IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 31 Aku Tidak Mengerti


__ADS_3

Siang harinya, saat suasana tegang mulai mencair. Keadaan mengkhawatirkan yang terjadi pada Andhira pun turut mereda. Wanita yang sebelunnya mengatakan banyak hal dengan cepat dan dalam waktu bersamaan itu, kini diam dan tampak enggan bicara. Dia hanya berdiri mematung menatap kosong ke arah luar dari jendela rumah yang terbuka.


Daffa melihat Andhira dari arah belakang, hingga yang tampak hanyalah punggung dengan rambut pendeknya saja. Kemudian, dengan perlahan dan sangat hati-hati Daffa berjalan mendekat kepada Andhira. Saat tiba tepat beberapa jengkal dari tempat Andhira berdiri, Lelaki itu menghela napasnya dalam-dalam mempersiapkan diri untuk berani berbicara pada Andhira. Meski, resikonya mungkin akan mendapat penolakkan lagi dari Wanita berparas jelita tersebut.


Belum sempat Daffa mengucap sepatah kata pun, tiba-tiba saja Andhira memutar badannya hingga tubuh mereka hampir bertabrakan. Terdengar Andhira yang menghela napas kasar karena terkejut dengan kehadiran Daffa.


"Dhira, tenang aku tidak bermaksud apa-apa," lontar Daffa merasa cemas. Dia mengangkat tangannya di depan dada mengisyaratkan bahwa dirinya tidak akan macam-macam.


Andhira pun mengatur napasnya, lantas dia terdiam. Saat melihat Andhira sudah tenang dan mampu menguasai keadaannya, Daffa mulai memepet tubuh Andhira dan memeluknya begitu lembut. Wanita itu tampak terhanyut di dalam dekapan Daffa, walau mimik wajahnya datar tanpa ekspresi.


"Kita makan, ya," bujuk Daffa seraya melepas pelukannya.


"Aku tidak lapar," jawab Andhira singkat.


"Aku suapi kamu, oke," imbuh Daffa tak menyerah. Andhira hanya diam saja.

__ADS_1


Daffa menautkan tangannya pada Andhira, lantas membimbingnya ke meja makan. Dengan sangat lembut dan penuh manja, Lelaki yang tampak lain itu mendudukkan Andhira di kursi yang sudah dia siapkan. Selekas kemudian, dia mulai mengambil makanan dan melabuhkannya ke mulut Andhira suapan demi suapan. Tak lupa juga dia menyetel wajah ramah dengan senyum yang menawan.


"Cukup, Mas, makannya ... aku sudah kenyang," ungkap Andhira dengan suara yang lemah.


"Satu suap lagi, ya," rayu Daffa seraya mengusap lembut pucuk kepala Andhira. Namun, Wanita itu menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah," pasrah Daffa, lalu menaruh makanan yang belum habis itu.


Keadaan kembali hening, tetapi sesaat kemudian riuh hujan mulai terdengar berjatuhan di atas genting menciptakan suara yang khas dari kedatangannya. Ada rekah senyum yang mengembang dengan sangat indah dari bibir Andhira. Ya, dia sangat menyukai rinai hujan. Apa lagi, ini hujan pertama kali setelah sekian lama. Seperti anak kecil yang kegirangan saat mendapatkan sebuah mainan, begitulah kira-kira yang terjadi pada Andhira saat ini.


Dipandanginya wajah yang sedang mengagumi hujan itu. Lalu, Daffa mendekati Andhira dan mengajaknya bicara. "Dhira ...," serunya lirih.


"Lihat, Mas! Hujannya sangat indah," tutur Andhira dengan sangat antusias.


"Kamu menyukainya?" tanggapi Daffa.

__ADS_1


"Ya, saat ayahku masih hidup dulu, kami sering bermain air hujan bersama. Sampai-sampai ibu memarahi kami," kenang Andhira sambil tak henti tersenyum.


"Mau mengulangya bersamaku?" tanya Daffa menawarkan.


Tiba-tiba bibir Andhira terasa kelu. Dia tidak mampu menjawab Daffa, kecuali dengan mata yang berkaca-kaca. Ada senyum yang terulas dalam keharuannya itu.


Daffa yang kala itu membaca kata 'iya' dalam diam Andhira, langsung menuntun tangannya ke luar menghampiri hujan yang sedang turun dengan intensitas yang deras tersebut. Gelak tawa keduanya terdengar bersaing dengan suara hujan. Oh, itu pemandangan yang sangat luar biasa romantis.


"Aku belum bisa mengerti sepenuhnya tentang dirimu, bahkan mungkin tidak sama sekali, Dhira. Terkadang kamu menyala-nyala seperti api. Tapi kemudian, kamu menjelma menjadi hujan yang memadamkan api itu sendiri. Kegusaranmu kerap menyulut amarahku. Lantas, tiba-tiba saja keteduhan dan manisnya rekah senyumanmu menebar rasa damai di dalam relung jiwaku."


Sungguh, saat itu Daffa tidak habis pikir pada sikap Andhira yang mudah berubah-ubah. Walaupun dirinya mengaku tidak ada cinta, tapi tak dipungkiri ada kekaguman terhadap Andhira yang tidak pernah dia rasakan pada wanita lain sebelum ini. Atau mungkin, Daffa terlalu pengecut untuk mengakui bahwa sebenarnya dia mencintai Andhira. Siapa yang tahu?


Bersambung ....


Dukungannya othor harapkan ye, guys. Lope-lope. ❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2