
Hari mulai petang. Suasana pantai kian indah berhias semburat senja yang memerah di atas langit, kala itu. Meski perasaan Andhira tetap saja sama, tidak sedikit pun berubah. Mati rasa hilang asa.
"Mau pulang sekarang?" tanyai Daffa berbisik penuh goda di telingan Andhira.
"Tidak," jawab Andhira singkat.
"Maukah kamu merasakan manisnya ciuman di bawah langit senja yang indah ini?" imbuh Daffa sembari meniup-niupkan napas yang terasa hangat menyentuh tengkut Andhira.
Andhira menyeringai penuh ejekan. "Kenapa tidak?" tantangnya dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin.
Tanpa menunda lagi, Daffa langsung menyerobot rongga mulut Istrinya itu dengan lidah ganas. Tampaknya, dia tidak menyadari bahwa dirinya sedang ditipu oleh perasaan Andhira.
"Lakukan saja dulu bagianmu seperti yang kamu mau. Aku akan menunggu dengan sabar untuk melakukan bagianku," batin Andhira mengumbar ancaman.
Setelah sederet sesap dan raupan buas dilakukan pada bibir juga mulut Andhira, Daffa melepaskan pagutannya seraya mengelap liur yang tertinggal di bibir Andhira dengan tangannya. Lantas, Lelaki itu memandangi Andhira dengan wajah yang berseri dan mata yang berbinar. Apakah itu bisa disebut ekspresi dari perasaan cinta? Entahlah .... Lelaki itu sangat sulit untuk ditebak.
"Dhira, bibirmu sangat manis," pujinya dengan segudang gombalan yang membuat hati Andhira merasa geli.
Lagi, Andhira hanya membalasnya dengan tersenyum anggun. "Jangan ragu untuk memujiku. Aku ingin kamu mati terbunuh oleh kata-katamu sendiri. Cihhh!" desis Andhira dalam pikirannya.
__ADS_1
"Mau makan lagi?" lontar Daffa menawarkan. Sebelumnya, mereka memang sudah makan di jam makan siang.
"Tidak, Mas, terima kasih. Aku masih kenyang," jawab Andhira dengan nada halus.
"Kenapa dia semakin menggoda di mataku? Bahasa tubuhnya seakan merayu, tutur katanya yang lembut .... seperti membelai perasaanku. Apa mungkin dia sedang berusaha menarik perhatianku?" bisik hati Daffa.
"Tatapannya seakan membelengguku. Aku bisa merasakannya, bagaimanapun dia sedang mengagumiku. Bagus!" gumam Andhira membatin dengan tatapan menganalisa.
"Mas, kurasa sudah cukup. Mari kita pulang," ajak Andhira.
"Baiklah," patuh Daffa sambil melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Andhira.
"Masuklah," titah Daffa dengan manis membukakan pintu untuk Andhira. Andhira mengangguk dengan senyuman dan dia pun masuk ke dalam mobil tersebut.
Di sepanjang perjalanan menuju pulang, Daffa tidak henti-hentinya mencuri pandang ke arah Andhira. Sementara itu, Andhira tetap menatap lurus ke depan dan pura-pura tidak sadar dengan yang Daffa lakukan. Kapan lagi dia bisa leluasa mempermainkan perasaan Suaminya itu.
"Huuuhhh, panas sekali," keluh Andhira seraya mengibas-ngibaskan tangan pada tubuhnya.
"Benarkah? Perasaan, AC-nya sudah sangat dingin," ucap Daffa merasa heran.
__ADS_1
"Entahlah, mungkin karena aku belum mandi," sambung Andhira beralibi.
Wanita cantik itu membuka beberapa kancing kemeja oversize yang dikenakannya, hingga terlihat bentuk indah yang menyembul dari dalam sana. Daffa meneguk salivanya dengan kasar. Tampak beberapa kali dia menyeka keringat dari pelipis keningnya.
"Apa kamu juga kepanasan, Mas?" pancing Andhira dengan sengaja. Wanita berambut pendek tersebut menatap Daffa penuh arti.
"T-tidak, aku hanya ...."
"Buka saja bajunya, Mas." Tanpa menunggu persetujuan Daffa, Andhira langsung berusaha membantu Daffa untuk melepas pakaiannya.
"J-jangan, Dhira ... nanti saja. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah," sergah Daffa menahan tangan Andhira dengan perasaan gugup.
"Hahahaha ... Ciih! Dasar munafik," batin Andhira mengumpat.
Sebenarnya, Andhira tidak sedang kegerahan. Dia sengaja melakukan itu untuk melihat reaksi Daffa. Dan benar saja, Lelaki itu terkena umpan yang Andhira pasang. Walau saat itu, Daffa tidak langsung melahapnya, tapi setidaknya Andhira cukup senang melihat Daffa tersiksa menahan nafsuunya.
Bersambung ....
Dukung terus othor, ye. Lope-lope. ❤❤❤
__ADS_1