
Seketika bibir Daffa terkatup kelu. Wajahnya memerah menahan malu. Pikrannya kala itu tak menyangka, bahwa dirinya akan mendapat perlakuan seperti itu dari Andhira. Ternyata sesederhana itu melukai perasaan.
"Selama ini, aku kira Andhira berbohong tentang rasa sakit yang dia terima atas kata-kataku yang kerap asal bicara padanya, tapi sekarang aku tahu. Ini rasanya sangat nyeri," batin Daffa sembari tertunduk memegangi dadanya yang ngilu.
"Mas, aku bercanda. Tentu saja aku berdandan untukmu. Memangnya untuk siapa lagi?" cetus Andhira yang merasa tidak tega melihat Daffa begitu.
"Kamu ...," lirih Daffa sembari meluruskan pandangannya pada Andhira.
"Ya, aku bersolek untukmu, Mas. Bukankah kamu yang membelikanku semua ini?" tunjuk Andhira pada perlengkapan kosmetiknya.
"Benarkah begitu?" tanya Daffa meyakinkan.
Andhira merekahkan senyuman di bibirnya. "Sebenarnya tidak, Mas. Aku memang berdandan hanya untuk menghibur diri," bisik hati Andhira.
__ADS_1
"Iya, Mas. Kenapa aku harus berbohong?" imbuh Andhira dengan menutupi yang sebenarnya.
Andhira meraih jemari tangan Daffa dan membawanya untuk menyentuh dirinya. Daffa terkesima menerima perlakuan penuh rayu dan goda itu. Sungguh, hatinya merasa senang. Segera saja dia menggendong tubuh Andhira dan merebahkannya di atas kasur. Dihirupnya aroma tubuh Andhira yang harum memanjakan perasaan.
"Akan aku berikan semua yang kamu mau, Mas. Tapi, jika sampai terulang lagi sekali saja apa yang kamu lakukan padaku seperti sebelum-sebelumnya. Maka, jangan salahkan aku. Aku sudah tidak tahu lagi apa yang akan aku lakukan padamu nanti," batin Andhira dengan sorot mata ngeri.
"Aku menyukai aroma tubuh ini," racau Daffa seraya terus menelusuri tubuh Andhira mulai dari leher hingga bagian pusar.
Seluruh tubuh Andhira bersdesir merasakan sapuan lembut dari lidah Daffa. Tidak dipungkiri, rasanya memang sangat indah. Meski pada kenyataannya, Andhira sudi dijamah hanya karena Daffa suaminya, bukan karena dia mencintai Lelaki itu. Sebab, keinginan untuk belajar mncintai Daffa telah dipatahkan oleh segala kesakitan yang diciptakan Daffa terhadapnya.
Daffa menanggalkan setiap helai benang yang menempel di tubuhnya dan juga Andhira. Kini keduanya tak punya pilihan selain sama-sama memampangkan bentuk terindah dari milik mereka masing-masing. Terdengar suara napas yang memburu saling bersahutan. Mengalunkan irama yang merayu untuk terus saling memacu.
"Aku menyukai semua bagian tubuhmu," puji Daffa seraya menyatukan dua telaga madu milik Andhira.
__ADS_1
Andhira hanya tersenyum mendengar semua perkataan Daffa yang sarat pemujaan terhadap dirinya. "Akan aku lihat, sampai di mana kamu akan tahan untuk tidak jatuh cinta kepadaku," seringainya.
Lantas, Andhira menekan pinggul Daffa agar kapal kecilnya berlabuh lebih dalam ke dermaga cintanya yang sudah basah. Daffa tampak menikmati kenakalan Istrinya itu. Tampak matanya menyatakan cinta pada Andhira.
"Aku sudah menunggu sorot mata penuh ingin itu sejak lama. Sebelum akhirnya, kamu merusak kepercayaanku dan membuatku mati rasa terhadapmu," bisik hati Andhira yang sarat akan dendam.
Beberapa saat kemudian. Keduanya memekik dengan rintihan merdu dan lenguuhan panjang. Ya, mereka telah mendapatkan puncak tertinggi dari pendakian penuh gairah yang mereka tempuhi. Tubuh Daffa terkulai lemas di sisi Andhira.
Deru napas yang mulai melemah terdengar memenuhi kamar itu. Andhira kembali menyorotkan tatapan kosong dari netranya. Manik mata itu mengedip, lalu terpejam seraya meresapi perasaan yang hinggap pada dirinya. Sementara itu, Daffa semakin menunjukkan ketertarikannya pada Wanita yang katanya tidak dia cintai itu.
CUP!
Sebuah kecupan berlabuh di kening Andhira. Lagi, Daffa menyampaikan rasa terima kasihnya pada Andhira.
__ADS_1
Bersambung ....
Dukungannya ye, Zheyenk. Lope-lope. ❤❤❤❤