IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 67 Memilih Mencintai


__ADS_3

Tangis Ummi pecah tak terbendung lagi. Meski Abah sudah mencoba membujuk dan menghiburnya, Ummi masih tetap menangis atas kekecewaannya terhadap Farid. "Selama ini kita sudah berlebihan membanggakan dia, Bah," raung Ummi.


"Sudahlah, Mi. Bujuk dulu pelan-pelan. Belum tentu apa yang Ummi lihat itu adalah kebenarannya. Ummi tahan dulu emosinya, ya," papar Abah.


"Ummi malu pada Daffa dan Abah. Selama ini, kita juga sudah selalu mendengarkan Farid sampai terkadang kita mengabaikan Daffa, Bah. Pasti Daffa akan berpikir kalau Ummi adalah ibu tiri yang tidak adil." Ummi terus memaparkan kegusaran dan sesalnya.


"Iya, Mi. Abah juga paham. Terima kasih untuk itu, Mi. Mengetahui bahwa Ummi perduli terhadap Daffa saja, sudah melegakan buat Abah."


Ummi mengangguk lesu. Lantas dia duduk di sofa dan berbincang bersama Abah. Mereka mulai berbicara dari hati ke hati mengenai dua anak mereka tersebut.


***


"Mas, mau aku buatkan sesuatu?" tanya Andhira. Kala itu mereka tengah bersantai di ruang depan.


"Teh saja, Sayang, tapi jangan terlalu banyak gula," jawab Daffa.


"Baik, Mas. Tunggu sebentar, ya," kata Andhira sambil tersenyum. Daffa mengangguk menyambut senyum Andhira yang selalu meneduhkan baginya.


Beberapa menit kemudian, Andhira kembali dengan senyum yang lebih manis dari gula. Mungkin sebab itulah Daffa tidak ingin tehnya diberi banyak gula. Karena Andhira saja sudah cukup jadi pemanis untuknya.


"Mas, kenapa melamun? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"


"Tidak apa-apa, Sayang. Mas hanya terpikirkan tentang Farid," jawab Daffa dengan raut wajah gelisahnya.


"Apa Mas mau cerita? Aku akan mendengarkan," tutur Andhira sambil menelusupkan kepalanya di antara lengkung lengan Daffa.


Daffa memberi kecupan indah di pucuk kepala Andhira, sambil membelai lembut rambutnya yang mulai tumbuh lebih panjang dari sebelumnya. Ada kehangatan dari tutur kata Andhira yang membuat Daffa merasa tidak sendiri.


"Mas, kenapa diam saja? Apa Mas merasa ragu padaku?" tanya Andhira seraya menengadahkan wajahnya menatap Daffa.


"Mana mungkin aku meragukan Istriku yang baik hati ini," ujar Daffa sambil meletakkan tangan Andhira di atas dada, tepatnya di atas jantung Daffa yang tengah memompakan detak.


"Lalu, kenapa Mas tidak cerita?" imbuh Andhira sembari mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Dia sungguh manja dan aku menyukainya," batin Daffa yang tanpa terasa mengembangkan senyuman di bibirnya.


"Ahh, Mas membuatku malas." Andhira merajuk.


"Hemmm, aku mencintaimu, Dhira."


"Aku tidak percaya!" tandas Andhira sambil membuang pandangan ke arah lain.


"Hihihi, rajukmu saja membuatku gemas apa lagi manjamu," komentar Daffa yang masih juga belum bercerita.


"Entahlah, aku rasa Mas lebih suka menyembunyikan sesuatu dariku," ketus Andhira.


"Hey, lihat mataku, Dhira! Aku tahu kamu bisa melihat semuanya di sana, bukan begitu?" ujar Daffa.


"Aku penasaran, Mas. Ada apa dengan Farid? Kenapa kamu sampai memikirkannya begitu?"


"Dhira, apa kamu pernah berpikir untuk tidak memaafkan kesalahan seseorang?"


"Ya, Mas. Aku pernah."


"Tidak, Mas. Semakin lama aku memelihara dendam dan tidak berlapang dada untuk memaafkan, maka semakin dalam juga sakit yang aku rasakan."


"Lantas, apa akhirnya kamu memutuskan untuk memaafkan?"


"Tepat sekali, Mas."


"Jadi, bagaimana rasanya sekarang?"


"Duri kebencian itu perlahan enyah dan menumbuhkan rasa lega."


"Kamu merasa lebih baik?"


"Ya, karena akhirnya aku bisa meresapi pelukan orang yang sebelumnya aku benci dengan nyaman."

__ADS_1


"Boleh kutebak? Apakah itu tentang aku?" terka Daffa.


"Mas mau jawaban jujur atau sebuah sangkalan?"


"Jawaban jujur saja."


"Ya! Itu tentang kamu dan kisah kita sebelumnya, Mas. Aku pernah mengemas rasa benciku dengan rapi, menyimpan kesakitan sampai tidak ada cinta lagi di dalam hatiku. Tapi kemudian aku sadar, semakin aku mebencimu semakin sakit rasa hatiku. Semakin aku bersikukuh untuk tidak memaafkanmu, maka semakin parah luka yang tertoreh di jiwaku. Akhirnya aku tahu, memaafkanmu adalah peluang untuk membuka jalan bagi cinta-cinta yang akan datang ."


Kalian tahu? Waktu mendengar kata-kata Andhira itu Daffa sambil menangis mengingat kesalahan dan menyadari betapa jahatnya dia pada Andhira. Sesekali Daffa meneguk saliva yang terasa perih mendera sukmanya. Untuk saat ini, bukan lagi Andhira yang tidak memaafkannya, melainkan Daffa lah yang sepertinya belum bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Jangan menangis, Mas. Aku 'kan hanya menceritakannya saja. Dan aku sudah tidak takut lagi sekarang. Mas tidak perlu bersedih atau merasa bersalah, huum." Adhira menyeka pipi Daffa yang tengah dialiri bulir-bulir bening dengan lembut.


Daffa meraih tangan Andhira lalu menciuminya dalam-dalam. "Aku beruntung memilikimu, Dhiraku sayang ...," lirih Daffa sambil terisak.


"Aku lebih beruntung dimiliki kamu, Mas," balas Andhira. Daffa menarik lebar garis bibirnya hingga tersungging senyum yang sempurna.


"Boleh aku meminta pendapatmu, Sayang?"


"Tentu saja, Mas. Aku akan merasa sangat berarti andai bisa memberikan pendapatku padamu."


"Haruskah aku memaafkan Farid atas semua yang telah dia lakukan padaku dan juga pada kita akhir-akhir ini?"


"Jika kamu ingin lebih banyak cinta bersemayam mengisi ruang hatimu, maka maafkanlah dia dan siapa pun yang pernah menyakitimu. Kendatipun begitu, semua keputusan sepenuhnya ada di tanganmu, Mas."


"Aku sudah memutuskan, Dhira. Bukankah memilih cinta dari pada benci lebih mengasyikan?"


"Benar sekali, Mas."


"Aku memilih melakukan seperti apa yang kamu lakukan." Daffa mebiaskan senyum dengan binar mata penuh kehangatan.


"Selamat ya, Mas. Kamu telah memerdekakan hatimu dari rasa benci yang menjajah."


"Terima kasih, Sayangku. Percayalah, jika ada hal yang membuatku bersyukur, maka itu adalah dirimu," ucap Daffa dengan yakin. Mereka saling memeluk dalam dekap penuh mesra dan kehangatan.

__ADS_1


Bersambung ....


Note : Mungkin beberapa bab lagi novel ini akan othor tamatkan ya, guys. Terima kasih banyak-banyak untuk yang sudah setia memberikan dukungannya. Love you all. 🖤❤


__ADS_2