
Seminggu sudah waktu berlalu. Lembutnya cumbu dan basahnya ciuman pun tak lekang mereka arungi, bersama manisnya rasa yang membawa jiwa terbang ke awang-awang. Kisah semalam selalu menarik untuk diulang. Bahkan, saat bibir baru saja melepaskan kulumman, rasa rindu untuk melakukan hal yang sama sudah hadir lagi seakan berkata 'ayo, jangan berhenti! Lakukan lagi dan lagi sampai dada merasa puas'.
"Mas, terima kasih, ya."
"Terima kasih untuk apa?"
"Untuk satu minggu yang paling berkesan di Pulau Cinta ini," jawab Andhira sambil tersenyum malu-malu.
"Jangan berterima kasih, Sayang."
"Lalu, aku harus apa?"
"Terima saja aku apa adanya."
"Ihh, tidak mau."
"Loh, kenapa tidak mau?"
"Karena pertama aku mengenalmu, kamu sangat jahat. Dan aku lebih suka kamu yang sekarang!" tandas Andhira dengan jujur.
"Ya, Tuhan. Dia ada benarnya juga," ucap Daffa di dalam hati.
Mereka pun lalu bertolak dari Pulau Cinta menuju kediaman mereka.
***
"Selamat datang di rumah, Dhira." Daffa berlakon menyambut Andhira seakan benar-benar baru pertama datang ke rumah itu.
Mau tahu kenapa? Karena Daffa ingin memulai semuanya dari nol. Dia sedang berupaya membuat Andhira beranjak dari ingatan tentangnya yang membut Andhira sakit. Kalau bisa, mungkin dia sudah menghapus jejak kenangan yang begitu buruk dari memori Andhira. Lalu, tiba-tiba saja ....
"Permisi ...," seru seseorang dari luar pagar garasi.
"Siapa itu, Mas?" tanya Andhira.
"Aku juga tidak tahu, Sayang. Apa mungkin itu Dewa," terka Daffa sambil beralih untuk melihat orang itu yang dia kira adalah temannya, Dewa.
"Iya, ada apa, ya?" sambut Daffa saat dirinya sudah berada di luar pintu.
Tampak seorang laki-laki berdiri sembari memindai apa yang ada di depan matanya. "Maaf, apa benar ini rumah Mbak Andhira?" tanya Laki-laki tersebut pada Daffa.
"Iya benar," jawab Daffa.
"Maaf, Mas. Saya mengantar buket bunga untuk Mbak Andhira.
Daffa mengerutkan keningnya. Lalu, dia mengambil buket bunga tersebut. Selepas itu, Pria tadi pun pergi. Sepertinya, dia hanya bertugas sebagai kurir yang mengirimkan buket bunga pesanan. Tapi, pesanan siapa? Daffa tidak memesan buket bunga.
Raut wajah Daffa sudah tampak masam lantaran mengetahui ada yang mengirim bunga untuk istrinya, tapi itu bukanlah dirinya. Perasaan curiga dan cemburu menyatu dalam satu irama. Dengan tatapan dingin dia memberikan bunga tersebut pada Andhira saat sudah kembali ke dalam rumah.
"Mas, kapan kamu memesan bunga ini? Ini sangat indah." Andhira menghirup aroma bunga mawar yang sudah dibuat buket itu.
"Mas, dari mana Mas tahu kalau aku menyukai mawar?" tanya Andhira.
__ADS_1
Namun, Daffa tetap diam tidak menjawab. Dia hanya menyoroti Andhira dengan tatapan tajam dan dingin. "Jujur saja, Dhira. Apa diam-diam kamu berkhianat di belakangku?" lontar Daffa penuh penekanan.
Sontak saja, pertanyaan Daffa tersebut membuat Andhira merasa bingung. "Maksudnya apa ya Mas? Aku tidak mengerti dengan pertanyaanmu," kata Andhira benar-benar tidak tahu.
"Jangan pura-pura bodoh, Dhira. Lihat ini! Wisnu ... lelaki mana yang bernama Wisnu dan mengirimkan buket bunga ini, huh? Pantas saja kamu sempat begitu ingin pergi dariku. Ternyata diam-diam kamu punya lelaki lain." Daffa menyeringai sinis.
"Sepetinya, dia juga sangat tahu kesukaanmu. Kamu juga menyukai bunga mawar ini 'kan? Bunga mawar yang dikirimkan oleh selingkuhanmu!" Daffa merebut buket bunga mawar itu deri tangan Andira, lalu membanting dan menginjak-injaknya dengan brutal.
Andhira yang masih bertanya-tanya pun hanya menangis sembari menutup kedua telinganya. "Aku tidak tahu, Mas. Sungguh, aku tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan."
"Jangan mengelak, Andhira. Semua bukti ini sudah jelas ada di depan mata. Aku tidak menyangka kamu bisa mencurangi aku seperti ini," lontar Daffa dengan amarah yang menggebu-gebu.
"Tapi, aku berkata benar, Mas. Aku tidak tahu siapa lelaki itu. Aku pikir bunga ini kamu yang memesannya untukku."
"Cukup, Andhira! Aku merasa jijik dengan sandiwaramu." Daffa langsung pergi meninggalkan Andhira begitu saja.
Hancur sudah kebahagiaan yang baru saja dimulai. Andhira menangis hingga tersedu-sedu. Ketakutan yang tinggal secuil kini kembali membesar dan terasa penuh di dalam hati dan pikirannya.
"Aku bersumpah demi apapun, Mas. Aku tidak pernah mengkhianatimu. Bahkan, saat dirimu begitu jahat padaku, aku tidak pernah berpikir untuk bermain curang padamu," ratap Andhira.
Di tempat berbeda di sebuah jalan yang cukup ramai oleh lalu lalang kendaraan. Daffa mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga dia sudah tidak bisa lagi mengontrol kemudinya dan ....
BRAKKK!!!
Suara benturan terdengar begitu nyaring di telinga. Tidak lama kemudian, suara gaduh dari orang-orang yang ada di sekitar jalan pun mulai mengerubungi mobil Daffa yang sudah ringsek karena menabrak bahu jalan dan terpental beberapa puluh meter. Lantas, suara sirine pun turut mewarnai tempat kejadian.
***
"Di mana kamu, Mas? Kenapa belum pulang juga? Ini sudah jam delapan malam. Secepat itukah prasangka buruk menguasai hatimu?" gumam Andhira dengan sisa air mata yang masih menempel di pipinya karena dia terus menangis.
[Dering telepon berbunyi.]
Andhira mengangkatnya. Namun, bibirnya tak bicara dan hanya terkatup kelu. Sukmanya melayang bagai terlepas dari raga.
"Mas Daffa ...," lirihnya diiringi derai air mata.
"Aaaarrggghh!" teriak Andhira sembari meluruh di lantai. Tubuhnya lemas bagai tak bertulang. Sebenarnya, siapa yang menelepon. Lalu, berita apa yang dia dengar hingga membuatnya begitu tidak berdaya?
Andhira berusaha mengumpulkan tenanganya dan mencoba untuk bangkit. Dia meraih tas selempangnya, lalu segera memesan taksi. Tatapannya tampak kosong. Wajahnya pias memucat tak bercahaya.
"Ke Citra Hospital ya, Pak," ucap Andhira pada sopir taksi yang hendak mengantarnya.
Ya! Dia pergi menuju sebuah rumah sakit setelah mendapat kabar bahwa Daffa mengalami kecelakaan tunggal. Kabar itulah yang membuat Andhira semikian berkecamuk. Bukan hanya perasaannya, tapi fisiknya pun merespon itu dan menjadikan seluruhnya menjadi lemas tidak berdaya.
Sekitar setengah jam kemudian, Dia sampai di rumah sakit tersebut. Andhira segera menanyakan kamar rawat Daffa pada petugas dan bergegas ke sana setelah diberitahu. Dengan tangan yang gemetar, dia membuka pintu kamar rawat tersebut.
"Mas Daffa!" serunya. Tangisan Andhira pecah sektika. Rasa perih menjalar dan menyeruak ke relung dadanya.
"Mas .... Kenapa jadi seperti ini? Kenapa kamu tidak memberi kesempatan padaku untuk menjelaskan semuanya?"
Bibir Wanita itu bergetar tatkala mengutarakan setiap kalimatnya. Dia menyesalkan sikap Daffa tidak percaya pada dirinya. Pada pembelaan diri yang dia lakukan saat Daffa menuduhnya berselingkuh dengan pria lain.
__ADS_1
"Siapa sebenarnya yang sudah tega menuangkan racun ke dalam rumah tangga kita, Mas?"
Andhira mulai mencurigai sesuatu. "Mungkinkah ini perbuatan saudara tirimu? Aku harus mencari tahu." Andhira manggut-manggut sambil menajamkan tatapan matanya.
"Bertahanlah, Mas. Bukankah kamu ingin memelukku lebih lama? Jangan tinggalkan aku, Mas," bisik Andhira di telinga Daffa yang sedang terkapar tidak sadarkan diri.
Sekali lagi, air mata Andhira jatuh tidak tertahan melihat kondisi Daffa. Dengan leher yang dipasang gif, dan kepala serta bagian tangan yang diperban, Daffa terbujur di atas bed pasien rumah sakit. Andhira menggelengkan kepalanya sebagai tanda tidak rela pada keadaan yang menimpa Daffa.
Tidak lama berselang, Nindi datang ke rumah sakit itu bersama suaminya, Adi. "Dhira ...," lirihnya ketika dia berada di ambang pintu kamar rawat Daffa.
"Mbak Nindi." Andhira langsung menghambur ke dalam pelukan Nindi sambil menumpahkan tangisnya.
"Kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya Nindi mencemaskan Andhira. Andhira menganggukkan kepalanya.
"Apa yang terjadi pada Daffa? Kenapa dia bisa kecelakaan? Bukankah kalian baru saja pulang dari bulan madu kalian?" tanya Nindi perlahan.
"Ceritanya panjang, Mbak." Andhira mulai memaparkan dan menceritakan kejadian sebelum Daffa pergi dan mengalami kecelakaan pada Nindi.
"Sabar ya, Sayangnya Mbak," bujuk Nindi menenangkan.
"Tapi, Dhira bersumpah, Mbak. Dhira tidak melakukan semua itu. Dhira tidak mengkhianati Mas Daffa. Aku memang suka bunga mawar, tapi saat itu aku tidak tahu kalau bunga mawar itu dikirim oleh laki-laki yang bukan suamiku." Andhira meyakinkan Nindi sekali lagi.
"Iya, Sayang. Mbak percaya sama kamu. Tidak mungkin juga 'kan Adiknya Mbak yang baik ini melakukan hal yang tidak terpuji seperti itu?!" tandas Nindi menenangkan Andhira.
"Terima kasih ya, Mbak, sudah mau percaya padaku," tutur Andhira sembari tersedu.
"Dhira, makan dulu, nih. Mas belikan makanan untuk kamu tadi," seloroh Adi.
"Tidak mau, Mas. Dhira tidak lapar," tolak Andhira sembari menggelengkan kepala.
"Dhira, lihat Daffa! Dia mebutuhkanmu untuk merawatnya. Jadi, kamu harus sehat." Adi turut membujuk Adik Iparnya tersebut.
"Mas Adi benar, Dhira. Kamu harus makan. Mbak suapi, ya!" timbrung Nindi.
Andhira pun menurut dan makan. Walau harus disuapi oleh Nindi. Bersyukur ada Nindi dan Adi yang menenangkan Andhira kala itu. Kalau tidak, mungkin kecemasannya akan kembali memuncak.
***
Di sebuah kamar hotel. Terlihat Farid dan seorang wanita yang tidak lain adalah Shella. Mereka tampak asyik beradu cumbu.
"Terima kasih, Shella sayang. Karena kamu sudah membantu aku melancarkan rencana ini pada Daffa," tuturnya sambil menciumi tengkuk dan leher jenjang Shella.
"Tentu saja, Farid. Itu tidak masalah bagiku. Asalkan malam ini kamu memuaskan aku," jawab Shella sambil membuka zipper celana Farid.
Rintihan dan desahh kenikmatan pun memenuhi kamar hotel itu. Dua insan yang sama-sama sedang dirundung gairah itu menumpahkan hasrat liarr mereka. Keduanya tampak sangat ganas bertempur di atas ranjang empuk yang kini terdengar berdecit akibat permainan panas mereka.
Ya, Farid adalah lelaki yang senang dengan dunia malam. Tidak jarang dia berganti wanita untuk dijadikan teman tidurnya. Walaupun, dia akan berubah menjadi anak yang alim saat berada di hadapan Abah dan juga Ummi yang juga orang tua Daffa. Walau Ummi hanya ibu sambung bagi Daffa.
Tampak Farid membalikkan posisi tubuh Shella, lantas dia menggagahinya dari belakang. Wanita itu pun sangat menikmati permainan Farid yang cenderung kasar. "Kamu menyukainya 'kan Pelaacurku?" erang Farid dengan suara yang berat ditindih nafsu.
"Yeahh, aku menyukainya, Farid ... ahhhh!" pekik Shella, yang entah mengapa dia justru ingin Farid memakinya lebih sering.
__ADS_1
Kamar hotel itu terasa amat gaduh oleh suara racauan yang terus menerus mengiringi pertempuran panas keduanya.
Bersambung ....