mendekap erat tubuh Andhira.
Andhira menengadahkan wajahnya menatapi Daffa yang kala itu memberikan kenyamanan dengan pelukannya. Daffa membalas tatapannya itu, kemudian melabuhkan kecupan di mata, di kening, di bibir dan seluruh permukaan wajah Andhira tanpa ada yang terlewatkan. Begitukah sikap seseorang yang katanya tidak cinta? Bagaimana menurut kalian?
Saat ini, sepertinya bukan Daffa saja yang sedang berdusta mengenai perasaannya. Akan tetapi, Andhira juga sama saja. Mereka hanya terlalu gengsi untuk mengakui atau terlalu berat untuk mengutarakannya. Mengingat keduanya sama-sama jemawa pada keangkuhan mereka, terlebih Daffa.
__ADS_1
Bersambung ....