
Kejadian pagi itu cukup membuat perasaan mereka resah dan gelisah. Ada sedikit ketakutan juga untuk melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan mereka. Akhirnya, keduanya memutuskan pulang saja, lalu beristirahat.
"Maafkan aku, Sayang. Lain kali kita pergi liburan saja, ya. Menginap untuk beberapa hari di tempat liburan nantinya. Supaya tidak terlau lelah terburu-buru," hibur Daffa sambil memegangi tangan Andhira dengan satu tangannya.
"Baik, Mas. Jangan terlalu dipikirkan. Sebaiknya, Mas fokus saja dulu menyetirnya," usul Andhira.
"Oke, Sayang." Patuh Daffa. Dia pun memusatkan fokusnya pada waktu mengemudi hingga tiba di rumah.
"Mas, apa itu?" tanya Andhira ketika hendak masuk rumah, tapi matanya tertuju pada sebuah amplop coklat yang tergeletak tepat di depan pintu.
"Tidak tahu, Sayang." Daffa pun mengambil amplop itu, lantas mereka sama-sama masuk ke dalam.
Sesampainya di dalam, mereka memilih duduk dahulu di ruang tamu untuk meregangkan otot-otot yang kaku, setelah perjalanan dan mengalami sedikit kendala tadi. Kemudian, Daffa mepersilakan Andhira untuk membuka amplop berwarna coklat itu untuk menghilangkan rasa penasarannya. Di samping itu, amplop tersebut juga tidak memiliki keterangan yang ditujukan pada siapa pun. Jadi, tidak tahu dikirim untuk siapa dan dari siapa.
Perlahan Andhira membuka dan mengeluarkan isi yang ada di dalamnya. Dan alangkah terkejutnya Wanita itu saat melihat isi di dalam amplop itu. "Mas ...," lirihnya.
"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu terkejut?" tanya Daffa semberi mengerutkan dahi.
Andhira hanya diam dan menyerahkan apa yang ada di tangannya pada Daffa. Daffa mengambilnya, tapi mata Lelaki itu tetap fokus pada wajah Andhira. Di dalam hati Daffa, terdapat kecemasan yang tidak bisa dilukiskan.
"Sayang ...."
"Apa semua itu benar, Mas?"
Mendengar pertanyaan Andhira, barulah Daffa melihat pada benda itu. " Ha? Apa-apaan ini? Ini semua tidak benar, Dhira. Aku berani bersumpah," ujarnya.
Ya, beberapa foto yang menunjukkan Daffa tengah tidur dengan seorang wanita. Tepatnya, wanita yang tempo hari datang dan meminta pertanggungjawaban pada Daffa, atas kehamilannya. Entah bagaimana, tapi di sana jelas terpampang potret Daffa yang tidur tanpa busana dengan wanita itu.
"Dhira, tolong jangan berhenti berjuang untuk mempercayai aku. Aku tidak mungkin melakukan hal serendah itu," mohon Daffa, mencoba meyakinkan Andhira.
"Mas, katakan ... bagaimana aku akan percaya padamu? Bagaimana aku harus percaya pada sesuatu yang hanya ucapan? Sementara, bukti yang nyata telah ada di depan mataku sendiri." Andhira menangis.
"Kamu benar, Dhira. Wajar saja jika sekarang kamu percaya pada fitnah ini, tapi aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan mengakui tuduhan apa pun yang diarahkan padaku, selama aku tidak melakukukannya."
"Tidak, Dhira. Jangan menangis sekarang. Air mata ini terlalu berharga untuk diteteskan demi fitnah yang jelas tidak benar," lanjut Daffa sembari menyeka air mata Andhira.
__ADS_1
"Aku tidak tahu apakah kata-kata Mas Daffa ini jujur atau tidak, tapi aku tidak melihat keraguan di matanya. Dia tampak sangat yakin bahwa dia tidak melakukannya. Melakukan hal seperti dalam foto itu dengan wanita selain aku," bisik hati Andhira.
"Hey, dengarkan aku, Sayang! Aku akan membuktikannya bahwa semua ini hanya fitnah. Kamu boleh ragu sekarang karena aku belum bisa mengungkap kebenarannya. Tapi kumohon, jangan menangis, oke," tutur Daffa lembut.
Andhira mengangguk pelan. Daffa lega karena Andhira mau mendengarkannya, meski hatinya belum sepenuhnya merasa tenang. Pikirannya mulai meradang karena hal ini.
"Istirahat dulu, ya. Mas akan pergi sebentar," titah Daffa.
"Mau kemana, Mas?"
"Aku harus mencari tahu semua ini. Karena aku belum tenang kalau belum bisa membawa kebenarannya ke hadapanmu, Dhira. Jadi, aku akan menyelesaikan semua fitnah ini. Agar hatiku tenang, dan kamu juga lega, mengerti?" terang Daffa sambil membelai lembut pipi Andhira.
"Iya, Mas. Kalau begitu berhati-hati dan fokuslah saat menyetir," pesan Andhira.
"Terima kasih, Sayang," ucap Daffa seraya mencium tangan Andhira. Andhira pun menikmati waktu rehatnya di dalam kamar.
Daffa pergi untuk mencari tahu siapa dalang di balik semua fitnah yang begitu keji ini. Dilihatnya kembali foto-foto itu, lalu diremmatnya dengan geram. Tapi, dia menyisakan satu foto yang sudah disobek hingga menyisakan bagian wajah si wanita saja.
"Tidak akan aku biarkan siapa pun merusak hidupku lagi. Sudah cukup semua derita yang aku alami. Terlalu pedih, sampai Andhira menjadi korban dan pelampiasanku. Aku pastikan mulai saat ini, tidak akan aku biarkan keadaan membantingku secara terus-menerus," gumam Daffa.
Ya, foto yang Daffa unggah beberapa waktu silam itu menunjukkan dia yang sedang tidur sendirian tanpa baju dan hanya berselimutkan sebuah bed cover tebal. "Kalau tahu begini, aku menyesal telah mengunggah fotoku ke jejaring sosial," decak Daffa menyayangkan perbuatannya sewaktu itu.
"Baiklah, setidaknya satu kebenaran sudah terungkap. Aku akan mencari tahu, siapa sebenarnya wanita ini?" lanjutnya, yang terus bicara sendiri.
"Abah! Ya, aku harus menemui Abah." Daffa pun langsung datang ke pekerjaan ayahnya yang biasa dipanggil Abah tersebut.
Kurang dari tiga puluh menit, waktu yang telah ditempuhnya. Kini, Daffa pun sampai di sebuah toko tekstil terbesar yang merupakan usaha pribadi milik Abah, ayahnya Daffa. Dia masuk ke sana dan menemui Abah.
"Daffa," sambut Abah antusia. Seperti ada kerinduan yang tersirat pada wajah Abah.
"Apa kabar, Bah?" sapa Daffa sambil memberi pelukan pada Ayahnya itu.
"Seperti yang kamu lihat, Nak. Tumben kamu menemui Abah. Abah kira, kamu masih marah pada Abah atas perjodohanmu dengan Andhira.
"Ahh, tidak, Bah. Mungkin untuk saat ini, perjodohan itu malah menjadi satu-satunya hal yang paling Daffa syukuri. Terima kasih, Bah."
__ADS_1
Abah terperangah tidak percaya. Walau, perubahan baik pada Daffa memang sudah dirinya rasakan begitu dia menikahkannya dengan Andhira. Salah satunya, Daffa sudah tidak lagi senang keluyuran. Abah mengetahuinya, karena diam-diam Abah terus memantau lewat teman-teman main Daffa.
"Apa Abah tidak salah dengar?" ucap Abah memastikan.
"Tidak, Bah. Ini sungguhan, dan Daffa mengatakannya dengan tulus."
"Walau awalnya, Daffa sempat tidak adil pada Andhira hingga membuatnya sakit sampai sekarang," sesal Daffa di dalam hati.
"Syukurlah kalau begitu, Nak. Abah senang mendengarnya. Maafkan Abah yang sebelumnya
sudah terlalu keras padamu."
"Sudahlah, Bah. Daffa sedang belajar untuk membuka lembaran baru di hidup Daffa."
Sekali lagi, Abah memeluk Daffa penuh rasa bangga. "Apa ada hal lain, Nak? Sepertinya kamu menyembunyikan sesuatu hal dari Abah," terka Lelaki paruh baya itu.
"Emm, iya, Bah. Sebenarnya, Daffa ingin bertanya mengenai sesuatu hal. Apa Abah kenal sengan wanita ini?" seloroh Daffa sembari menunjukkan sobekan foto wanita yang tadi.
Abah meneliti potret wajah itu. "Ahh, ini Shella. Belakangan ini dia sering bersama Farid. Katanya, sih, teman kerjanya Farid," urai Abah.
"Berarti dugaanku memang benar," batin Daffa.
"Memangnya ada apa, Nak?"
"Ohh, tidak apa-apa, Bah. Daffa ingin tahu saja, karena belakangan sering melihat dia ada di sekitar rumah Daffa."
"Begitu, ya? Tapi, benar tidak ada masalah kan?" tanya Abah menaruh rasa curiga.
"Iya, Bah. Tenang saja, Abah tidak perlu khawatir. Kalau begitu, Daffa pamit pulang dulu ya, Bah. Andhira sudah menunggu Daffa untuk makan siang bersama," alibi Daffa.
"Baiklah, sampaikan salam Abah pada Andhira, ya." Mereka pun saling memeluk, sebelum akhirnya Daffa bertolak menuju ke rumahnya.
"Aku kira sudah cukup kamu merebut kasih sayang Abah dariku, Farid. Ternyata kamu belum puas menancapkan duri di dalam hidupku," gerutu Daffa sembari terus melajukan mobilnya.
Bersambung ....
__ADS_1