IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 53 Pijatan Lembut


__ADS_3

Untuk melihat dan memastikan orang yang terus berteriak memanggilnya, Daffa pun segera mengenakan pakaian dan berlari keluar untuk membuka puntu. Dan dia tampak biasa saja saat melihat siapa yang datang. Mau tahu kenapa? Karena Daffa tidak mengenali orang itu, wanita yang sejak tadi meneriakkan nama Daffa seperti meneriaki maling.


"Maaf, ada apa ya, Mbak?" tanya Daffa yang dengan tenang.


"Aku hamil, Daffa! Ini anak kamu ... kamu harus bertanggung jawab!" tandas Wanita itu sambil menangis.


"Hamil? Kenapa saya harus bertanggung jawab? Saya juga tidak tahu siapa kamu. Bahkan, kita baru bertemu detik ini," sangkal Daffa. Wanita itu justru semakin menangis.


"Aku tidak tahu, siapa yang sedang berbohong di sini. Tapi lihat saja, aku akan mengetahuinya dengan segera!" gumam Andhira yang diam-diam sudah berdiri di belakang Daffa.


"Aku tidak menyangka kamu akan setega ini padaku, Daffa!" cerca Wanita itu lagi.


"Hey, jangan mengada-ngada, ya. Saya tidak tahu kamu siapa? Nama kamu saja saya tidak tahu, bagaimana mungkin kamu bisa menuduh bahwa saya yang menghamili kamu?! Ini jelas fitnah," papar Daffa bersikukuh.


Andhira melihat jauh ke dalam mata wanita itu. "Ada kepura-puraan di sana," bisik hati Andhira.


Daffa yang belum sadar ada Andhira di belakanganya, terus melakukan elakkan dan pembelaan diri atas tuduhan Wanita yang datang kepadanya itu. "Mbak, saya tidak tahu apa masalah kamu dan saya juga tidak tahu siapa kamu sebenarnya. Yang jelas, kamu perlu tahu, bahwa saya sudah menikah dan saya tidak mungkin melakukan hal serendah itu pada wanita lain!" tegas Daffa.


"Awas kamu, ya. Kamu akan menyesal karena tidak mau mengakui perbuatan kamu!" ancam Wanita itu dengan amarah yang menggebu-gebu. Dia pun pergi sambil mendengus dan menghentakkan kakinya dengan kesal.


Daffa mengerutkan dahi seraya menggelengkan kepalanya. "Drama apa ini? Siapa yang berniat mnghancurkan rumah tanggaku?" gerutu Daffa sambil masuk kembali ke dalam rumahnya.


Andhira yang lebih dulu pergi ke kamar, kini kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur seperti sebelumnya. Sehingga Daffa tidak tahu bahwa Andhira sudah mendengar semuanya. Andhira juga membuka pakaiannya dan dalam keadaan polos, persis seperti saat Daffa terakhir melihatnya.


"Sayang ...," lirih Daffa menyapa.


"Siapa yang datang, Mas?" kata Andira pura-pura ingin tahu.


"Entahlah, wanita aneh," cicit Daffa dengan raut wajah tak senang.


"Memangnya aneh kenapa, Mas?"


"Tidak tahu, Sayang. Tiba-tiba saja dia datang dan meneriaki aku seperti itu. Lalu, dia menuduhku menghamilinya. Benar-benar menjijikan!" beber Daffa.

__ADS_1


"Benarkah? Kenapa dia melakukan itu, Mas?"


"Mana aku tahu, Dhira. Aku bahkan tidak tahu namanya, dan bertemu saja baru kali ini."


"Kenapa tidak Mas tanya saja namanya siapa."


"Untuk apa? Yang ada dia malah semakin mendapat peluang untuk menuduhku yang bukan-bukan."


"Kelihatannya Mas Daffa bicara jujur. Terbukti dari gelagat yang tampak yakin dan tidak terusik atas hal ini," batin Andhira menelaah.


"Dhira, kumohon percayalah! Aku tidak melakukan apa pun yang dituduhkan wanita itu padaku. Jelas ada dalang di balik semua ini," ungkap Daffa sembari meraih jemari tangan Andhira dan menciumnya.


Andhira mentap Daffa dengan lekat. Sebenarnya, dia cukup peka untuk melihat sebuah dusta atau kejujuran dari mata lawan bicaranya. Jadi, mudah saja bagi Andhira untuk mengetahuinya. Terlebih, dia sudah melihat dan mendengar semuanya.


"Tenang saja, Mas. Aku bukan tipe orang yang mudah diadu domba," jawab Andhira sambil menyunggingkan senyuman.


"Terima kasih, Sayang. Aku tidak mengira bahwa aku akan seberuntung ini," tutur Daffa dengan perasaan lega.


"Bodoh! Kenapa kamu tidak bersikukuh untuk membuatnya mengakui?" ucap seorang Lelaki.


"Bagaimana mungkin aku melakukannya, Farid. Dia tampak begitu yakin dan tidak gentar sedikit pun saat menerima tuduhanku."


Ya, dia adalah Farid, yang tidak lain merupakan adik tiri dari Daffa. Dan wanita yang bersamanya adalah Shella, orang suruhan Farid. Entah apa motif Farid melakukan semua itu? Yang jelas, dia memang tidak pernah suka melihat Daffa hidup dengan tenang.


Farid berdecak kesal. "Aku tidak mau tahu. Pokoknya aku harus mencari cara lain agar Abah dan Ummi marah pada Daffa. Sejak Daffa menikah, mereka selalu saja memuji Daffa. Aku tidak terima!" urai Farid sambil berjalan kesana kemari dalam kegelisahan.


"Tenanglah, Farid. Aku sempat melihat istri Daffa di belakangnya. Kurasa dia mendengar semua yang aku katakan. Mungkin, sekarang mereka sedang bertengkar hebat," tutur Shella sambil menyeringai licik.


"Bagus, itu yang aku harapkan. Semoga setelah ini rumah tangga mereka tidak lagi tenang dan akan berakhir berantakan," ucap Farid sambil mengangguk-anggukkan kepalanya penuh ambisi.


Kembali pada keadaan di dalam rumah Daffa dan Andhira. Keduanya tengah asyik menghabiskan waktu berkualitasnya. Tidak tahu dan tidak perduli ada rencana jahat apa di luar sana, yang tengah membidik untuk menghancurkan rumah tangga mereka. Yang pasti, ini adalah hari terbaik dari hari-hari sebelumnya. Walau sempat dijeda oleh hal tidak mengenakkan yang datang tanpa diduga. Namun, kejujuran dan rasa percaya rupanya berhasil mengokohkan tiang-tiang yang menopang hubungan baik yang baru saja dimulai itu.


"Sayang, apa kamu merasa lelah?" tanya Daffa yang melihat Andhira tampak lesu.

__ADS_1


"Sedikit, Mas," jawabnya singkat.


"Mau aku pijat?"


"Tidak usah, takutnya nanti malah Mas yang lelah," tolak Andhira dengan sopan.


"Tak apa, kemarilah, Sayang." Daffa langsung menaruh kepala Andhira di pangkuannya dan mulai memberi pijatan lembut di kepala Andhira.


"Ini rasanya sangat nyaman," lontar Andhira pelan.


"Kamu suka?" tanya Daffa sambil tersenyum. Andhira hanya mengangguk pelan dan memejamkan matanya, menikmati pijatan lembut itu.


Melihat Andhira yang begitu rileks dan sangat menikmati pijatannya, membuat Daffa terpikir untuk melakukan hal yan sama ke sekujur tubuh Andhira. "Tunggu sebentar, ya. Aku akan mengambil sesuatu." Daffa meletakkan kepala Andhira ke bantal, lantas dia berlalu.


Beberapa saat berikutnya, Daffa kembali lagi dengan membawa minyak zaitun di tangannya. Ya, itu adalah minyak aroma terapi khusus pijat. Tanpa meminta izin lagi, Daffa langsung menanggalkan seluruh untaian benang yang melekat di tubuh Istrinya.


"Mau apa, Mas?" sentak Andhira terkaget.


"Telungkup saja, Mas akan memijat sekujur tubuhmu agar tidak merasa lelah," titah Daffa.


Andhira pun menurutinya, dan mulai merasakan kenyamanan dari sensasi pijatan yang dilakukan Daffa pada tubuhnya. "Sejak kapan kamu bisa memijat, Mas?" lontar Andhira dengan suara khas orang yang sedang merasa nyaman.


"Sejak denganmu aku punya akal seribu, bahkan aku bisa melakukan apa saja yang sebelumnya tidak bisa aku lakukan," jawab Daffa sambil terus sibuk memijat. Andhira merekahkan senyum.


"Sudah, sekarang bagian depan," ujar Daffa.


Menyadari dirinya dalam keadaan polos, Andhira pun enggan untuk membalik posisinya badannya yang telungkup. "Tapi, Mas, aku ...."


"Aku sudah sering meihatnya, Sayang. Lagi pula, kita 'kan suami istri, jadi tidak ada masalah dengan semua ini." Daffa langsung membimbing Andhira untuk berbalik menjadi terlepa.


Kini tampaklah semua keindahan yang ada pada tubuh Wanita cantik itu. Lalu, apakah Daffa akan tahan untuk tidak tergoda. Kita lihat saja nanti.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2