IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 40 Kemungkinan Terburuk


__ADS_3

Daffa tampak tegang saat Nindi mempersilakannya untuk duduk. "Bagaimana kabarnya, Mbak?" sapa Daffa berbasa-basi.


"Baik, Daff, kamu sendiri bagaimana?"


"Seperti yang Mbak lihat. Daffa baik saja, Mbak."


"Syukurlah kalau begitu," imbuh Nindi seraya tersenyum.


Kemudian, Nindi memanggil seorang pelayan untuk memesankan Daffa secangkir kopi, sementara dirinya sudah memesan terlebih dulu saat baru datang tadi. "Kamu mau pesan makanan mungkin?" lontar Nindi.


"Tidak usah, Mbak, terima kasih. Daffa tidak sedang lapar," ucap Daffa menolak tawaran Nindi dengan sopan.


Obrolan pun berlanjut dan mulai mengarah pada intinya. Nindi menceritakan kepada Daffa tentang riwayat traumatik yang pernah dialami oleh Andhira sewaktu dulu. Dia menceritakan semuanya tanpa terlewatkan. Sedangkan Daffa, tampak menyimak setiap kalimat yang tertutur dari mulut Nindi dengan seksama.


Daffa kembali menelan pil pahit kenyataan. Dia merasa semakin bersalah saat tahu alasan mengapa Andhira berlaku aneh setelah mendapat kekerasan darinya. Pikirannya menjadi tidak tenang. Duduk pun tampak sangat gelisah.


"Daffa, kamu tidak apa-apa?" tanya Nindi yang membaca kegundahan pada diri Daffa.


"I-iya, Mbak, Daffa tidak apa-apa," gagapnya berbohong.


"Nah, Daff. Kamu tahu apa maksudku menceritakan semua ini padamu?" lanjut Nindi.

__ADS_1


"Kenapa, Mbak?"


"Karena beberapa hari lalu, sepulang dari rumah kalian. Ibu meneleponku meminta untuk ditemui. Dan saat aku datang, Ibu mulai menceritakan keadaan Dhira yang mengkhawatirkan." Nindi berbicara dengan pelan, tetapi sangat jelas.


"Aku hanya ingin bertanya dan bukan menghakimi. Jadi, tolong jawab dengan sejujurnya, ya," mohon Nindi. Daffa mengangguk lesu.


"Apakah selama ini ada hal buruk yang menimpa Dhira? Hingga menyebabkan sikapnya begitu aneh?" tanyai Nindi dengan tatapan yang menantikan sebuah jawaban.


Daffa mengangguk pelan dan pasrah andai dirinya dimarahi nantinya. "Iya, Mbak. Daffa memperlakukannya dengan tidak baik di beberapa bulan pertama pernikahan kami, sungguh Daffa tidak tahu kalau kejadiannya akan seperti ini. Andhira sering mengalami hal-hal yang tidak Daffa mengerti. Sesaat dia akan terlihat sangat senang, tapi tidak lama dia akan sangat sedih, marah, bahkan menyakiti dirinya sendiri. Ini salah Daffa, Mbak. Maafkan Daffa." beber Daffa mengakui.


Nindi menghela napasnya dalam-dalam. Membayangkan betapa menderita adik bungsunya itu selama ini. Bulir-bulir bening lolos dari ceruk netra Nindi yang tampak memgembun dan meluap. Bahkan, Nindi tidak sanggup berkata apa-apa lagi.


"Sekarang nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada pilihan lagi selain menelannya. Andhira sudah terlanjur terluka dan ini akan sulit untuk diatasi. Kata maaf saja rasanya tidak akan mampu mengembalikan keadaannya seperti sedia kala, Daf."


"Iya, Mbak. Daffa tahu, Mbak. Daffa terima sekali pun Daffa harus dihukum berat, tapi tolong jangan pisahkan Daffa dengan Andhira. Daffa cinta pada Andhira, Mbak," rengek Daffa memohon.


"Kalau memang benar kamu mencintai Andhira, kamu harus membantu dia untuk sembuh dari depresinya itu, Daff."


"Daffa siap, Mbak. Apa saja akan Daffa lakukan yang penting Andhira sembuh, dan sekali lagi tolong jangan pisahkan kami, Mbak."


"Daffa, soal permintaan kamu yang satu itu, jawabannya tidak ada padaku. Semuanya tergantung pada Andhira," tandas Nindi.

__ADS_1


"Lantas, Daffa harus bagaimana, Mbak?"


"Yang pertama, kamu harus membantu Andhira berjuang untuk sembuh. Yang kedua, kamu harus siap menerima kemungkinan terburuk yang akan dihadapi. Karena seseorang perlu menghindari penyebab penyakit yang ada padanya ketika berada dalam upaya penyembuhan. Yang ketiga, kuatkan doamu dalam setiap usaha ini, Daf. Semoga saja kamu dan Dhira masih bisa bersatu."


Jantung Daffa seketika terasa nyeri bagai dihujam ribuan pedang. Bagaimana kalau Andhira tidak mau tinggal lagi bersamanya? Bagaimana jika kemungkinan yang buruk itu benar-benar terjadi? Bagaimana dia akan mampu melewati hari-harinya tanpa Istri yang mulai dicintainya itu?


Semua kegundahan itu bertahta dalam benak Daffa, dan menyiksanya bagai sebuah cemeti yang menderanya secara bertubi-tubi. Namun, apa mau dikata? Dia terlanjur memulai semuanya. Jadi, mau tidak mau Daffa harus menerima apa pun yang akan terjadi nantinya.


"Daffa, aku punya kenalan seorang psikiater. Mungkin kami akan menghubunginya untuk membantu Andhira mengatasi masalahnya. Jadi, tolong kerja samanya. Untuk beberapa waktu, biarkan Dhira tinggal bersama ibu dulu," papar Nindi.


"Apa pun itu, Mbak. Yang penting Dhira bisa sehat dan sembuh seperti sedia kala," jawab Daffa.


"Dan ingat, Daf! Semua ini tidak akan mudah, jadi bersabarlah," peringati Nindi. Daffa mengangguk patuh.


Percakapan pun mereka sudahi. Nindi pulang dengan sebuah taksi yang dipesannya. Sementara itu, Daffa melajukan mobilnya dengan kecepatan seperti gila. Lelaki itu pergi ke sebuah tempat untuk menenangkan dirinya.


Sambil berteriak dan melemparkan batu-batu kecil. Daffa meluapkan kekesalannya saat sampai di tempat yang dia tuju. Sebuah danau yang terletak cukup jauh dari rumahnya. Ya, di sanalah dia berteriak melampiaskan kekecewaan atas keadaan yang sedang menimpa dirinya dan juga Andhira.


"Bukan ini yang aku mau, Tuhan! Kenapa aku harus menerimanya? Kenapa?" jeritnya dengan api amarah yang kian berkobar membakar perasaannya sendiri.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2