IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 38 Untuk Satu Malam Saja


__ADS_3

Daffa mengernyitkan dahi kala melihat nomor yang tertera di ponselnya tidak dikenali. Dia pun mengurungkan niatnya untuk mengangkat panggilan telepon tersebut. Lantas, dia menaruh lagi ponselnya di atas nakas, dan kembali duduk di bibir ranjang di samping Andhira.


"Siapa itu, Mas? Kenapa tidak diangkat saja? Siapa tahu ada hal penting," ujar Andhira.


"Tidak tahu! Aku tidak kenal nomornya," jawab Daffa seperlunya. Andhira mengangguk pelan.


"Dhira ... Kenapa kamu menyakiti dirimu sendiri begini? Lihat, sekujur tubuhmu terdapat memar, lalu tanganmu juga kamu lukai," tutur Daffa seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian tubuh Andhira yang dia sebutkan.


"Bagaimana caraku menjelaskan ini padamu, Mas?" ucap Andhira menatap Daffa.


"Semuanya terjadi begitu saja di luar kendaliku. Aku merasa, mungkin aku sudah sakit jiwa," imbuh Andhira seraya menangis tanpa suara.


Daffa memeluk Andhira sambil membelai pucuk kepalanya dengan lembut. "Jangan bicara seperti itu! Tenanglah, kita akan melewati semuanya bersama-sama," bisik Daffa berupaya untuk menenangkan Andhira.


"Bagaimana mungkin aku bisa tenang, Mas? Jika penyebab kekacauan yang terjadi padaku adalah dirimu. Kamulah benih kesakitan yang tumbuh dan menyebar di sekujur tubuh hingga jiwaku!" tandas Andhira di dalam hati.


"Katakan padaku! Apa yang bisa menghibur perasaanmu?" tanya Daffa seraya melepas peluk dan meluruskan tatapan ke mata Andhira. Dia juga menyeka air mata Andhira


"Aku ingin menginap di rumah Ibu, Mas," ungkap Andhira.


"Baiklah, kita akan menginap di rumah Ibu," setujui Daffa tanpa drama penolakan.


"Tapi, aku ingin sendiri, Mas. Untuk satu malam saja," lanjut Andhira dengan tatapan memohon.

__ADS_1


Daffa tampak diam berpikir. Lalu, dengan berat hati dia mengabulkan keinginan Andhira untuk menginap di rumah ibunya tanpa Daffa. "Kalau begitu bersiaplah! Aku akan mengantarmu," titah Daffa.


"Tidak perlu kamu antar, Mas. Aku akan pergi sendiri dengan sepeda motor," tolak Andhira dengan nada halus.


"Sayang, tolong jangan buat aku terbebani dengan rasa khawatir. Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu sampai ke rumah Ibu dengan selamat, itu saja."


"Baik, Mas." Patuh Andhira.


"Ini, pakai bajumu dulu. Biar aku siapkan keperluan yang lain," seloroh Daffa memberikan baju pergi yang dia ambil dari dalam lemari.


"Sesaat dia tampak seperti malaikat, sesaat lagi dia bagai iblis yang merongrong di dalam pikiranku. Kurasa, ... aku sudah benar-benar gila." Andhira mulai bingung menilai pribadi Daffa dalam hidupnya.


Wajar saja jika Andhira berpikir begitu. Lihatlah, Daffa yang kini sikapnya berubah bagai bumi dan langit dibandingkan sikap dia sebelum-sebelumnya. Sayangnya, hati Andhira tak lagi mudah untuk diluluhkan. Sebab, terlalu dalam Daffa menggali ceruk-ceruk luka di batin Andhira. Hingga untuk saat ini, sikap Andhira hanya sekedar perilaku tanpa sebuah perasaan. Kendatipun Andhira masih mematuhi Daffa, tetap saja tidak berarti hatinya telah menerima. Itu hanya sekedar formalitas semata.


Tibalah mereka di rumah ibu Andhira, Salamah. Daffa mengantarkan Andhira sampai masuk ke dalam rumah. Seperti biasa mereka menyapa dengan saling memberi salam.


"Nak Daffa, Dhira, ada apa ini? Tumben sekali ke sini tidak mengabari dulu," komentar Salamah sedikit terkejut.


"Iya, Bu. Putri Ibu ingin menginap, katanya. Jadi, ya sudah Daffa antarkan saja," jawab Daffa sembari tersenyum ramah.


"Ooh, begitu ya, Nak? Ibu kira ada apa-apa," sambung Salamah lagi.


"Tidak ada apa-apa, Bu. Dhira hanya rindu ingin tidur bersama Ibu," timbrung Andhira.

__ADS_1


"Hehehe, lihat 'kan Nak Daffa. Ibu sudah bilang kalau Andhira masih suka manja," tutur Salamah meledek Andhira.


Daffa menyunggingkan senyuman. "Dan aku telah memperlakukan Purtimu dengan buruk, Bu," sesal Daffa di dalam hati.


"Mari, Nak, kita duduk dulu," ajak Salamah.


"Tidak perlu repot, Bu. Daffa mau langsung pulang saja," tolak Daffa sopan.


"Loh, kenapa buru-buru, Nak? Ibu pikir, Nak Daffa juga mau sekalian menginap di sini," kata Salamah merasa janggal.


Daffa menoleh ke arah Andhira yang hanya diam dengan raut wajah datar. "Karena Dhira tidak mau aku berada di sini, Bu," jawab Daffa di dalam hati.


"Nak Daffa!" seru Salamah berusaha mengembalikan fokus Daffa.


"I-iya, Bu. Daffa tidak bisa menginap untuk saat ini, Bu. Mungkin lain kali saja, karena Daffa masih ada urusan yang harus diselesaikan," alibi Daffa menutupi yang sebenarnya.


"Ooh, baiklah kalau begitu."


Daffa pun berpamitan untuk pulang. Walau malu-malu, dia memberanikan diri untuk mencium kening Andhira di hadapan Ibu Mertuanya tersebut dan kemudian pergi. Ada rasa berat untuk melangkahkan kakinya meninggalkan Andhira. Lelaki itu telah benar-benar jatuh cinta pada Istrinya tersebut.


Seperginya Daffa dari rumah itu. Andhira memeluk erat Salamah. "Ibu, Dhira ingin tidur dengan nyenyak, boleh 'kan?" papar Andhira.


Salamah tidak menjawab dan hanya membalas pelukan Andhira. "Apa yang terjadi pada Putriku sebenarnya? Kenapa tingkahnya begitu aneh?" batin Salamah bertanya-tanya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2