
Andhira masih memejamkan mata. Sesungguhnya dia merasa risih. Akan tetapi, seperti kata Daffa, bahwa mereka sudah suami istri. Maka, dia berusaha biasa saja.
Daffa meneguk salivanya dengan kasar. Matanya mengerjap seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Padahal, dia sudah sering melihat tubuh indah itu. Namun, kali ini rasanya berbeda.
"Mas ...," lirih Andhira seraya membuka matanya. Dia heran mengapa Daffa tidak juga memulai pijatannya.
"I-iya, Sayang. Kita mulai sekarang," ucap Daffa sambil menuangkan minyak aroma terapi ke bagian tubuh Andhira yang akan dia pijat.
Apa yang terjadi kemudian? Ahh, pasti kalian sudah bisa menebaknya. Ya, itu tidak diragukan lagi. Mereka melakukan pertempuran sengit hingga beberapa ronde. Sangat meresahkan bukan?
***
"Mas, aku ingin pergi jalan-jalan," ungkap Andhira dengan nada manja.
Sungguh, Daffa menyukai ini. Dia senang saat Andhira menjadikannya tempat bergelayut manja. Kehadirannya sebagai suami merasa dianggap dan dibutuhkan.
"Mau kemana, Sayang?" tanya Daffa sembari mengelus pucuk kepala Andhira.
"Aku ingin mengunjungi Hutan Kota," jawab Andhira.
"Baiklah, kita akan ke sana."
Andhira mengembangkan senyum di bibirnya dengan sangat indah. Apakah hati yang sedingin salju itu kini mulai mencair dan menghangat? Mungkin saja iya. Tapi, kita belum tahu seperti apa ke depannya.
"Bersiaplah, Sayang. Aku akan memanaskan mobil dulu," titah Daffa.
"Baik, Mas." Andhira pun pergi ke kamar untuk berganti pakaian. Sebab, saat itu dia masih mengenkan pakaian yang biasa untuk di rumah.
Daffa yang sedang memanaskan mesin mobilnya, tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran sosok seseorang. Seseorang yang telah lama menjadi batu pengganjal dalam perjalan hidup Daffa. Ya, dia adalah Farid, adik tirinya.
"Pagi, Mas," sapa Farid dengan wajah ramah.
Daffa tampak berpikir dan enggan menjawab sapaan Farid. "Ada apa?" tanya Daffa datar.
"Mas, aku 'kan adikmu, apa tidak boleh main ke rumahmu?" lontar Farid berbasa-basi.
"Sebaiknya jangan hari ini. Karena aku dan istriku mau pergi," jawab Daffa to he point.
Farid mematung, "sombong sekali," ujarnya. Lalu, dia pura-pura tersenyum pada Daffa.
"Mas, aku sudah si ...." Andhira tak melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
Matanya bertemu tatap dengan Farid. Andhira lalu mengangguk sopan, dan dibalas oleh Farid. Selekas itu, Farid menyapa Andhira. Lantas, Andhira menjawabnya biasa saja.
"Bagus, pasangan yang serasi. Tapi, jangan senang dulu. Ketenteraman kalian ini tidak akan lama." Farid memberi ancaman dalam bisik hatinya.
"Farid, kami mau pergi. Apa kamu akan tetap di sini, atau ikut kami?" tutur Daffa.
"Tidak di sini ataupun ikut, Mas. Aku mau pulang saja kalau begitu," jawab Farid sekaligus berpamitan.
"Oke," balas Daffa singkat. Hubungan kedua saudara tiri itu tampaknya sangat dingin.
Daffa bergegas masuk ke dalam mobil dan mulai mengendalikan kemudinya. Sedangkan Farid, dia juga sudah tidak terlihat karena sudah lebih dulu pergi dari sana. Wajah Daffa yang sebelumnya sangat ceria, saat ini terlihat sedikit murung.
"Mas, tadi itu Farid ...."
"Ya, dia ingin bekunjung ke rumah kita," jawab Daffa dengan cepat memotong kalimat Andhira. Tampak api kemarahan berkobar di sorot mata Daffa.
"Kenapa tidak disuruh masuk dulu tadi, Mas?" lanjut Andhira lagi.
"Berhenti membahasanya, Dhira. Bahas hal yang lain saja, itu sama sekali tidak penting!" tandas Lelaki beralis tebal tersebut.
Bibir Andhira tercekat dan menjadi kelu. Dia tidak berani lagi mengajak Daffa bicara kala itu. Padahal sebenarnya, Wanita itu sedang senang-senangnya bercerita apa saja pada Suaminya.
"Arrrgghhh," dengus Daffa sembari memukul stir mobilnya. Andhira terperangah tak bergeming.
"Mas kenapa? Aku minta maaf kalau aku salah," ucap Andhira pada akhirnya. Kentara sekali bahwa Andhira ketakutan pada kemarahan Daffa yang tiba-tiba, meskipun itu tidak ditujukan kepadanya.
"Tidak, Sayang. Ini bukan kesalahanmu. Aku hanya merasa terganggu dengan kehadiran Farid. Pasti ada sesuatu di balik semua ini!"
Andhira menghela napasnya dalam-dalam. "Mas, jangan buruk sangka dulu. Siapa tahu, Farid memang ingin berkunjung saja ke rumah kita," urai Andhira mencoba menenangkan Daffa.
"Tidak, Sayang. Aku hapal benar gelagat Farid," sangkal Daffa.
"Ini pasti ada kaitannya dengan kejadian kemarin," papar Daffa curiga.
"Ada apa, Mas?"
"Apa kamu ingat kejadian kemarin, Sayang?" tanya Daffa.
"Yang mana, Mas?" Andhira tampak mengingat-ingat.
"Wanita yang tiba-tiba datang ke rumah kita dan meneriaki aku, lalu menuduhku menghamilinya!" jelas Daffa.
__ADS_1
"Oh, itu ... aku ingat, Mas. Memang apa hubungnnya?"
"Aku belum tahu pasti, tapi mungkin saja kedatangan Farid tadi ada kaitannya dengan semua itu," terka Daffa.
"Tidak baik menduga-duga seperti itu, Mas." Andhira mengelus lembut bahu Daffa.
Daffa meraih tangan Andhira yang berda di bahunya itu, kemudian menciumnya. "Terima kasih, Sayang," kata Daffa penuh perasaan.
"Sudah menghadirkan kesejukan di tengah gejolak hatiku yang sedang membara," sambung Daffa lagi. Andhira hanya tersenyum tanpa berucap sepatah kata pun.
Keadaan di dalam mobil itu, membuat Daffa tidak sadar bahwa dirinya sudah salah memgambil arah jalan. "Sayang, bagaimana ini?" tutur Daffa cemas.
"Apanya yang bagaimana, Mas?" Andhira menatap Daffa penuh tanya.
"Aku salah mengambil jalan dan sepertinya ini sudah sangat jauh," terang Daffa.
"Hahaha ... putar balik lagi saja, Mas. Kenapa kamu cemas?" lontar Andhira sembari tertawa.
"Kamu tidak marah? Kita akan lama, loh, sampaiya."
"Aku rasa Mas tidak sengaja 'kan? Kenapa aku harus marah?"
Sekali lagi, perasaan Daffa merasa diselamatkan oleh kata-kata Andhira. Daffa diam-diam mengulas senyum sambil memperhatikan wajah Istrinya yang masih berhias gelak tawa di bibirnya. "Terima kasih, ya Rab. Atas kesempatan ini. Kesempatan di mana aku bisa merasakan indahnya ditenangkan, indahnya dimaklumi, dan indahnya disuguhi senyum dan tawa dari orang yang sebelumnya sangat kubenci, tapi kini ternyata aku sangat mencintainya." Daffa bicara dalam batinnya.
"Mas, kenapa diam?" ujar Andhira membuyarkan lamunan Daffa.
"Mas, awas, Mas!" teriak Andhira memperingati Daffa.
Daffa yang kaget langsung mengambil lajur kiri dan menepikan mobilnya. Rasa dag-dig-dug tidak berdaya menguasai diri keduanya. Bagaimana tidak? Mereka hampir saja mengalami kecelakaan, karena di depan mereka ada sebuah truk yang mengebut dari arah berlawanan. Bersyukur mereka masih bisa menyelamatkan diri.
"Mas ... apa kita sudah mati?" tanya Andhira dengan suara lirih dan napas terengah karena kaget.
"Kamu tidak apa-apa?" Alih-alih menjawab, Daffa justru sibuk memeriksa keadaan Andhira.
"Detak jantungku nyaris berhenti, Mas," ungkap Andhira.
"Maafkan aku, Sayang." Daffa langsung memeluk Andhira sambil berurai air mata. Dia tidak bisa membayangkan andai kecelakaan itu menjadi maut yang merenggut nyawa dan memisahkan mereka.
Sesaat, suasana menjadi sangat hening. Hanya suara napas dan isak tangis saja yang terdengar bersahutan di antara keduanya. Daffa berulang kali melepas, lalu memeluk kembali Andhira. Terus begitu hingga dia merasa yakin bahwa tidak ada yang terjadi.
'Sekarang aku mengerti, betapa berartinya dirimu bagiku, Andhira. Aku kira air mataku tidak akan pernah jatuh lagi setelah aku mendapatkan kembali perlakuan indahmu. Namun, ternyata aku salah. Sebab, nyatanya air mataku tetap jatuh karena merasa sangat takut akan kehilanganmu.'
__ADS_1
Bersambung ....