IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 68 Sebuah Tangis Penyesalan


__ADS_3

Farid yang masih sibuk dengan pikirannya, malam itu dia duduk termenung di tepi ranjang. Mengingat betapa kotor, curang, dan egois dirinya selama ini. Dia beranjak ke meja nakas dan mengambil sebuh bingkai foto yang memperlihatkan potret wajah dirinya bersama Abah, Ummi dan juga Daffa beberapa tahun silam, tepanya saat hari raya besar yang di dalam agama mereka disebut dengan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran.


'Daffa, hidupmu sangat beruntung. Meski ibu kandungmu telah lama pergi meninggalkanmu, tapi Abah menyayangi ibumu semasa hidupnya. Tidak seperti Ayah kandungku yang selalu saja menyakiti Ummi. Bahkan, sampai akhir hayatnya dia tidak pernah bertanya bagaimana keadaan sekolahku, pergaulanku, apa yang aku mau, atau setidaknya memberikan sedikit saja perhatian yang aku butuhkan. Mungkin itulah sebabnya, kemudian aku bersikap selalu mencari perhatian dari sosok seorang Abah. Aku iri pada hidupmu yang sempurna, Daffa.'


Farid bergumam sendiri sambil menangis tanpa suara. Dan kalian juga pasti tahu 'kan? Itu rasanya sangat menyesakkan jiwa. Hal yang seakan mustahil dilakukan oleh seorang Farid yang arogan dan terkesan tidak punya perasaan. Tapi kali ini, sungguh dia benar-benar menangis.


"Entah mengapa hatiku gelisah? Aku merasa lelah dengan hidupku sendiri. Aku terlalu bergelimang dosa. Mungkinkah orang-orang yang sudah aku sakiti akan mau memaafkanku?" batin Farid sembari menghela napas kasar. Dia merasa risau dan galau.


Lantas, Lelaki itu menaruh kembali bingkai foto yang dia pegangi. Kemudin, masih dalam keadaan menangis dia berlari mencari keberadaan Ummi. Kaki gamangnya melangkah menuju dapur dan ya, dia menemukan wanita yang dipanggilnya Ummi itu sedang mencuci piring di sana.


Farid berdiri di ambang pintu dapur. Mengatur napas yang demikian terasa nyeri karena dia menahan suara tangisnya agar tidak keluar. Walau air mata terus saja membasahi pipinya. "Ummi ...," lirih Farid dengan suara tercekat oleh sedu sedan.

__ADS_1


Ummi menoleh ke arah suara lirih tersebut. Tersirat di wajah sendunya seutas kemarahan yang mulai reda usai melihat benda basah di pelupuk mata Farid. "Farid," sambut Ummi.


"Maafkan Farid, Mi." Lelaki itu bersimpuh sambil memohon di kaki Ummi. Pemandangan itu benar-benar teramat membuat hati terenyuh. Ummi pun tidak mampu menahan dirinya untuk tidak turut menangis.


"Bangun, Nak," ucap Ummi sembari menahan luapan tangisnya. Dia membimbing Farid untuk bangkit berdiri.


"Ummi, Farid minta maaf pada Ummi dan Abah. Farid sudah melampaui batas dan melupakan didikkan baik dari Ummi dan Abah selama ini. Ampuni Farid, Mi."


"Bangun, Nak. Mari kita bicara," ajak Ummi sembari merangkul Farid. Mereka pun duduk dan bicara di ruang keluarga. Saat itu, Abah masih ada keperluan di luar. Jadi, Abah tidak melihat peristiwa mengharukan ini.


"Ummi, maaf kalau selama ini Farid menyita seluruh perhatian Abah dan Ummi. Farid hanya ingin perhatian dari sosok seorang ayah, Mi. Ummi tahu 'kan Almarhum Ayah dulu-"

__ADS_1


"Ummi paham, Nak. Ummi tahu tanpa kamu harus menjelaskannya pada Ummi. Tapi kamu juga paham 'kan? Sepahit apapun kehidupan yang kita jalani, tetap tidak dibenarkan jika kita mengambil jalan yang menyimpang lagi menyalahi hak orang lain. Ingat, Nak, kita hidup dengan aturan, Sayang."


"Iya, Mi. Maafkan Firid, Mi."


"Sudahlah, Nak. Ummi juga minta maaf kalau selama ini kurang memperhatikan kamu."


"Tidak, Mi. Ini semua salah Farid. Ummi sama sekali tidak salah, Mi." Tangis Farid kembali pecah di dalam pelukan Ummi. Sama seperti waktu kecil dulu. Di mana dia akan mengadu dan menangis di pangkuan Ummi setiap kali merasa sedih.


Farid mengakui kesalahannya dengan lapang dada. Dia menerima andai kata Abah dan Ummi memberinya hukuman. Perbuatannya sudah terlanjur terjadi, kini yang tersisa hanya sesal dan sepenggal harapan. Semoga Ummi, dan Abah tidak membencinya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2