IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU

IKHLASKAN AKU PERGI SUAMIKU
BAB 56 I Love You Too


__ADS_3

Sampailah Daffa di rumahnya. Dia langsung masuk dan mendatangi Andhira yang saat itu ada di kamar. Senyumnya mengembang begitu saja kala dia melihat Andhira yang terbaring dengan posisi membelakangi arah pintu.


"Mas Daffa sudah pulang. Apa yang dilakukannya? Haruskah aku percaya?" batin Andhira yang ternyata tidak tidur.


"Sayang," seru Daffa sembari menyentuh lembut punggung Andhira. Dia duduk di tepi ranjang.


Daffa mengambil sebuah buku dan dilihatnya. "Kamu membuat gambar sketsa lagi?" tanya Daffa.


Andhira membalik posisi badannya, kini dia menghadap ke arah Daffa. "Iya, Mas. Aku tidak bisa tidur siang hari ini," terang Andhira.


"Apa kamu masih terpikirkan hal yang tadi?"


Andhira diam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Sudah coba untuk tidak memikirkannya, tapi tidak bisa," jawab Andhira.


"Aku sudah menemukan jawabannya, Sayang. Kita tidak perlu memikirkannya lagi."


"Ha? Benarkah, Mas?"


"Ya, Sayang. Kamu lihat ini!" tunjuk Daffa pada layar ponselnya.


Andhira menatap layar ponsel itu. "Ada apa dengan foto ini, Mas?" tanya Andhira masih kebingungan.


Kemudian, Daffa menunjukkan juga lembaran foto-foto yang dikirim oleh seseorang pada mereka. Walau sudah kusut dan lusuh akibat remmatan tangan Daffa, tapi gambarnya masih bisa terlihat. Lantas, Daffa membandingkan kedua foto itu, foto yang ada di ponselnya dengan lembaran foto yang dikirim seseorang tersebut.


"Perhatikan, Sayang. Ini foto yang aku unggah ke akun sosial mediaku beberapa waktu silam. Aku tidur sendirian. Dan lihatlah, dalam foto ini aku tampak tidur dengan wanita itu. Mereka mengeditnya, Dhira."


"Iya, Mas. Hanya saja mereka kurang jeli dalam melakukan tindakannya," komentar Andhira.


"Mungkin itu cara Sang Pencipta melindingi kita dari fitnah, Sayang." Andhira mngangguk setuju.


"Sekarang kamu percaya 'kan? Aku tidak berohong apa lagi mengkhianatimu," papar Daffa sembari mengangkat dagu Andhira dengan dua jari tangannya.


"Iya, Mas, tapi ...," ucap Andhira terhenti.


"Tapi apa, Sayang?"


"Aku tidak suka foto Mas dalam keadaan seperti itu dilihat orang banyak," tutur Andhira mengungkapkan uneg-unegnya.


"Aku sudah akan menghapusnya tadi, tapi aku harus menunjukkannya dulu padamu sebagai bukti, karenanya belum aku hapus. Aku akan menghapusnya sekarang, Sayang. Atau kamu mau melakukannya agar hatimu puas?" papar Daffa sambil menawari Andhira.


Andhira mengangguk dan langsung saja mengambil ponsel Daffa. Dia pun menghapus foto Daffa yang bertelanjang dada itu dari akun sosial medianya. Senyumnya tampak merekah setelah dia berhasil melakukan peghapusan foto tersebut dengan tangannya sendiri.


"Adakah hal lain yang kamu risaukan?" imbuh Daffa bertanya.

__ADS_1


Andhira terhenyak, teringat pada rekaman suaranya yang Daffa ambil ketika dia memberi dirinya obat perangsaang waktu itu. "R-rekaman suaraku ...." Dia tercekat dan tidak sanggup menjelaskannya secara gamblang.


"Yang itu sudah aku hapus sejak lama, Sayang. Maafkan aku untuk hal-hal memalukan yang pernah aku lakukan. Tapi, aku bersumpah, tidak ada orang lain yang pernah mendengarnya keculi aku dan kamu saja." Daffa memejamkan mata berulangkali saat mengatakannya. Dia merasa sangat malu mengingat semua hal itu.


"Terima kasih, Mas," ucap Andhira.


"Tidak, Dhira. Aku yang seharusnya berterimakasih."


Andhira mengulum sebuah senyuman. Daffa membalasnya, dan mereka pun saling berpelukan. Ada syukur yang tak terukur yang datang dari hati dan diri Daffa.


Benar memang apa yang dikatakan orang, bahwa cinta bisa datang seiring waktu. Entah berasal dari rasa benci ataupun dari sebuah kekaguman. Yang jelas, setiap orang berpeluang untuk merasakan jatuh cinta entah disadari atau tidak. Begitu juga yang terjadi pada Daffa, dan Andhira.


"Oh, ya. Abah menitipkan salam untukmu," ujar Daffa sambil melepas pelukannya.


"Benarkah? Mas menemui Abah?" tanya Dhira sumringah.


"Ya, untuk menananyakan sesuatu hal," jelas Daffa.


"Hmmm, apa itu, Mas?"


"Wanita itu, wanita yang memfitnahku. Dia teman kerjanya Farid, namanya Shella."


"Mas menanyakannya pada Abah?"


"Ya, mau bagaimana lagi. Hanya Abah yang terpikir olehku saat itu. Karena Abah yang tahu sedikit banyak tentang yang dilakukan Farid. Dan ternyata dugaanku benar, Dhira. Dia tidak merasa puas setelah merenggut perhatian Abah dariku. Sekarang ini, entah apa lagi yang akan direncanakannya untuk mengusik hidupku."


"Belum, aku tidak memberitahunya. Aku ke sana hanya untuk mencari tahu tentang wanita itu, dan ternyata Abah mengenlnya."


"Kenapa ada orang seperti itu, Mas? Apakah bagi mereka, menyakiti orang lain adalah hobi?" lontar Andhira.


"Aku tidak paham, Dhira. Sudahlah, biarkan saja. Setidaknya aku masih beruntung karena memilikimu di dalam hidupku."


Mereka saling memuja melalui tebar senyum dan sentuhan tangan. Sesapan bibir dan lenguh merdu pun terdengar jua memenuhi ruangan kamar. Madu cinta kembali diteguk oleh keduanya. Rasa hangat dan peluh mengilap membanjiri tubuh mereka. Ohh, sungguh semua itu mewakili setiap bentuk indah dari semua rasa.


"I love you, Sayangku," bisik Daffa, seraya menghembuskan napas hangat yang meniup daun telinga Andhira.


"I love you too, Mas," balas Andhira.


Seketika Daffa menghentikan kenakalan jemari tangannya. Dia mengerutkan dahi seakan tak percaya dengan yang baru saja didengarnya. Dia tidak bertanya dengan kata-kata, tapi raut wajah dan sorot matanya jelas menyiratkan tanda tanya yang besar, mungkin juga dalam.


"Kenapa, Mas? Apa aku salah bicara?" tanya Andhira ragu-ragu.


Daffa menggelngkan kepalanya. "Bolehkah Mas mendengarnya sekali lagi?" kata Daffa meminta.

__ADS_1


"Apa sih, Mas? Yang mana?"


"Yang tadi, Dhira. Apakah aku tidak salah dengar? Kamu berkata 'i love you too, Mas'. Benarkah itu?"


Andhira tersipu malu. "Apa itu dilarang?" cetusnya sambil menunduk.


Daffa menghela napasnya dalam-dalam, lalu mendekap kembali tubuh Istrinya tersebut. "Aku sudah menanti kata balasan itu sejak lama, Sayang. Aku tidak menyangka hari ini aku akan dapat mendengarnya langsung dari mulutmu," papar Daffa dengan perasaan bahagia yang tiada tara.


Suasana menjadi penuh oleh rasa haru. Daffa masih seperti mimpi mendengar Andhira membalas ungkapan rasa cintanya. Sungguh, itu adalah hadiah terindah yang dia dapatkan setelah banyak perjuangan.


"Sudah, Mas. Aku sulit bernapas," keluh Andhira.


"Maaf, Sayang. Aku terlalu bahagia," ungkap Daffa. Lantas, melepaskan dekapan eratnya pada Andhira.


Lalu, mereka kembali melanjutkan yang tadi. Ritual penyalur hasrat dan cinta yang kini terasa beribu kali lipat lebih nikmat dari sebelum-sebelumnya. Itu tampak seperti perayaan kecil, tetapi rasanya sangat luar biasa. Hingga tanda kepemilikan memenuhi leher dan bagian dada Andhira.


"Kita akan bulan madu lagi, Sayang," lontar Daffa usai mencapai puncak yang entah keberapa kalinya.


"Kemana, Mas? Bukankah usia pernikahan kita sudah hampir delapan bulan?" timpal Andhira.


"Itu tidak masalah, Sayang. Aku ingin menikmati waktu dan tempat yang indah bersamamu, humm." Daffa menyatukan keningnya dengan kening Andhira. Senyum mereka pun tampak beradu di sana.


"Mana yang lebih kamu sukai? Pemandangan alam terbuka yang sederhana, atau kamar mewah dari gedung hotel yang modern?"


"Aku menyukai kesederhanaan, tapi tidak ada salahnya juga kalau mencoba perpaduan di antara keduanya, Mas."


"Baiklah, aku akan mencari tempat yang sesuai dengan keinginanmu. Dan kita akan menghabiskan waktu yang berkualitas di sana."


"Kenapa kamu antusias sekali, Mas?"


"Karena cintamu begitu berharga bagiku, Dhira."


"Apa kamu tidak senang?" lanjut Daffa.


"Tentu saja aku senang, Mas." Andhira menjawab dengan senyuman yang tersungging di bibir indahnya.


Berselimutkan bed cover tebal dan hembusan AC kamar yang semakin dingin, keduanya pun tidur dalam keadaan sama polos dan sisa lelah yang masih melekat.


PRAAKKK!


Suara pecahan kaca jendela kamar mereka, berbunyi dengan sangat nyaring.


Bersambung ....

__ADS_1


Hasil gambar sketsa Andhira



__ADS_2