
"I love you, Andhira."
Kata itu keluar lagi dari mulut Daffa. Tidak perduli jika Andhira tidak membalasnya dengan mengatakan 'i love you too'. Yang penting dia telah lega, karena sudah mengungkapkan isi hati dan perasaannya.
"Kita pulang?" tanya Daffa.
"Terserah Mas saja," jawab Andhira datar.
"Oke." Daffa justru memutar balik dan melajukan mobilnya ke arah berlawanan dari jalan pulang.
Entah hendak kemana Daffa membawa Andhira. Yang jelas bukan ke rumah mereka atau ke rumah ibu Andhira. Perjalanan itu tampaknya lumayan jauh dan lama.
Sampai mereka tiba di suatu tempat. Kelihatannya itu adalah sebauh danau. Sangat indah dengan airnya yang menghijau dan pemandangan alam yang berhias pepohonan yang rindang.
Andhira turun dari mobil dengan senyuman yang tak padam. Itu merupakan senyuman terindah yang pernah singgah di bibir cantiknya tersbut. Daffa turut larut dalam bias senyum yang sama ketika menyaksikan sumringahnya wajah Andhira.
"Kamu suka?" lontar Daffa sembari merangkul Andhira.
"Ya, Mas. Ini sangat indah." Andhira langsung berlari lebih dekat ke arah danau tersebut.
Gelenyar hangat menjalar di hati Daffa. Dia melangitkan harap, semoga Andhira bisa terhibur dengan usahanya ini. Setidaknya, jangan ada tangis hari ini. Dia pun melangkah lebih cepat menyusul Andhira yang sedang berdiri di bibir danau seraya memejamkan mata dan menghirup udara segar di sana.
Daffa memeluk tubuh Andhira dari belakang. Andhira tidak berontak atau menghindar. Dia membiarkan saja Suaminya itu memeluk dan menciumi pipi, tengkuk, leher serta bahunya bertubi-tubi.
'Andai Engkau izinkan wahai Tuhan, aku ingin hari ini waktuku terisi dengan senyum dan tawa dari istriku, Andhira. Sudah terlalu banyak tangis yang aku berikan padanya. Sudah terlalu dalam luka yang aku torehkan untuknya. Sudah terlalu melekat rasa sakit yang aku goreskan di hati dan persaannya. Hari ini saja aku mohon, wahai Sang Pemilik hidup dan mati, tolong biarkan kami menikmati rasa bahagia ini.'
Daffa meneguk salivanya menahan perih kenangan tentang dirinya yang telah menyebabkan Andhira seperti itu. Air matanya meleleh jatuh mengenai leher Andhira. Hingga Wanita itu merasakannya dan menoleh kepada Daffa.
"Mas ...," lirihnya seraya menatap dalam pada Daffa.
Daffa meraih tangan Andhira dan menaruh di atas dadanya, seakan menyuruh Andhira untuk merasakan detak dari jantungnya. Dia mendoroang punggung Andhira hingga tubuh bagian depan Wanita itu merapat ke tubuhnya. Lalu, Daffa melabuhkan kecupn penuh perasaan di keningnya.
__ADS_1
Andhira hanya pasrah dan mengikuti saja kemana Daffa membimbing dirinya. Tapi kemudian, Andhira mulai berani bertanya. "Kenapa kamu menangis, Mas?" katanya pelan.
"Tidak apa, Sayang. Berjanjilah untuk bahagia, setidaknya hari ini," ungkap Daffa. Lelaki itu memeluk kembali tubuh Andhira dengan erat.
"Mas Daffa kenapa? Hari ini dia aneh sekali? Apa dia sedang sedih sungguhan? Kenapa dia menangis seperi itu? Dalam sekali ...," tanyanya di dalam hati.
"Dhira ...."
"Iya, Mas," sahut. Andhira dengan suara pelan.
Daffa melepaskan sesaat pelukannya, lalu mencium pipi Andhira dan memeluknya lagi. "Jangan pernah menyerah dalam perjuangan ini, aku mohon."
Andhira mendongakkan wajahnya menatap Daffa. Lalu, dia tersenyum dengan lembut. "Baru kali ini, pelukan Mas Daffa terasa begitu nyaman bagiku," batin Andhira.
Sepoy angin bertiup mengantarkan sejuk dan menambah syahdu sebuah peluk. Daffa meluruh duduk meluruskan kakinya, lantas membimbing Andhira untuk bersandar di dada bidangnya. Mereka menikmati pemandangan danau yang memanjakan mata.
"Mas ...," seru Andhira lirih.
"Ya, Sayang ...."
"Hmmm, kalau begitu jangan dipotong lagi."
"Tapi, aku selalu ingin melakukannya saat aku merasa sedih," papar Andhira.
Daffa menarik napas perih yang tak terlukiskan. "Mulai sekarang, coba lakukan hal yang lain saja," timpal Daffa.
"Bagaimana dengan sunday morning riding?" imbuh Daffa lagi.
"Tapi, aku sudah lama tidak melakukannya. Lagi pula, aku sudah tidak pernah berkabar dengan mereka. Mas 'kan menyuruhku menghapus semua kontak teman-temanku."
"Hanya teman pria saja, aku 'kan tidak menyuruhmu menghapus kontak teman wanitamu."
__ADS_1
"Tanpa teman pria, sunday morning riding-nya akan sulit terlaksana."
"Kalau begitu, aku akan menggantikan teman priamu untuk melakukannya, humm. Dan kita akan pergi bedua saja," tandas Daffa.
"Aahh, Mas tidak asyik."
"Hehehe .... Mas tidak mau ada lelaki lain yang dekat denganmu. Mas cemburu, itu tidak salah 'kan?"
"Mas cemburu? Memangnya Mas benar cinta padaku? Bukankah aku hanya pakaian kusut saja bagi ...."
"Dhira!" Daffa menjeda kalimat Andhira.
"Sudah berapa kali aku sampaikan, aku sungguh mencintimu. Terlepas dari semua yang pernah aku lakukan dan aku katakan di masa lalu. Jadi, bolehkah untuk tidak membahasnya lagi sekarang?"
Tanpa diduga, Andhira bangun dan tersenyum sembari menghadapkan wajahnya kepada Daffa. "Mas jangan menangis terus! Kenapa Mas cengeng sekali?" ucap Andhira sembari mengusap lembut pipi Daffa.
Daffa yang kala itu matanya sudah berkaca-kaca pun tetap menangis dan menjatuhkan air matanya. Namun, kali ini rasanya beda. Di hatinya seperti menyeruak rasa bahagia yang teramat sangat.
"I love you, Dhiraku. Bidadariku yang dingin, sedingin salju," ucap Daffa seraya meresapi hangatnya usapan lembut tangan Andhira di pipinya.
"Mas tidak boleh cengeng. Mas harus kuat. Bagaimana kalau nanti tidak ada aku? Jadi, mulai sekarang berhenti menangis," urai Andhira.
"Tidak, Sayang. Jangan berkata seperti itu. Kita akan hidup dan tumbuh menua bersama."
"Waktu itu menyimpan begitu banyak misteri, Mas. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depan. Apakah yang bersanding di sampingmu adalah aku, atau mungkin batu nissan yang bertulisakan namaku. Kita tidak pernah tahu."
"Tidak! Tolong jangan lemahkan aku dengan kata-kata semacam itu. Aku sanggup menerima banyak kehilangan sebelum ini termasuk kehilangan ibu kandungku saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), tapi tidak untuk kali ini. Aku tidak mau kehilangan wanita yang aku cintai untuk kesekian kalinya, Dhira."
"Apa maksudmu, Mas? Bukankah Ummi ...."
"Ummi adalah ibu sambungku. Dia menikah dengan Abah saat aku kelas 1 SMP. Ummi juga mebawa anak yang tidak lain adalah Farid. Sejak saat itu, hidupku seperti penuh dengan persaingan. Aku mulai dibanding-bandingkan dengan Farid, adik tiriku, dalam segala hal. Tidak jarang Abah menghukumku hanya karena nilaiku tidak lebih baik dari Farid. Harga diriku sebagai anak sudah tidak ada artinya lagi, Dhira. Seumur hidupku hanya dituntut untuk patuh dan memenuhi keinginan mereka. Sampai aku dan kamu dijodohkan, itu pun atas kehendak mereka. Sebenarnya, aku tidak bermaksud menyakitimu, tapi sungguh saat itu aku merasa semua orang sama saja. Karena itulah aku memberikan banyak ujian berat kepadamu tanpa aku sadari. Namun, sekarang semuanya telah berbalik, Dhira. Bahkan, aku rasa aku harus berterima kasih karena mereka telah mempertemukan aku denganmu. Wanita yang penuh kasih dan kelembutan."
__ADS_1
Andhira terhenyak setelah mengetahui sisi lain di balik kerasnya sikap Daffa. Di balik wataknya yang kasar. Dan di balik semua yang terjadi selama ini.
Bersambung ....