
"Kenapa tidak diangkat saja, Farid sayang? Siapa tahu itu mengenai hal yang penting," ujar Shella.
"Tidak ada yang lebih penting dari kesenanganku, Shella."
Shella menyeringai, lantas menghampiri Pria arogan itu dan meraba-raba dada telannjang Farid sambil duduk di atas pangkuannya. "Aku suka otot perutmu yang sixpack dan sexyy," bisik Shella sambil menggigit-gigit kecil daun telinga Farid.
"Semua wanita menyukainya, Shella," kata Farid dengan bangga.
Wanita itu tersenyum getir saat mendengar kata-kata Farid tersebut. "Ya, tentu saja mereka juga suka. Lagi pula itu normal." Kecemburuan tersirat di wajah Shella kala itu.
Shella beranjak dari lahunan Farid. Namun, kini dia justru berjongkok tepat di antara kedua paha Farid. Tangan lentiknya dengan lihai mengeluarkan benda pusaka Farid dari dalam sangkarnya. Lalu, tanpa aba-aba dia langsung menggarap dengan tangan dan mulutnya hingga Farid mengerrang dilanda kenikmatan.
"Ouugh, Shella! Kamu membuatku tidak tahan." Farid bangkit dan mendorong Shella ke atas kasur hotel yang empuk dan nyaman. Pertempuran panas pun kembali terjadi hingga Farid merasa puas.
Mereka terkapar lemas setelah melakukan percintaannya yang demikian membara. Tidak perduli jika ponsel Farid terus menerima panggilan masuk. Karena pria itu sudah menyetel mode hening, hingga deringnya tidak dapat terdengar.
Di tempat berbeda, tepatnya di rumah Abah, ayahnya Daffa dan ayah sambung Farid. Lelaki paruh baya itu sedang merasa sedih karena panggilannya tidak juga diangkat oleh putra sambungnya, Farid. Perasaannya terluka menerima pengabaian itu dari anak yang dirawatnya dengan penuh kasih sayang.
"Bagaimana, Bah?" tanya wanita yang disebut Ummi, pada suaminya tersebut.
"Mungkin dia tidak sudi untuk sekedar bicara denganku yang sudah tua ini. Dia sudah dewasa sekarang. Sudah tidak butuh aku lagi seperti dulu." Abah tampak menghela napas panjang.
"Jangan bicara seperti itu, Bah. Mungkin Farid memang sedang tidak bisa mengangkat teleponnya, bukan karena tidak mau," ujar Ummi sembari mengelus pelan punggung tangan Abah.
"Oh, iya, Bah. Daffa apa kabar, ya?" tanya Ummi lagi.
"Itulah, Mi. Abah juga tidak tahu. Sejak tadi Abah menelepon Farid, bermaksud meminta tolong padanya agar menjenguk Daffa. Apakah dia dan istrinya sudah pulang dari Gorontalo, atau belum? Karena ponselnya tidak bisa dihubungi." papar Abah merasa cemas.
"Semoga Daffa juga baik-baik saja, Bah," sambung Ummi menenangkan kegundagan hati Abah.
"Aamiin, semoga saja begitu. Aku rindu putraku, Daffa. Sudah terlalu banyak derita hidup yang dialaminya sejak ibunya meninggal," tutur Abah.
Wajah Ummi seketika berubah saat mendengar kalimat Abah barusan. Dia merasa Abah sedang mengenang mendiang istrinya dan itu membuat Ummi cemburu. "Setelah belasan tahun, aku pikir kamu sudah lupa padanya, Bah." Ummi berkecamuk di dalam pikirannya.
"Eemm, Bah ... Ummi pamit ke kamar dulu. Pinggang Ummi rasanya pegal dan ingin diluruskan," alibi Ummi.
"Ya, Mi. Istirahatlah saja! Mungkin kamu lelah," jawab Abah sambil manggut-manggut.
__ADS_1
***
"Sayang, kapan aku bisa pulang? Aku tidak betah berlama-lama di sini. Ini sungguh menyiksa jiwa dan ragaku. Aku jadi tidak bisa bermanja-manja denganmu," rengek Daffa seperti anak kecil.
"Dari tadi Mas juga sudah sangat manja. Makan disuapi, diberi minum obat, dielus-elus. Apa itu belum cukup?" ledek Andhira sambil menahan tawa.
"Aahh, Sayang. Tentu saja itu tidak cukup. Di sini tidak bebas. Kalau di rumah 'kan aku bisa itu juga," tutur Daffa sembari memberi kode rahasia yang hanya diketahui oleh pasangan suami istri.
"Iiiih, otak mesuum!" ketus Andhira.
"Ya tidak, dong. Kamu 'kan istriku," sanggah Daffa.
"Tetap saja, Mas cabul, ngeres!"
"Jadi, kamu tidak senang kalau Mas melakukan ini." Tanpa aba-aba Daffa langsung menyerobot bibir Andhira dan memagutnya, sampai Andhira kesulitan untuk bernapas.
"Permisi," seorang perawat masuk untuk mengontrol keadaan Daffa.
Kehadirannya yang tiba-tiba membuat mereka yang sedang bermesraan kaget bukan kepalang. Andhira menutupi wajah dengan kedua tangannya. Sementara Daffa terlihat salah tingkah sendiri.
"Eemm, Suster ...," seru Daffa lirih.
"Iya, Pak Daffa. Ada yang ingin ditanyakan?" jawab Suster tersebut dengan ramah.
"K-kapan saya boleh pulang?" kata Daffa melontarkan pertanyaan dengan sedikit gugup.
"Sepertinya, sore ini sudah boleh pulang, Pak. Progres Bapak cukup baik dan sepertinya suasana hati Bapak juga sangat berpengaruh dalam membantu kesembuhan Bapak. Pak Daffa sangat beruntung punya istri yang setia dan perhatian," papar Suster itu membuat wajah Daffa dan Andhira bersemu merah.
"Hehehe, iya, Suster. Kalau begitu terima kasih banyak," ungkap Daffa malu-malu. Andhira hanya menganggukkan kepalanya sambil menyembunyikan wajahnya yang semakin merah padam.
"Sama-sama, Pak Daffa, Ibu Andhira. Kalau begitu saya permisi." Tutup suster itu, lalu meninggalkan ruang perawatan Daffa.
"Maaasss, aku malu tahu!" adu Andhira.
"Hihihi, sudah biasa saja," hibur Daffa sambil tertawa geli.
"Mana bisa begitu. Semua ini gara-gara kamu," rajuk Andhira.
__ADS_1
"Sayang, ayo berkemas. Beberapa jam lagi kita pulang," titah Daffa sambil membelai lembut pipi Andhira.
"Mas menyebalkan," ucap Andhira yang masih merajuk.
"Ya sudah, maafkan Mas, ya." Daffa mencoba memahami Andhira.
Beberapa jam kemudian, mereka pun meninggalkan rumah sakit dan pulang ke rumah. Baik Daffa maupun Andhira, sangat bersyukur karena Daffa masih bisa selamat dan kembali menjalani hidupnya. Meski, mobilnya harus menginap di bengkel untuk jangka waktu yang cukup lama karena mengalami kerusakan yang lumayan parah.
Andhira turun dari taksi, kemudian memapah Daffa untuk berjalan masuk ke dalam rumah. Keduanya saling menatap dan menerbitkan secercah senyum yang menyejukkan kalbu. Bagai mimpi rasanya, bagi Daffa saat dia menginjakkan kembali kakinya di rumah itu.
"Selamat datang di rumah kita, Mas," ucap Andhira.
"Terima kasih, Sayangku." Air mata Daffa lolos begitu saja dari ceruk netra sendunya.
Andhira turut hanyut dalam keharuan itu. Dia membalas pelukan Daffa seakan tidak ingin melewatkan momen indah nan penuh perasaan tersebut. Sungguh, mereka bagai terlahir kembali.
Dari sejauh mata memandang. Ternyata Farid masih saja mengintai gerak gerik Daffa. "Aarrgghhh! Siaaaaal! Setelah semua yang terjadi, kenapa dia masih hidup juga?" makinya sambil meremmas rambutnya frustasi.
"Farid sayang-"
"Diam, Shella! Jangan menambah rusak suasana hatiku." Farid menepis tangan Shella yang berusaha menyentuhnya.
"Dasar laki-laki tidak tahu diuntung," cerca Shella di dalam hati.
"Turun!" usir Farid pada Shella.
"Tapi, Far-"
"Aku bilang turun dari mobilku!" bentak Farid menyelah kalimat Shella.
Senang tidak senang, mau tidak mau, akhirnya Shella pun menurut pada Farid. Walau, jauh di dalam lubuk hatinya bergejolak menahan amarah. "Aku tidak akan tinggal diam atas perlakuanmu ini, Farid. Kamu sudah membuatku melakukan segalanya termasuk berpura-pura hamil untuk menjebak saudara tirimu. Lihat saja nanti! Aku akan membuatmu memohon padaku," gerundal Shella setelah dirinya keluar dari dalam mobil Daffa.
Bersabung ....
Guys, mampir juga di karya keren dari othor yang ketjeh badai dan sudah tidak asing lagi yaitu Kak Rini Sya. Langsung saja .... Cekidot. 👇
__ADS_1