IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 39 Bayang-Bayang Semu


__ADS_3

Berpayung langit mendung yang menyelimuti permukaan langit kala itu, Daffa pulang dengan sejuta kecamuk di dalam pikirannya. Terbersit rasa tak ingin jauh dari Andhira. Namun, dia tak dapat berbuat banyak. Sebab, itu telah menjadi sebuah pinta yang Andhira inginkan ketika Daffa menawarkan penghiburan. Andai saja waktu itu Daffa tahu bahwa Andhira akan memilih menginap tanpa dirinya, mungkin dia tidak akan melontarkan sebuah tawaran kepada Istrinya itu.


Riuh suara hujan mulai terdengar. Daffa yang sudah sampai di rumah pun dengan segera turun dari mobilnya. Dia mematung sejenak dan secara tidak terduga, dirinya melihat bayang-bayang Andhira di setiap matanya mengedarkan pandangan.


Lelaki itu mendengus kesal. "Kenapa wajahnya ada di sedekat dan sejauh mata memandang?" gerundalnya seraya meremaas rambutnya frustasi.


Hujan pun turun semakin deras. Dan lagi-lagi, Daffa melihat bayangan Andhira sedang menari-nari sembari tertawa di bawah guyuran hujan tersebut. Sontak saja senyumnya mengembang membalas bayangan Andhira yang tengah bergembira memercikkan air hujan pada dirinya, persis seperti yang mereka lakukan saat bermain hujan bersama. Akan tetapi, tidak lama setelah itu kesadarannya kembali dan dia tahu .... Tidak ada Andhira di sana. Yang baru saja dia saksikan hanyalah bayang-bayang semu.


"Dhira ...," lirihnya seraya meluruh di lantai garasi rumahnya. Menatap hujan yang membelenggu rasa rindunya pada Andhira.


"Andai aku tahu sejak lama betapa perihnya cinta sendiri, aku pastikan bahwa aku tidak akan pernah bertindak bodoh seperti yang sudah aku lakukan pada Andhira. Aku pernah mengabaikannya, aku tidak membalas senyumnya, aku berbuat kasar padanya dan dia masih diam saja. Tidak membalas, meski mungkin perasaannya begitu terluka. Ouuugh ... Sekarang Tuhan membuatku menuai apa yang telah aku tabur." Daffa meratap menyesali segalanya.


[Suara pesan masuk.]

__ADS_1


Daffa merogoh ponsel dari saku celananya. Dia memeriksa pesan yang masuk ke ponselnya tersebut dan membacanya dengan segera.


[Daffa, ini Mbak Nindi. Sejak tadi aku menelepon kamu, tetapi kamu tidak menjawab. Ada yang ingin aku bicarakan denga kamu perihal Andhira. Tolong balas pesanku.]


"Ohh, jadi yang sejak tadi menelepon itu adalah Mbak Nindi? Aku tidak tahu karena aku telah menghapus semua konta wanita dari ponselku, kecuali kontak ponsel Andhira."


Ya, ternyata Daffa melakukan hal yang sama yaitu menghapus semua kontak ponsel wanita yang terdapat pada benda pipihnya itu, dan menyisakan satu nama bertuliskan 'Istriku' sebagai satu-satunya nomer ponsel wanita yang dia simpan. Semua itu Daffa lakukan tepat di hari yang sama ketika dirinya meminta Andhira untuk menghapus semua kontak pria dari pnselnya.


Dengan cepat balasan pesan dari Nindi pun kembali Daffa terima. [Oke! Kita bertemu di cafe saja. Besok, pukul 17.00. Lokasinya nanti aku bagikan.]


[Baik, Mbak Nindi. Terima kasih.]


Daffa memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku celana. Selekas puas melamun sambil memandangi derasnya hujan, dia pun masuk ke dalam rumah. Rasa sepi menyambutnya mana kala Daffa membuka pintu rumah itu.

__ADS_1


"Dhira ...." Daffa menyebut nama itu dengan mata yang mengembun. Dia mengepalkan kedua tangan dan menggemeratakkan giginya. Perasaannya bercampur aduk antara geram, marah, rindu, dan cinta yang berbalut sesal semuanya hadir menyerang pikirannya.


Lelaki itu mulai melangkahkan kakinya menuju kamar. Namun, saat sudah berada di ambang pintu kamar itu, Daffa mengurungkan niatnya dan kembali menutup pintu kamar tersebut. Dia tidak ingin bayang-bayang Andhira semakin merajalela mengusik pikirannya. Terlebih, kamar itu adalah yang paling sering dijadikannya tempat untuk menghabiskan waktu berdua bersama Andhira. Sambil membuang napas dengan kasar, Daffa pergi ke sebuah ruangan.


Kalian tahu ruangan apa yang Daffa datangi? Itu adalah sebuah gudang. Sesampainya di gudang itu, Daffa membongkar sebuah kardus berisikan beberapa bingkai foto yang memampangkan potret wajahnya bersama Andhira, ketika menggunakan pakaian pengantin, atau simple nya foto pernikahan mereka. Selama ini foto-foto itu terkemas rapi dan tidak pernah dipajang di dinding. Daffa memang melarangnya karena dia tidak sudi melihat dirinya bersanding dengan Andhira kala itu. Namun, hari ini semuanya berubah. Daffa membawa foto-foto itu keluar dari sana dan mulai memajangnya di tempat yang dia mau, menggunakan tangannya sendiri. Sehebat itu Tuhan membolak-balikkan hati.


"Lihatlah, wajahmu tetap terlihat cantik, bahkan di saat dirimu tidak tersenyum," gumam Daffa berbicara pada potret wajah Andhira.


***


Keesokan sorenya, Daffa pergi ke sebuah cafe untuk memenuhi janji temunya dengan Nindi. Bersama hati yang berdebar kencang dan perasaan harap-harap cemas, Lelaki itu melenggang masuk ke cafe tersebut. Dia pun menghampiri sebuah meja di mana Nindi sudah duduk menunggunya di sana.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2