
Daffa tampak tidak nyaman dengan dirinya sendiri. Dia seperti terus gelisah karena menahan sesuatu. Sampai akhirnya, mereka pun tiba di rumah setelah beberapa saat.
"Huuuuft, akhirnya sampai juga," gumam Daffa seraya menghela napas panjang.
"Kenapa, Mas?" tanya Andhira masih dengan perangkapnya.
"T-tidak, eem, itu ...," ucap Daffa terbata-bata. Dia menunjuk ke kancing kemeja Andhira yang masih terbuka.
"Ohh, ya! Tentu saja aku akan menutupnya," jawab Andhira. Lantas, dia menutup lagi kancing kemeja yang semula tebuka itu sambil bergegas turun dari mobil.
"Ayo, Mas!" ajak Andhira sembari menyebulkan kepalanya ke dalam mobil.
"I-iya, baiklah," ucap Daffa, kemudian menyusul Andhira keluar dari dalam mobil.
"Lihatlah, Lelaki arogan yang biasanya mendikte dan menghakimi, sekarang hanya bisa patuh bagai kerbau yang dicucuk hidungnya," bisik hati Andhira seraya mengulum senyum getir.
__ADS_1
Selekas itu, mereka pun masuk ke dalam rumah dan mulai menghidupkan lampu-lampu yang belum menyala. Kegugupan masih saja merundungi Daffa. Lelaki itu benar-benar telah masuk ke dalam perangkap Andhira. Apa kalian ingin tahu, bagaimana rasanya melihat orang yang biasanya keras, kasar dan tidak mau dibantah menjadi gugup dan lemah? Itu semacam menyaksikan opera pertujukan yang sangat menghibur bagi Andhira.
Andhira berjalan melenggok seolah sengaja memperlihatkan gerakan dengan lekuk tubuhnya. Di sisi lain, Daffa hanya bisa terpaku melihat perubahan sikap pada Istrinya itu akhir-akhir ini. Tidak masalah memang, bagi seorang istri menggoda suaminya sendiri. Akan tetapi, bertingkah samacam itu bukanlah sifat asli Andhira. Hal itulah yang membuat Daffa heran. Walau tidak dipungkiri perasaannya sangatlah senang.
Keheningan menyadarkan Daffa saat langkah kaki Andhira tidak terdengar lagi. Ya, dia sudah luput dari pandangan Daffa. Tinggal dirinya saja yang masih berdiri mematung merajai ruang tamu yang cukup luas itu.
Kini, Lelaki yang sejak tadi sedang salah tingkah itu pun beranjak menyusul Andhira ke dalam kamar. Saat sudah berada di ambang pintu, Daffa mengedarkan pandangannya ke segala sisi ruang kamar tersebut. Dia tidak melihat ada istrinya di sana. Namun, gemericik air terdengar dari dalam kamar mandi. Pemilik bola mata berwarna hitam itu pun menarik napasnya lega.
Andhira bersenandung di dalam kamar mandi tersebut. Hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya, karena memang dalam keyakinan Andhira, bernyanyi atau bicara saat berada dalam kamar mandi bukanlah adab yang baik. Hanya saja, keadaan dirinya sedang begitu kacau pada kenyataannya. Dia memalsukan segenap perasaan juga tingkah lakunya di hadapan Daffa. Dan sunghuh, itu bukanlah dirinya. Semua yang dilakukan Andhira sangat bertentangan dengan kehendak hati yang sebenarnya.
Setelah lima belas menit berselang. Wanita berkulit putih itu pun keluar dari kamar mandi, dengan handuk kimono yang membelit tubuhnya. Harum aroma sabun langsung menerjang indera penciuman Daffa kala itu. Dengan rasa gugup yang masih tersisa, Daffa memberanikan diri untuk bicara kepada Istrinya yang telah segar dan wangi tersebut.
Wanita yang kini sedang memainkan peran antagonisnya itu hanya tersenyum dengan tatapan penuh arti. "Kalau sudah begini, apakah kamu masih mau bertanya aku sudah mandi atau belum, Mas," ujar Andhira sembari mengangkat satu kaki dan mengarahkannya ke dada Daffa.
DAG! DIG! DUG!
__ADS_1
Begitu kira-kira debar hati dan detak jantung Daffa berbunyi. Dia menurunkan pandangannya ke kaki jenjang Andhira yang tengah menancap lurus di dada bidangnya. Tatapannya mulai bergantian dari kaki, lalu ke wajah Andhira yang putih merona itu.
Menyadari Daffa yang sudah mati kutu tak berdaya, akhirnya Andhira menurunkan kembali kakinya. "Aku bisa merasakan detak jantungmu itu berdetak dengan kencang hingga nyaris mendobrak dadamu dan mendorong kakiku," hardik Andhira di dalam hati.
Daffa masih diam tertegun dengan mulut yang menganga. Lelaki itu baru tersadar ketika ada yang berdenyut, tapi bukan detak nadi. Ya, adik kecilnya sudah meronta ingin dilepaskan. Lalu, tangannya bergerak dengan refleks menutupi bagian bawahnya tersebut.
"Ada apa, Mas?" tanya Andhira penuh selidik. Dia berpura-pura bodoh dan tidak tahu apa yang sedang Daffa lakukan.
"T-tidak apa-apa. Oh, ya ... aku juga mau mandi dulu," gagap Daffa sembari berlari menuju kamar mandi.
Andhira menarik miring garis bibirnya sembil berdesis. "Dasar maniak," cicitnya.
"Maafkan aku, Mas. Andai kamu tidak membuatku hancur sedari awal, aku tidak akan melakukan hal-hal yang tidak pantas semacam ini. Jika kamu begitu menyenangi bermain denganku dan mengagumi tubuhku, mengapa tidak berlaku baik saja padaku dulu, Mas? Bukankah seharusnya kita bisa menikmati semuanya dalam lingkaran kasih sayang? Akan tetapi, kamu malah merusak kepercayaanku, Mas. Kamu telah membuat keteguhan hatiku porak poranda dan nyaris ambruk. Seperti pondasi sebuah rumah yang sudah hancur lebur, lantas masih bisakah ia menahan beban yang berada di atasnya? Tentu saja itu sangat mustahil. Begitulah kira-kira keadaanku saat ini, Mas."
Andhira berkeluh dalam lamunannya sendiri. Dia menyesali perbuatannya, tapi dia lebih menyayangkan perlakuan Daffa terhadap dirinya di awal pernikahan mereka. "Ini bukan inginku, Mas," lanjut Andhira disusul tetesan bulir bening serupa embun pagi yang mengaliri pipinya.
__ADS_1
Bersambung ....
Jangan lupa dukung terus author, ya. Lope-lope. ❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤