IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 26 Rasa Hati Yang Mati


__ADS_3

Daffa memejam bersama rasa leganya. Entah karena hasratnya telah tersalurkan, atau karena mendengar Andhira yang mengatakan bahwa dia bersolek untuk dirinya. "Ahh, perasaan apa ini? Kenapa semakin hari ruang pikiranku dipenuhi oleh Andhira?" bisik hati Daffa resah.


Daffa mulai merasa aneh pada dirinya sendiri. Setiap kali dia berusaha mangkir dari perasaan tertariknya pada Andhira, pikirannya justru semakin gencar mengingat semua tentang dia. Senyumnya, marahnya, tangisnya, aroma tubuhnya dan semua yang ada pada Andhira bertahta dalam benak Daffa.


***


Tiga bulan sudah berlalu sejak saat itu. Andhira menjalani setiap harinya dengan kepura-puraan, bahwa dia menerima Daffa seutuhnya sebagai suaminya. Padahal, perasaannya begitu hambar. Tak ada sedikit pun percikan cinta yang membuat jiwanya bergetar dan menggelora kala dirinya sedang bersama Daffa.


"Aku tidak tahu, kehidupan macam apa yang sedang aku jalani ini? Semua yang aku lakukan adalah palsu, kecuali rasa sakit dan air mataku," gumam Andhira.


"Dhira, apa kamu sudah siap?"


"Sudah, Mas," jawab Andhira sembari menghadirkan senyuman palsu di bibirnya.


Hari ini Daffa mengajak Andhira untuk pergi ke sebuah pantai. Disadarinya selama ini dia hanya membiarkan Andhira di rumah saja. Namun, kali ini Daffa ingin Andhira merasakan udara pantai yang segar, sebagai upaya untuk memberikan apresiasi terhadap Istrinya itu atas kepuasan pada pelayanan yang dia berikan, Daffa bermaksud mengajaknya berlibur.

__ADS_1


Apresiasi atas kepuasan yang dia dapat? Ya, begitulah yang Daffa pikirkan. Rupanya, Lelaki itu masih belum mengerti tentang hakikat sebuah pernikahan, yang selayaknya memberikan penghargaan kepada pasangan hidupnya atas dasar cinta dan kasih sayang, bukan sekedar menimbang kepada puas dan tidaknya sebuah pelayanan. Apa dia pikir Andhira adalah seorang wanita penghibur, yang bisa dia nilai berdasarkan kepiawaiannya dalam memuaskan?


Memikirkan tentang pola pikir Daffa dalam sudut pandangnya mengeni Andhira, sudah membuat kepala pusing. Apa lagi kalau harus berada di posisi Andhira. Itu terlalu menyakitkan.


Setelah menempuh perjalanan dengan waktu sekitar dua jam lamanya, Mereka pun sampai di pantai tersebut. Mata mereka langsung disuguhkan dengan pemandangan alam yang begitu indah dan memanjakan mata. Itu pasti akan menjadi hal yang lebih menyenangkan, andai dilakukan bersama orang yang selaras dalam cinta maupun perasaan, bukan sekedar bersama orang yang hanya berstatus sebagai sepasang suami istri, tapi tidak miliki arti dari ikatan itu sendiri.


Andhira menatap ke laut lepas. Segarnya tiupan angin yang menerpa seluruh tubuhnya, membuat senyum Andhira mengembang. Wanita yang semakin hari hatinya kian mati rasa tersebut, tampaknya sangat menikmati panorama pantai yang khas itu.


Tiba-tiba saja, suara sepasang kekasih terdengar ke telinga Andhira. Mereka saling merayu dan mengungkapkan perasaannya masing-masing dengan gambaran cinta yang indah luar biasa. Pikiran Andhira terbuyar diterpa manisnya rayuan gombal yang mengalun dari dua sejoli itu. Lantas, dia melirik dengan ekor matanya seraya tersenyum kecut.


"Cinta, cinta, cinta! Semoga cinta kalian tidak mati seperti perasaanku," cicit Andhira berdesis sinis.


"Terima kasih," ucap Andhira sambil menyimpulkan senyum, lalu menyesap air kelapa muda segar tersebut.


"Bagaimana? Apa kamu suka tempat ini?" tanya Daffa.

__ADS_1


"Ya, aku tidak punya pilihan selain menyukainya," jawab Andhira.


"Kenapa begitu, Dhira?"


"Mau bagaimana lagi? Terkadang hidup memaksaku untuk menjalani takdir yang tidak aku sukai. Rasanya sangat berat dan membuat hatiku lelah. Karena itu, aku memilih untuk tetap menyukainya, agar bebanku berkurang, agar pikiranku ringan, dan supaya hatiku lega. Meski, itu sama sekali tidak mudah bagiku," sarkas Andhira yang sebenarnya menyindiri Daffa.


"Aku 'kan hanya menanyainya tentang tempat ini. Lalu, mengapa dia malah membahas perihal hidup dan sebuah takdir?" batin Daffa dengan nalar yang tak sampai.


"Kenapa diam, Mas? Apakah itu berarti kamu paham atau malah sebaliknya?" lontar Andhira dengan tatapan meremehkan.


"Eemm, kata-katamu terlalu sulit untuk kucerna dan kupahami," jawab Daffa.


"Hahaha ... hanya orang yang memiliki kepekaan tinggi yang bisa dengan mudah memahami, bahkan merasakannya, Mas. Jadi, wajar saja kalau kamu tidak mengerti."


Lelaki itu terdiam mematung. "Apakah itu berarti aku bukan orang yang peka?" bisik hati Daffa bertanya-tanya.

__ADS_1


Bersambung ....


Jangan lupa dukungannya, ye. Biar othor semangat up. 😚❤❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2