
[Dering ponsel berbunyi.]
"Mas, ada yang menelepon," kata Andhira.
"Ya, aku akan mengangkatnya dulu," balas Daffa. Dia pun mengambil jarak beberapa langkah dari Andhira. Sementara itu, Andhira paham dan tersenyum mengangguk.
[Hallo ....]
[Daf, Ini Mbak Nindi. Dhira apa kabar? Maaf, Mbak baru sempat hubungi kamu.]
[Kabar baik, Mbak. Perubahan emosinya mulai terkontrol. Tingkat kecemasannya juga terlihat berkurang, Mbak.]
[Serius? Syukurlah kalau begitu. Ini perkembangan yang bagus, Daf. Kalau boleh tahu, kamu beri apa dia?]
[Tidak Daffa beri apa-apa, Mbak. Daffa juga belum sepenuhnya yakin pada perubahan ini. Tapi, semoga saja ini seperti yang diharapkan.]
[Ya, semoga saja begitu, Daf. Kita semua mendoakan yang terbaik untuk Dhira.]
[Aamiin, Mbak.]
[Oh, ya. Obatnya bagaimana, Daf? Kemarin dr. Chatra sempat menghubungiku. Dia berpesan, kalau sudah ada perubahan yang cukup baik, maka dosisnya dikurangi saja dari yang biasanya.]
[Hening ....]
"Tentang dr. Chatra yang sok ganteng lagi!" batin Daffa menggerutu.
[Hallo, Daf? Kamu masih di sana? Halloooo ....]
[I-iya, Mbak Nindi. Bahkan, Daffa sudah tidak memberinya minum obat dari dr. Chatra lagi, Mbak.]
[Loh, kamu tidak main-main 'kan? Sebenarnya itu bagus, tapi memangnya secepat itu juga, ya, pemulihannya?] kata Nindi seakan meragukan.
[Iya, Mbak. Daffa memberinya obat yang lain,] jawab Daffa sambil tersenyum.
[Obat lain? Kamu jangan macam-macam, ya, sama adikku!]
[Tenang saja, Mbak. Obat yang Daffa berikan tidak akan membuat Dhira over dosis meski dia mengonsumsinya dalam jumlah yang banyak,] terang Daffa.
[Ahh, kamu membuat Mbak bingung saja. Sebenarnya obat apa yang kamu berikan pada Dhira. Ingat ya, Daf. Kami tidak akan mengampunimu kalau sampai Andhira diapa-apakan lagi!] tandas Nindi yang mulai tersulut emosi.
[Hihihi .... Tenang saja, Mbak. Obatnya aman. Berasal dari hati. Bentuknya berupa cinta kasih dan perhatian. Timbulnya jadi rasa sayang yang teramat dalam.]
__ADS_1
[Ya ampun. Kukira apa. Baiklah, Daf .... Kalau begitu selamat berjuang, ya. Jangan sia-siakan kesempatan ini lagi.]
[Siap, Mbak. Terima kasih, banyak.]
[Panggilan telepon berakhir.] Daffa menutupnya dengan senyum yang merekah bak sekuntum mawar.
Lalu, Lelaki itu kembali menghapiri Andhira yang masih duduk di posisi yang sama. Dia tersenyum sambil memberikan usapan lembut di kepala Istrinya. Tatapan penuh perasaan pun tak tinggal dia berikan.
"Siapa yang menelepon, Mas? Kelihatannya serius sekali," cetus Andhira.
"Ohh, tadi itu Ibu Pengawas," canda Daffa.
Andira mengerutkan keningnya sesaat. "Siapa itu, Mas?"
"Siapa lagi, kalau bukan Mbak Nindi. Sepertinya, dia memang sangat khawatir adiknya akan diapa-apakan," jawab Daffa masih dengan nada guyon.
"Hihihi .... Aku rasa itu hal yang wajar dilakukan oleh setiap kakak pada adiknya. Iya 'kan Mas?!"
"Ya, dan kamu beruntung mendapatkan kesempatan itu, Sayang." Daffa melabuhkan kecupan di kening Andhira.
***
Seperti keinginan yang sempat terbersit dalam benak Daffa. Hari ini dia akan pergi ke suatu tempat, dalam rangka berbulan madu bersama Andhira. Terdengar sedikit terlambat memang, tapi itu tidak jadi masalah. Yang penting, ada cinta yang hadir di dalamnya. Supaya bulan madu itu akan terasa sebagaimana mestinya.
"Ayo kita berangkat, Mas," ajak Andhira dengan wajah berseri-seri. Daffa menyambutnya dengan uluran tangan.
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya mereka memilih pergi ke sebuah pulau yang bernama Pulau Cinta di Gorontalo. Dari informasi yang mereka dapat, di sana tempat yang paling sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka. Walau, mereka harus menempuh jarak sekitar 8 jam untuk sampai di sana, tapi itu tidak jadi kendala. Bukankah selama hati senang, hal apa saja akan terasa menyenangkan?!
***
Mereka kini tiba di Pulau Cinta. Benar saja, Pulau Cinta langsung menyambut mereka dengan beragam keindahan alamnya yang mempesona. Mereka akan menginap dan menghabiskan waktu bersama di sebuah Eco Resort yang terletak di tengah laut. Dan pastinya itu sangat mendukung untuk menghadirkan nuansa romantis di bulan madu mereka.
"Bagaimana menurutmu? Aku tahu, mungkin ini tidak terlalu sesuai dengan padu padan yang kamu mau. Tapi, aku harap kamu tetap menyukainya."
"Dan harapanmu terkabul, Mas. Aku sangat menyukai tempat ini lebih dari yang kubayangkan. Lihat, aku benar-benar merasa bagai di surga," timpal Andhira dengan senyuman yang terus menghiasi bibir indahnya.
"Begitukah?"
"Iya, Mas. Sebenarnya, keindahan itu bukan terletak pada tempatnya saja, Mas. Akan tetapi, semua kindahan juga berasal dari hati dan perasaan yang baik dan penuh cinta. Ketika semua itu membersamai, maka percayalah ... aku rasa gurun pasir yang gersang saja akan terasa sejuk," tutur Andhira.
"Pandai sekali kamu, Sayangku," puji Daffa seraya memeluk dan mecium tengkuk Andhira.
__ADS_1
'Sebelumnya, aku bahkan tidak berani walau hanya sekedar memimpikannya. Memimpikan perihal bulan madu ini. Sebab, Mas Daffa terlalu api untuk membawa kesejukan pada hatiku. Bahkan, dia terlalu baja untuk menghadirkan kelembutan yang memelukku ketika dingin datang. Tapi kini, semua ketakutan itu hilang saat Mas Daffa berubah menjadi mata air yang terus mengalir memberiku hidup dan harapan yang baru. Keraguanku sirna dikikis keyakinan yang meneguhkan jiwaku yang nyaris terhuyung dan ambruk. Dan aku berharap, semua ini bukan siasat yang mengelabuhiku lagi'.
"Sudah menjelang malam, Sayang. Kita masuk, yuk." Daffa langsung menggendong tubuh Andhira ala bridal style yang menawan.
Andhira mengalungkan kedua tangannya ke leher Daffa. Matanya tampak tak berkedip memindai wajah tampan suaminya itu. Sampai Daffa meletakkan perlahan tubuhnya di atas kasur pun, mata itu masih setia memandangi wajah Daffa dengan lekat.
"Sayang, kamu membuatku malu," cetus Daffa yang salah tingkah.
"Ha? Malu kenapa, Mas?"
"Tatapan mata indahmu itu, sangat tajam bagai anak panah yang menghujam tepat di jantungku."
"Hihihi .... Kamu berlebihan, Mas."
"Tidak, Dhira. Aku mengatakan yang sebenarnya." Daffa membelai wajah Andhira.
"Kalau sudah terkena bidikan panahmu begini, pilihanku hanya dua. Mencari penawar untuk menyembuhkan luka, atau diam dan mati bersama rasa sakitku."
"Jadi, kamu akan pilih yang mana, Mas?" tanya Andhira dengan napas yang sedikit tersengal didera belaian Daffa.
"Tentu saja aku akan memilih mencari penawarnya. Kamu terlalu indah untuk aku diamkan, Sayang," ucapnya penuh goda.
Lelaki itu terus menguliti untaian benang yang melekat di tubuh Andhira. Tatapannya sarat hasrat dan keinginan untuk bermain bersama setiap rasa yang menggetarkan jiwa dan raga. "Aku ingin kita melakukannya dengan indah, Sayang," rayu Daffa sambil berbisik di telinga Andhira.
Andhira terpejam meresapi setiap sentuhan yang diberikan Daffa padanya. Sesekali lenguhan merdu keluar dari mulutnya, menambah syahdu suasana. Dan suara itu semakin sering terdengar setiap kali Daffa memanjakannya dengan intens.
"Aku menyukai desau indahmu, Dhira. Aku menikmati setiap lenguh dan gelinjang sensual darimu. Aku bersedia tenggelam di dalam lautan cumbumu yang manis dan segar."
Andhira tidak menjawab. Dia hanya memandang Daffa dengan sorot mata penuh pinta yang seakan mengatakan 'sentuh aku lebih dalam'. Lalu, bahasa tubuhnya mengisyaratkan bahwa dirinya tak kuasa menolak lagi. Pilihannya hanyalah menerima setiap apa yang Daffa lakukan padanya.
"Berikan aku setetes madu cintamu, Mas."
"Aku akan memberikanmu telaga madu yang luas."
"Bagaimana kalau aku hanyut?"
"Itu yang jadi pintaku, Sayang. Aku akan membuatmu hanyut di lautan kenikmatan yang dalam."
"Peluk aku, Sayang," pinta Daffa dengan suara parau.
Bersambung ....
__ADS_1