
Malam datang bertandang mengusir senja yang telah terbiasa hadir dengan sementara. Daffa kembali ke rumahnya membawa sejuta kesedihan dan perasan hampa. Dia mulai menyalakan lampu-lampu ruangan saat sudah tiba di sana. "Meski cahaya lampu-lampu ini begitu terang, tetapi tak mampu mengubah gelapnya hatiku tanpa kehadiranmu, Dhira," gumam Daffa dalam kesepiannya.
***
"Dhira, ayo bangun! Ini sudah pukul 21.00. Kamu melewatkan makan malammu, Sayang," ucap Salamah seraya mengguncang pelan tubuh Andhira.
Namun, Andhira tidak bergeming sedikit pun. "Dhira tampak seperti orang yang tidak tidur dalam waktu yang lama. Padahal, dia sudah tidur sedari siang," gerundal Salamah.
"Lagi pula, seingatku dia hanya izin menginap untuk satu malam saja pada suaminya, Daffa. Lalu, bagaimana kalau dia tidak mau bangun begini? Dan Daffa, kenapa dia tidak datang untuk menjemput Dhira?" gumam Salamah bertanya-tanya.
Tiba-tiba Nindi sudah ada di rumah Salamah dan melihat raut wajah Ibunya itu tengah dalam kegelisahan. "Ada apa, Bu?" lontar Nindi mengejutkan Salamah.
"Loh, Nak, kamu di sini?" tanya Salamah sembari memegangi dadanya karena kaget.
"Maaf, Bu. Nindi sudah beberapa kali mengetuk pintu dan mengucap salam, tapi Ibu tidak menjawab. Karena pintunya tidak dikunci, ya sudah, Nindi masuk saja," terang Nindi sembari tersenyum.
"Ibu sedang membangunkan adikmu, Dhira. Dia sudah tidur sejak siang tadi dan melewatkan makan malamnya."
"Biarkan saja dulu dia tidur, Bu. Mungkin, dia baru merasakan lagi kenyamanan, mangkanya tidurnya lelap dan lama," tutur Nindi memberi pengertian pada Salamah.
"Ya sudah, Nak, kalau memang begitu." Salamah pasrah dan menurut pada Nindi.
"Mari, Bu. Kita lanjutkan berbincang di ruang tamu," ajak Nindi. Dia meraih tangan Wanita paruh baya itu dan menuntunnya menuju ke sana.
__ADS_1
Lantas, mereka pun duduk di ruang tamu dan mulai berbincang. Salamah juga menanyai Nindi perihal kedatangannya, apakah sudah mendapat izin dari suaminya atau belum? Maklum saja, Salamah selalu mengajarkan para putrinya untuk berbakti pada suami mereka. Dia tidak ingin anaknya menyalahi kewajibannya sebagai seorang istri.
"Tenang saja, Bu. Nindi sudah izin 'kok dengan Mas Adi. Malah, Mas Adi yang mengntar Nindi, tapi tidak bisa mampir karena harus menjemput Mama (Ibu mertua Nindi) di bandara. Mama baru pulang dari Jogja," beber Nindi menjawab pertanyaan Salamah.
"Syukurlah kalau begitu, Nak," ucap Salamah merasa lega. Nindi tersenyum.
"Oh ya, Bu. Tadi sore, Nindi sudah menemui Daffa dan bicara dengannya mengnai keadaan Andhira," urai Nindi.
"Lalu, apa katanya, Nak?"
"Dugaan kita benar, Bu. Dhira mengalami hal yang buruk. Sepertinya, traumatik yang Dhira alami sewaktu dulu terulang kembali, Bu."
"Maksudnya bagaimana, Nak?" tanya Salamah memastikan.
Seketika dada Salamah terasa sesak. Dia tidak pernah menyangka bahwa yang menyebabkan Andhira seperti itu adalah suaminya sendiri. Orang yang sangat dia harapkan mampu menjaga Putrinya tersebut. "Bagaimana mungkin hal yang Ibu alami dulu, juga terjadi pada Andhira? Diperlakukan tidak baik oleh suami sendiri sangatlah menyakitkan." Salamah memegangi dadanya seraya meratap pilu merasakan kesakitan.
Hati ibu mana yang tidak rapuh saat mengetahui anaknya disia-siakan? Terlebih, hal itu dilakukan oleh orang yang dipercaya bisa menjaganya. Salamah terluka dan merasa kecewa atas kenyataan ini.
"Sabar, Bu. Kita akan menggunakan jasa ahli, untuk membantu Dhira melewati fase sulitnya. Nindi sudah mengatakan kepada Daffa, untuk sementara waktu biarkan Dhira di sini dulu supaya kita mudah mengontrol keadaannya," papar Nindi sembari memeluk Salamah agar merasa lebih tenang.
"Terima kasih, Nak. Lalu, bagaimana dengan Daffa?" ucap Salamah seraya melepas pelukannya dari Nindi.
"Dia mengerti, Bu. Nindi bisa melihat kalau Daffa sangat menyesali perbuatannya itu. Dia tidak ingin dipisahkan dari Andhira. Daffa juga menangis saat mengetahui masa lalu Dhira yang memiliki traumatik yang disebabkan oleh kekerasan sikap Almarhum Ayah."
__ADS_1
"Kita lihat saja, Nak. Sampai di mana Lelaki itu akan berjuang memperbaiki kesalahannya."
"Tapi, Bu, Nindi mohon untuk jangan menunjukkan rasa tidak suka Ibu padanya. Sampai kita bisa memastikan kalau dia benar-benar berubah atau tidak. Siapa tahu, dia bisa lebih baik ... seperti Almarhum Ayah. Bukankah, Ibu pernah berkata bahwa semua orang berhak medapat kesempatan untuk menjadi lebih baik? Iya 'kan Bu?" tutur Nindi.
"Baik, Nak," jawab Salamah. Walau hatinya terasa perih bagai teriris sembilu. Namun, Salamah tetap berusaha untuk tegar.
"Malam ini Nindi menginap di sini ya, Bu."
"Suamimu bagaimana, Nak?"
"Tidak perlu khawatir, Bu. Karena Mas Adi yang menyuruh Nindi ke sini untuk menemani Ibu. Mas Adi sudah Nindi beritahu tentang semua ini."
"Syukurlah, Nak." Salamah menganggukkan kepalanya.
***
Kembali ke bilik rumah Daffa yang dipenuhi keheningan. Tampak Daffa sedang berbaring di atas kasur dengan berbantal lengan dan tatapan yang lurus ke atas langit-langit kamarnya. Lelaki itu tengah berkabut lara.
"Bagaimana aku akan sanggup melewati malam-malam tanpa dirimu, Dhira? Baru dua malam saja kamu tidak berada di sampingku, aku sudah seperti sebuah kapal yang berlayar tanpa arah dan tujuan. Hidupku tak berarti tanpamu, Istriku," ratap Daffa memeluk perih yang merasuk ke dalam relung jiwanya.
Daffa bangkit dan beranjak dari sana. Lalu, dia membuka lemari baju Andhira. Kemudian, dia mengambil salah satu baju yang sering Andhira kenakan dan membawanya ke tempat tidur. Dipelukinya baju tersebut sembari membayangkan kehadiran Andhira. "Cepat pulang, Dhira. Lekas membaik Istriku sayang. Maafkan semua kesalahanku. Jangan siksa aku dengan rindu seperti ini," ratap Daffa sembari menangis sampai baju Andhira itu basah terkena air matanya.
Bersambung ....
__ADS_1