IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 75 Tersingkapnya Tabir Misteri


__ADS_3

Daffa benar-benar dirundung kecemasan. "Di mana kamu, Sayang?" gumamnya melontar tanya sendiri sekali lagi.


Akhirnya, Daffa pergi berjalan meninggalkan dapur, untuk kembali mencari Andhrira. Namun, tiba-tiba saja ada suara yang menyeru nama Daffa dan berhasil membuat Lelaki itu menghentikan ayunan langkah kakinya. Ya! Itu adalah suara Andhira.


"Mas sudah pulang?" ulang Andhira saat mendapati Daffa tidak menjawab, saat dia menyeru namanya.


"Ya ampun, Sayang. Kamu dari mana saja, sih? Aku hampir gila mencari-cari keberadaanmu," ujar Daffa seraya merapatkan tubuh Andhira ke dalam pelukannya.


"Kenapa Mas Daffa menangis?" batin Andhira.


"Mas, aku habis dari mini market. Tadi waktu aku mau masak, ternyata garam dan gula kita sudah habis. Jadi aku membelinya ke sana," terang Andhira dengan suara pelan.


Daffa tidak bergeming. Dia terus memeluk Andhira seakan tidak mau melepaskannya. "Jangan buat aku khawatir lagi, Sayang ...," lirih Daffa masih dengan pelukan posesifnya.


Andhira melepaskan pelukannya dari Daffa. Kemudian, dia menyeka air mata yang tumpah di pipi Daffa. "Jangan menangis, Mas. Kenapa kamu membuatku sedih?" tutur Andhira dengan mata yag juga berkaca-kaca.


"Aku pikir kamu masih marah padaku dan pergi," ungkap Daffa.


"Untuk apa aku pergi, Mas? Aku sudah memutuskan untuk menetap di sini," kata Andhira sambil meletakkan tangannya dada Daffa.


"Setelah semua masa-masa sulit yang sempat kita lalui. Lalu, masihkah kamu berpikir aku akan pergi saat aku sudah memenangkan perjuangan ini?" lanjutnya lagi.


Sebuh senyuman terbias dari bibir Daffa. Ternyata, kekhawatirannya tidaklah benar. Dia hanya terlalu takut akan kehilangan Andhira-nya.


"Mas lelah? Ingin kumasakkan apa?" lanjut Andhira mencoba mengurai suasana yang sempat kaku.


"Tidak mau, Sayang. Aku akan mengajakmu pergi untuk makan di luar." Daffa langsung mengambil kantung belanjaan dari tangan Andhira dan menaruhnya.

__ADS_1


"Kita mau kemana, Mas?" tanya Adhira saat Daffa menarik pelan tangannya.


Daffa tidak menjawab dan terus membawa Andhira hingga duduk di dalam mobil. "Pakai sabuk pengamannya, Sayang," titah Daffa.


Andhira mengerutkan keningnya dan tidak juga memakai sabuk pengaman seperti titah Daffa. Lantas, Daffa yang melihat Adhira hanya diam pun akhirnya memasangkan sediri sabuk pengaman itu pada Andhira. Kemudian, mobil pun Daffa lajukan dengan perlahan.


Di sepanjang jalan yang entah mau ke mana. Andhira sempat ingin bertanya lagi. Namun, bibirnya terasa kelu dan pikirannya merasa percuma, karena Daffa pasti hanya akan menjawabnya dengan diam sambil melemparkan senyuman. Akhirnya, Andhira memilih diam saja dengan sejuta tanya dan kebingungannya.


Di kisaran waktu kurang dari satu jam. Mereka pun sampai di sebuah restoran. Tepatnya, restoran yang menjual makanan khas tanah pertiwi yang sangat membumi. Kalian ingat tidak, tentang makanan yang dulu Daffa beli dari luar untuk diberikan pada Andira, bersamaan dengan obat perangsaang yang Daffa tuangkan di minuman Andhira? Ya, makanan itu Daffa bawa dari sana. Dari restoran yang Daffa dirikan bersama rekan bisnisnya yang benama Alfian.


Daffa ingat, kala itu Andhira tampak menyukai makanan yang dia bawakan. Oleh karenanya, dia ingin mengajak Andhira memakan makanan yang sama, tapi dengan keadaan dan perasaan yang berbeda, juga tentu saja penuh kasih dan cinta. Semua pelayan tampak ramah menyambut Daffa.


"Mereka kenapa, sih, Mas?"


"Tidak apa-apa, Sayang. Mereka 'kan memang harus ramah pada pengunjung," jawab Daffa.


"Iya juga, sih, Mas. Tapi sikap mereka padamu tampak berbeda. Seperti hormat pada pemilik restorannya saja," gerutu Andhira merasa janggal.


Andhira dan Daffa nenoleh secara berbarengan pada Lelaki itu. Daffa menunduk menyembunyikan senyumnya. Sedangkan Andhira, dia masih setia pada kebingungannya.


"Kenalkan, saya Alfian. Partner bisnis Daffa sekaligus salah satu owner dari restoran ini. Ya, walaupun kami tidak pandai memasak, tapi kami nekad mendirikan sebuah restoran dengan bantuan para pekerja," cetus Alfian sembari tertawa.


"Ooh, begitu. Saya Andhira," jawabnya sambil tersenyum.


"Mas ...," lirih Andhira dengan tatapan mengintrogasi.


"Maafkan aku, Sayang. Aku baru ingin memberitahumu, tapi si Sialan itu sudah mendahuluiku," ucap Daffa sambil memicing ke arah Alfian dan disambut tawa oleh partner bisnisnya tersebut.

__ADS_1


Usai perkenalan itu, mereka pun makan bersama. Dengan salah satu menu yang persis juga seperti waktu itu. Dan benar saja, Andhira tampak lahap memakannya. Daffa pun merasa senang melihatnya.


Namun, tiba-tiba waktu makan mereka terjeda saat seorang wanita dengan seorang balita laki-laki berusia sekitar 3-4 tahun, datang menghampiri meja mereka. Bocah itu memanggil Alfian dengan sebutan ayah. Dan kalian tahu siapa wanita yang bersama anak itu? Dia adalah orang yang sangat Andhira kenal, bahkan salah satu sahabat terbaiknya.


"Maya!" kata Andhira dengan sangat terkejut. Benar, dia adalah Maya.


"Hai, Dhira. Kenalkan ini Albi, putraku yang kuceritakan padamu dulu," papar Maya. Bocah itu hanya menatap polos pada Andhira.


"Jadi, kamu dan Alfian ...."


"Kami memutuskan untuk kembali dan mengrurus buah hati kami bersama lagi. Setelah keegoisan yang ternyata tidak bisa menyelesaikan masalah, dan hanya menambah rumit hidupku. Aku memutuskan untuk membawa Ibu dari Putraku berkumpul bersama kami lagi," jelas Alfian sebelum Andhira sempat menyelesaikan kalimat tanyanya.


"Iya, Dhira. Alfian adalah mantan suamiku yang sekarang sudah menjadi samiku lagi," timbrung Maya malu-malu.


"Jadi, kamu sudah kenal suamiku sejak lama juga?" tanya Andhira.


"Kami tidak dekat, tapi kami saling tahu," pungkas Daffa.


"Ohh, pantas. Rupanya, suamiku adalah teman dari mantan suamimu yang sekarang sudah rujuk," kata Andhira sambil mengingat Maya yang dulu sangat membenci suaminya, Daffa.


"Iya, Dhira. Dan aku minta maaf, karena aku sempat tidak setuju pada pernikahan kalian," ungkap Maya sambil tertunduk. Sepertinya dia merasa tidak enak.


Alih-alih mempermasalahkan, Andhira dan Daffa malah tertawa terpingkal-pingkal. Wajah malu-malu Maya, sangat lucu bagi mereka. Lagi pula, sekarang Daffa dan Andhira tidak ingin pusing memikirkan hal itu. Mereka lebih ingin fokus pada hal-hal yang membahagiakan.


Kini di meja itu berkumpul dua keluarga yang saling bersahabat. Kehangatan begitu kentara, dan kebahagiaan di wajah mereka terlihat indah, seindah pelangi seusai badai. Warnanya terus menghiasi kebersamaan mereka. Tabir misteri yang sempat menutupi dan membuat ganjalan di hati pun, saat ini telah tersingkap. Tidak ada lagi hal yang perlu dicurigai tentang Maya dan keberatannya dulu.


Bersambung ....

__ADS_1


Sekilas info : Guys, novel ini kini hadir dengan audibook, ya. Jadi selain membacanya, kalian juga bisa banget, nih, dengerin audibook-nya. Semoga suka. Terima kasih. 🖤❤❤



__ADS_2