
Bagai tertusuk duri yang ditanam oleh tangannya sendiri. Begitulah kira-kira perasaan Daffa saat itu. Kalian tahu? Dia bahkan bersimpuh di kaki Salamah, memohon dimaafkan atas perilaku kasarnya terhadap putrinya, Andhira. Dia menyesal sejadi-jadinya atas masa lampau itu.
"Maafkan Daffa, Bu," ujarnya lirih.
"Bangun, Nak. Ibu tidak membenarkan perbuatanmu pada Dhira di waktu yang lalu, tapi sekarang bukan saatnya untuk menyalahkan. Lebih baik kita sama-sama membantu Dhira berjuang," tutur Salamah dengan lapang hati.
Daffa bangkit, lantas dia mendekati Andhira dan memeluknya seraya terisak. "Maafkan aku, Sayang. Maaf atas seluruh kesakitan yang kamu terima karenaku. Maaf karena aku gagal menjagamu sedari awal."
Andhira hanya menangis dalam diamnya. "Entahlah, Mas. Hatiku telah beku bagai gunung es yang entah kapan akan mencair," jawab Andhira di dalam hati.
"Mbak, bagaimana kalau Daffa bawa saja Andhira pulang?"
Nindi tersentak dan menoleh pada Salamah yang juga terlihat ragu. "Ee ... Apa tidak sebaiknya Dhira tetap di sini saja, Daf? Lagi pula, akan lebih mudah bagi kita untuk mengontrol Andhira," sanggah Nindi.
Daffa diam seakan patah arang. Sungguh, maksud Daffa ingin membawa Andhira pulang adalah untuk bertanggung jawab penuh atas diri Andhira. Namun, karena keluarga dari Istrinya itu meragukan niatnnya, dia pun tidak bisa berbuat banyak. Daffa sadar akan kesalahannya sehingga dirinya menuai keraguan tersebut.
"Mas Daffa benar, Mbak, Bu. Biar bagaimanapun rumah Dhira bersama suami Dhira. Jadi, tidak apa-apa, ya. Dhira akan ikut pulang bersama Mas Daffa."
Mereka semua merasa terkejut dengan pernyataan Andhira, tidak terkecuali Daffa. Pasalnya, sebelum ini Andhira juga menolak untuk dibawa pulang ke rumah Daffa. Namun, tiba-tiba saja pikirannya berubah tanpa diduga.
__ADS_1
"Kamu yakin, Dhira?" tanya Nindi memastikan.
"Iya, Mbak," jawab Dhira singkat.
"Bagaimana, Bu?" Nindi melemparkan tanya pada Salamah.
"Semuanya terserah Dhira saja," pasrah Salamah.
Daffa merekahkan senyuman di bibir tebalnya yang seksi. Dia menatap lekat ke wajah Andhira. "Terima kasih atas kesempaan ini, Istriku," ucap Daffa dalam batinnya.
"Kalau memang semuanya setuju, Nindi tidak bisa memaksakan. Hanya saja, ada beberapa hal yang harus diketahui terutama oleh Daffa," ungkap Nindi.
"Dokter meresepkan obat untuk berjaga-jaga. Kamu juga harus mengenali gejala-gejala dan fase-fase yang dialami Andhira."
Nindi menjelaskan bahwa ada beberapa fase yang dialami oleh pengidap bipolar seperti Andhira. Diantaranya, fase mania (naik) di mana pada fase ini pengidapnya akan terlihat senang secara berlebihan, bersemangat tinggi dan enerjik. Kemudian, fase depresi (turun) di mana pengidapnya terlihat sedih, lesu dan putus asa. Bahkan, tidak jarang mengalami dorongan untuk mengakhiri hidup atau bunuh diri. Walau begitu, kasus yang terjadi pada Andhira sendiri, tetap mengalami periode normal. Karena semua alasan itulah, Nindi sangat mewanti-wanti Daffa.
"Semua poinnya sudah Daffa catat, Mbak. Daffa akan berusaha semaksimal mungkin," terang Suami Andhira tersebut.
"Itu harus, Daf! Dan juga ada pertemuan rutin yang sudah terjadwal bersama dr. Chatra, pskiater yang menangani kasus Andhira," tandas Nindi.
__ADS_1
"Siap, Mbak." Daffa menyanggupi semuanya tanpa keraguan.
Keduanya pun bersiap untuk pulang ke rumah mereka. Tak lupa sebuah pelukan hangat diberikan secara bergantian oleh Andhira kepada Salamah, dan juga Nindi. Entah bagaimana perasaan Andhira saat itu, tapi tampaknya dia sedang tenang.
"Daffa pamit ya, Bu," ucap Daffa sembari menyalami tangan Salamah.
"Jangan buat kami kecewa lagi, ya!"
"Iya, Bu, Daffa berjanji."
"Daffa, kalau kamu tidak sanggup lagi berjuang, lebih baik menyerah, tapi tolong jangan lampiaskan dengan menyakiti adikku!" pesan Nindi dengan tegas. Daffa mengangguk patuh.
Mereka melambaikan tangan dari dalam mobil, lewat kaca jendelanya yang terbuka. Setelah salam perpisahan itu, Daffa pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Bersama hati yang berkabut duka, Daffa menoleh berkali-kali ke arah Andhira di sela-sela mengendalikan stir mobilnya. Hingga fokusnya menjadi terbagi-bagi.
BRAKKK!!
Terdengar suara benturan yang sangat keras antar kendaraan yang tengah melintas.
Bersambung ....
__ADS_1