
"Mas, kenapa Mas tidak mengatakannya sejak awal?" tanya Andhira.
"Aku kehilangan kepercayaan pada semua orang, Dhira. Bagaimana mungkin aku menceritakannya padamu. Sementara saat itu, kamu terhitung orang baru bagiku. Setiap ada orang yang baru hadir ke dalam hidupku, aku langsung teringat lagi bagaimana Ummi dan Farid datang, lalu mengubah sikap Abah terhadapku," papar Daffa.
"Tapi, aku 'kan bukan mereka, Mas."
"Benar, Sayang, tapi waktu itu aku belum tahu. Maafkan aku kalau kamu menjadi orang yang menerima akibat atas ketidakadilan yang kuterima di masa lalu."
"Bukan hanya itu, Mas. Kamu juga membuatku kembali pada trauma masa laluku," batin Andhira.
"Kemarilah, Sayang! Aku ingin memelukmu sepanjang sisa hidupku," tutur Daffa sambil membawa tubuh Andhira ke dalam pelukannya.
"Lalu, apa Mas juga akan melakukan apa saja sesuka hatimu, Mas?"
"Ya, kecuali untuk hal yang membuat Bidadariku ini sedih, maka aku pun tidak akan pernah melakukannya."
Andhira menikmati pelukan hangat dari suaminya itu. Meski di dalam hatinya, masih saja tesisa rasa perih yang membekas mengingat ulah kasar Daffa. Sesekali dia menengadahkan wajah pada Daffa, lalu Daffa menciumnya.
"Ya Robb, kalau melupakan kesalahan dan memaafkan bisa membuatku sembuh, maka tolong biarkan aku lupa pada kesalahan Mas Daffa dan memaafkannya," batin Andhira melangitkan sebaris doa.
"Danaunya indah ya, Mas."
"Ya, tapi tetap saja tidak bisa mengalahkan keindahan yang ada pada Andhira, istriku. Dia memiliki segala keindahan yang tidak dimiliki oleh apa pun dan siapa pun di dunia ini."
"Ihhh, Mas berlebihan."
"Untukmu tidak ada yang berlebihan, Sayang."
"Gombal!" cerca Andhira.
"Tidak," timpal Daffa.
Kehangatan semakin terasa saat Andhira mulai membalas pelukan Daffa. Ada yang berdesir di setiap aliran darah mereka. Rasanya seperti getaran dan api yang membuat keduanya terbakar gairah.
Daffa menggendong Andhira dan membawanya ke bawah pohon besar yang rindang. Lalu, mereka berciuman dengan indah, bahkan lebih indah dari berciuman di bawah sinar rembulan. Mereka semakin jauh tenggelam di lautan cumbu dan mesranya bujuk rayu yang melenakan.
"Mas, jangan di sini. Aku tidak mau dilihat orang," ujar Andhira membuat Daffa menghentikan cumbuannya.
"Kalau begitu kita pulang saja," ajak Daffa.
"Memangnya Mas bisa menahan sampai kita tiba di rumah?" goda Andhira.
__ADS_1
"Itu dia, Sayang. Sekarang saja aku sudah tidak tahan," ungkap Daffa dengan wajah lesu.
Andhira tersenyum dan berlari ke arah mobil. Dia meninggalkan Daffa yang masih mematung dengan ketegangannya. Namun, beberapa detik kemudian Daffa segera tersadar dan turut berlari mengejar Andhira.
"Kamu nakal," kata Daffa sembari menangkap tubuh Andhira.
"Tidak, bukan aku yang nakal, tapi Mas," sangkal Andhira sembari tertawa.
Sungguh pemandangan yang indah ketika sepasang suami istri berada dalam canda penuh cinta. Bukan tertutup kabut benci atau terbelenggu gemuruh dendam yang menggelegar. Mereka tertawa lepas untuk pertama kalinya, dalam damai dan lembutnya kasih sayang.
"Lepaskan, Mas! Aku geli, jangan gelitiki aku," pinta Andhira.
"Kalau begitu ayo kita pulang, Cantik." Daffa langsung membuka pintu mobil untuk Andhra. Kemudian, dia menyusul masuk dan mengemudikan mobilnya dengan perasaan lega. Kehangatan di antara keduanya masih terus berlangsung hingga di dalam mobil, sepanjang perjalanan menuju pulang.
Tak terasa, waktu yang ditempuh oleh mereka bagai sebentar. Padahal, jaraknya cukup jauh dan lama. Mungkin karena di dalamnya diisi dengan kegembiraan, mangkanya rasanya begitu cepat berlalu.
"Mau turun sendiri apa mau digendong?" goda Daffa saat mobil sudah tepat terparkir di garasi rumah mereka.
"Aku turun sendiri saja, memangnya aku bayi ... Mas menggendongku terus," kata Andhira mendumal manja. Daffa mengacak pelan rambut Andhira sembari tertawa kecil.
Keduanya terus saling melempar senyum sampai masuk ke dalam rumah. Daffa terlihat jauh berbeda dari biasanya. Ketampanannya memancar berkali lipat lebih terang dibandingkan sebelum-sebelumnya.
"Mas, aku mau membersihkan badanku dulu. Rasanya sangat lengket dan tidak nyaman," lontar Andhira sembari terus berjalan menuju kamar mandi.
"Aaaa, aku tidak mau mandi bareng kamu, Mas. Pasti akan jadi sangat lama nantinya," rengek Andhira.
"Ya sudah, Mas mandi di kamar mandi lain saja," kata Daffa mengalah. Andhira tersenyum senang.
"Padahal 'kan seru kalau mandi berdua. Aku bisa sekalian menjalankan tugasku sebagai pria perkasa," cicit Daffa sambil berjalan menuju kamar mandi lain di rumahnya.
15 menit kemudian ....
Andhira sudah segar usai mandi, begitu juga dengan Daffa. Mereka berganti pakaian bersusulan. Andhira menyelesaikannya terlebih dulu.
"Sayang, bisakah kamu mengambilkan kaos oblongku?" pinta Daffa.
"Baik, Mas, tunggu sebentar." Andhira langsung mencarikan kaos yang dimaksudkan oleh Daffa di dalam lemari.
Namun, sedang sibuknya mencarikan baju untuk Daffa. Lelaki itu malah memeluk tubuh Andhira dari belakang dan membisikkan kata-kata rayuan di telinganya. Andhira yang risih pun mencoba meloloskan diri dari dekapan lengan kekar Daffa.
"Lari saja, Sayang. Kamu tidak tahu bahwa semakin kamu berlari, aku justru semakin merasa tertantang," gumam Daffa pelan.
__ADS_1
"Mas Daffa selalu saja menginginkanku. Apa tidak ada jeda waktu untuk tidak melakukannya? Aku 'kan jadi malu sendiri," batin Andhira.
Beberapa detik kemudian, Daffa langsung menghempaskan diri ke atas tempat tidur melewati Andhira yang sedang duduk di tepinya. Lalu, memiringkan tubuhnya dan menopang kepalanya dengan tangan untuk memandangi Andhira yang sedang salah tingkah. Melihat Istrinya begitu, Daffa merekahkan senyum dan menikmatinya.
"Sayang, sini mendekat," titah Daffa seraya menepuk bantal kosong di sebelahnya.
"Mati aku! Apa lagi yang mau dia lakukan padaku?" batin Andhira merasa panik.
Tidak sabar menunggu Andhira, Daffa pun menarik tangan Wanita cantik itu hingga dia terjerembab ke atas tubuhnya. "Kamu membuatku menunggu lama, Sayangku."
"Mas, aku harus masak dulu," ujar Andhira mencari alasan.
"Tidak, Sayang. Aku tahu itu hanya alasanmu untuk menghindariku." Daffa menahan Andhira agar tetap berada di atas tubuhnya.
Andhira sudah tidak bisa mengelak lagi. Kini, dirinya pasrah pada apa yang Daffa lakukan. Dimulai dari mengubah posisi, di mana sekarang Daffa yang mengungkungi tubuh Andhira, lalu disusul dengan sentuhan-sentuhan kecil yang membuat bulu roma meremang.
Seperti yang Daffa harapkan. Andhira mulai masuk ke dalam permainannya. Dengan lincah Lelaki itu pun langsung menggarap tubuh Istrinya penuh perasaan.
Andhira mulai terbiasa dan mengimbangi permainan Daffa kala itu. Semuanya terasa sempurna. Kenikmatan menjalar ke sekujur tubuh dan menembus sampai ke lorong jiwa. Hingga keduanya memekik nikmat saat sampai di puncak pendakian gairah mereka.
"Ouggh, i love you, Sayangku," ucap Daffa sambil terengah.
Namun, masih seperti biasa. Andhira tidak membalas pernyataan cinta Daffa padanya. Dia hanya diam sambil memejamkan mata.
"Daffa! Keluar kamu!" teriak sesorang dari luar rumah.
"Cepat keluar dan jangan bersembunyi seperti pengecut."
Suara seorang wanita yang terdengar sangat marah terus mengulangi kata-katanya. Daffa mengerutkan dahinya merasa heran. Begitu pun dengan Andhira yang menatap Daffa penuh tanya.
"Siapa itu, Mas? Kenapa dia berteriak memanggil namamu?" tanya Andhira sembari menarik selimut dan menutupi tubuh polosnya.
"Aku juga tidak tahu, Sayang," jawab Daffa jujur.
Bersambung ....
Promosi : Jangan lupa mampir ke karya sohib othor kak Arandiah yang begitu memukau dan memesona ya, guys.
Judul : Menikahi Juragan Empang
Dijamin seru dan akan rugi kalau gak mampir. ❤❤❤❤❤
__ADS_1