
Di ufuk pagi kala bias cahaya mentari memberi sapa hangat pada setiap sentuhannya. Angin menyapukan belaian lembutnya pada permukaan kulit, rambut, serta wajah. Pagi itu cuaca cerah membangkitkan lonjakkan gairah dalam diri Daffa.
"Sayang, tadi malam kamu tampak lelah dan tidurmu terlalu pulas untuk kubangunkan. Jadi, bolehkah pagi ini kapal kecilku berlabuh di dermaga cintamu yang sempit dan penuh kehangatan?" tutur Daffa. Dia memeluk Andhira dari belakang sambil berbisik penuh goda di telinga Sang Pemilik mata coklat itu.
"Mas, tapi pagi ini aku merasa lemas dan sedikit mual. Sepertinya, aku tidak enak badan," ungkap Andhira sembari megusap tengkuknya sendiri.
"Begitu, ya? Kita periksakan ke dokter, mau?"
"Tidak mau. Aku hanya ingin rebahan, Mas. Pokoknya tidak mau ke dokter," rajuk Andhira.
"Kenapa dia terlihat pucat? Apa dia sakit sungguhan?" batin Daffa sambil memindai wajah Andhira.
"Oke, kita tidak akan pergi ke dokter. Mari istirahat saja," ajak Daffa seraya merangkul tubuh Andhira dan membawanya ke tempat tidur. Dia begitu cemqs pada keadaan Andhira saat itu.
Selembar selimut tebal berwarna coklat susu Daffa ambil dan dia tutupkan ke permukaan tubuh Andhira, sesaat setelah Andhira berbaring di atas kasur. Sebenarnya, Daffa sedang sangat ingin menyemai benih cinta di ladang bersalju milik Andhira. Namun, melihat kondisi Andhira yang demikian, Daffa pun terpaksa menunda hasrat yang sudah nyaris membludak itu.
"Mau makan sesuatu?" tanya Daffa dengan lembut. Jemari panjangnya terus membelai pipi mulus Andhira tanpa henti.
"Tidak mau, Mas. Aku hanya ingin begini. Berbaring dan diam di tempat tidur. Apa Mas keberatan?"
"Ahh, tentu saja tidak, Sayang. Kamu boleh melakukannya sepuas hatimu. Kalau begitu, Mas pergi sebentar, ya," ujar Daffa sambil pamit keluar untuk membeli sesuatu.
"Tapi, aku tidak mau Mas pergi. Di sini saja bersamaku," rengek Andhira yang dengan sigap meraih tangan Daffa, lantas dia menindih lengkung tangan Daffa yang kekar untuk dijadikan bantal kepalanya.
Daffa tersenyum hangat, lalu dengan senang hati dia mendekap tubuh Andhira dalam posisi miring merengkuhi tubuh Istri kesayangannya tersebut. Mana mungkin dia mau melewatkan kesempatan sebagus ini. Walau dia tidak bisa melakukan pertempuran sengit saat itu, setidaknya dia bisa curi-curi raba atau kecup basah untuk mengobati rontaan jiwanya yang sudah menggebu-gebu.
"Mas, aku punya sebuah kabar. Aku tidak tahu kabar apa ini bagimu? Tapi, aku tetap harus menyampaikannya." Andhira membalik posisi badannya menghadap Daffa.
__ADS_1
Daffa seketika berhenti melakukan raba-raba manjanya. "Sayang, kabar apa sebenarnya yang ingin kamu sampaikan? Tolong jangan buat jantungku tidak aman," mohon Daffa dibarengi mimik wajah yang sungguh serius.
"Janji dulu untuk tidak marah padaku," pinta Andhira masih dengan nada manjanya.
"Oke, aku janji tidak akan marah. Sekarang katakan tanpa menyembunyikan sedikit pun kebenarannya dariku," papar Daffa mulai tegas.
"Aaah, sudah kubilang. Aku tidak mau mengatakannya kalau Mas marah begitu."
"Baiklah, maafkan aku. Sekarang aku hanya akan diam saja dan menyimak apapun yang disampaikan oleh istriku yang manja ini," setujui Daffa.
Andhira mengulas senyum tipis. "Maafkan aku, Mas," ungkap Andhira yang tiba-tiba menampakkan raut wajah sangat sedih.
"Katakan saja ada apa, Sayang. Tolong jangan buat aku khawatir," tandas Daffa semakin penasaran.
"Kamu akan jadi seorang ayah. Aku positif hamil, Mas." Andhira menunjukkan sebuah tespek atau alat pendeteksi kehamilan yang bergaris dua pada Daffa, pertanda dirinya positif hamil.
"Oh, aku tidak bisa berkata-kata lagi. Benarkah semua ini, Sayang? Kamu tidak sedang mengerjaiku 'kan?" kata Daffa yang sudah tidak mampu menahan air mata harunya. Dia mengambil tespek tersebut sambil mengnalisa.
Daffa menghambur memeluk Andhira yang kala itu sudah sama-sama dalam keadaan duduk. Labuh cium dan beberapa kecup basah pun dia daratkan di kening dan pucuk kepala Andhira. Ini adalah kabar baik dari yang terbaik yang pernah Daffa terima.
"Mas ...," lirih Andhira seraya merenggangkan pelukannya dari Daffa. Kemudian, dia menatap lekat Lelakinya itu.
"Ya, Sayang," jawab Daffa dengan suara parau karena tangisnya.
"Kenapa Mas terus menangis? Tidakkah Mas bahagia? Apa ini bukan kabar baik untukmu?" ucapnya memberondong Daffa dengan pertanyaan.
"Ini air mata bahagia, Dhiraku sayang. Bagaimana mungkin aku bisa tahan untuk tidak menguraikan air mata ini? Sungguh, ini kabar terbaik yang pernah aku dengar untuk petama kalinya sepanjang sejarah hidupku."
__ADS_1
"Benarkah begitu, Mas?"
"Tentu saja, Sayang. Apa aku bisa berbohong pada Istriku, hum?" sambung Daffa sambil mencubit manja hidung Andhira.
"Sekarang istirahatlah saja. Aku tidak ingin Calon Ibu dari anakku kelelahan," ujar Daffa seraya membimbing Andhira untuk berbaring kembali.
"Haruskah kita memberitahu semua orang sekarang, Mas?"
"Tentang Apa?"
"Perihal kehamilanku," jawab Andhira.
"Ya, Sayang. Mereka juga harus merasakan kebahagiaan yang kita rasakan, bukan? Kita akan memberitahu mereka segera. Abah, Ummi, Ibu, Mbak Nindi dan semua orang."
"Farid juga, Mas?" imbuh Andhira yang sontak membuat bibir Daffa terdiam kelu.
"Ya, itu pasti. Dia juga adik kita 'kan," jawab Daffa pada Akhirnya. Andhira terenyum lebar. Dia bangga pada Daffa yag sudah mau memaafkan Farid.
***
Di rumah Abah, Farid sedang mengemasi beberapa pakaiannya ke dalam tas ransel. Dia juga sudah meminta maaf pada Abah sebelumya, dan mengakui semua kesalahannya. Lantas, seperti biasa, Abah selalu memaafkan Farid dengan lapang dada. Dia juga menasehati Farid dan tetap menyayangi Farid tanpa cerca. Bahkan, Abah mengatakan pada Farid bahwa dirinya sudah menganggap Farid seperti anak kandungnya, bukan anak sambung seperti kenyataannya.
Farid bergegas keluar dari dalam kamarnya. Lalu, Dia menghampiri Abah dan juga Ummi yang sedang minum teh di ruang keluarga. "Abah, Ummi, tolong berikan restu kalian. Farid ingin pergi ke suatu tempat," ujar Farid sembari duduk bersimpuh.
"Farid, bangun, Nak. Duduklah di sini," kata Abah sambil memegangi bahu Farid dan membimbingnya untuk duduk di sebelah Abah.
"Kamu mau pergi kemana, Nak?" tanya Ummi sambil berkaca-kaca.
__ADS_1
Farid menghela napas dalam dan panjang. "Farid ingin mondok di pesantren, Mi," jawabnya sambil menitikkan air mata.
Bersambung ....