Istri Cantik Suami Bucin

Istri Cantik Suami Bucin
PC 11


__ADS_3

Satria merangkul Rahel yang sedari tadi diam mendengar hinaan dari Dea dan teman-temannya.


"Jal4ng? Kau meneriaki kami jal4ng hah!" Kesal Dea saat Satria meneriaki mereka ****** hingga beberapa orang menatap aneh pada mereka.


"Ya tentu kalian wanita tidak punya etiket, bagaimana bisa kalian menuduh seseorang dengan mudahnya dan menjelekkan dia di hadapan banyak orang!" Ketus Satria.


"Jangan sekalipun kau mendekatinya, dia istriku kau harus melangkahi mayatku dulu sebelum menyentuh rambutnya!" Tegas Satria lalu membawa Rahel pergi dari tempat itu, dia bisa memesan perabot nya nanti atau menyuruh Bastian membereskan hal itu.


Rahel terus diam, dia menundukkan kepalanya, gadis yang sering mengalami depresi itu kini kembali terpuruk.


Satria membawanya keluar dan dia membawanya duduk di kursi yang disediakan di depan toko itu.


"Raaa, hey lihat aku!" Ucap Satria, dia tidak tega melihat kondisi Rahel yang tiba-tiba memburuk setelah mendapatkan hinaan seperti tadi di dalam toko.


Satria memutar tubuh Rahel sehingga mereka saling berhadapan di kursi panjang itu.


"Ra apa kau menangis?" Ucap Satria sambil membuka maskernya dan menatap Rahel dengan raut wajah khawatir.


Bahu Rahel bergetar, tampak gadis itu menangis tersedu sedu, kali ini benar-benar berat, dia tidak sanggup menerima hinaan sebesar itu.


Bagaimana mungkin mereka tega menghina Rahel sebagai seorang pelacur di depan banyak orang, apa nilainya serendah itu?


"Hiks...hiks...huhuhuhu," Rahel menangis, suara tangisnya yang menyedihkan membuat hati tersayat.


Satria reflek memeluk gadis itu untuk menenangkannya, orang-orang berpikir mereka adalah pasangan pengantin baru yang sedang bertengkar.


"Raa, sudahi tangismu kau harus kuat!" Ucap Satria.


"Apa salahku, kenapa mereka jahat hiks hiks hiks," Rahel menangis tersedu-sedu dalam rangkulan Satria, gadis itu benar benar down saat ini.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memotret mereka dari kejauhan.


"Sudah, jangan dengarkan mereka, ayo kita pergi dari tempat ini,tenangkan dirimu!" Ucap Satria sambil memberikan sapu tangan yang selalu dibawanya kemana-mana.


"Kau tau kan gadis itu, dia anak orang yang sudah menghancurkan keluarga kami Sat, arhhh.....kenapa mereka tidak punya perasaan sama sekali!" Tangisnya lagi.


"Sudah tak ada gunanya kau menangis, ayo pergi, kita senang senang hari ini, aku yang traktir!" Seru Satria sambil menggandeng tangan Rahel.


"Eh ups maaf, saya reflek heheh," ucap Satria saat sadar kalau dia sudah menggandeng tangan gadis itu.


Rahel mengusap wajahnya dengan sapu tangan milik Satria.


"Tapi barang-barangnya..." Ucap Rahel merasa tidak enak.


"Sudah biar aku yang urus!" Ucap Satria santai.


Satria dan Rahel pun pergi dari toko itu tanpa mebawa barang apa pun. Satria sudah tidak mood berbelanja karena kejadian tidak menyenangkan tadi.


"Maaf ya, harusnya aku membantumu memilih perabotan," ucap Rahel dari belakang, dia merasa tidak enak telah mengacaukan perjalanan mereka.

__ADS_1


"Apa Raaa...? Robot robotan? Kamu mau main robot robotaaan??" Tanya Satria dari depan.


"Bukan robot robotan Sat, aku merasa gak enak sama kamu, harusnya aku bantu milihin perabotan yang kamu butuhkan!" Teriak Rahel dari belakang berharap Satria mendengarnya dengan jelas.


"Haaa.... rambutan? Belum musim Raa, rambutan masih lama makan yang lain aja yaaaa," teriak Satria makin ngelatur.


"Aduhh buka rambutan tapi perabooootaaaannn," teriak Rahel lagi.


"Ohhhh perawataaaan, bilang dong kalau mau ke salon, oke cap cus kita perawatan!" Ucap Satria.


"Aduuhhh Satria, kamu makin ngelantur aja!!" Ucap Rahel sambil memukul punggung Satria dari belakang.


"Ahh....enak Ra, iya pukul lagi disitu, ini enak banget, kamu jago, kenapa gak jadi tukang kusut ajaaa," teriak Satria lagi.


"Astaga ini orang makin ngelantur aja, hahahhaha kamu pikir aku tukang kusut dasar cowok aneh!!" Teriak Rahel.


"Haaa.....kamu beneran tukang kusut wah hebat kamu Raaaa,," balas Satria.


Rahel menggelengkan kepalanya sambil tertawa mendengar celotehan Satria.


"Hahahahahah, kau ini ada ada saja," Rahel tertawa terbahak-bahak, setidaknya dia bisa melupakan sedikit rasa sedihnya.


Sebenarnya Satria bukannya tidak mendengarkan, dia sengaja melakukan itu agar Rahel merasa terhibur.


Mereka pun melaju menuju sebuah mall di kota itu. Satria masih setia memakai maskernya.


"Mau tidur, ya belanja lah Rahel," ucap Satria sambil membuka helm Rahel.


"Udah ayo turun, apa kau mau disini terus sampai ekor beruang jadi panjang hmm?" Ucap Satria.


"Iya iya gak sabaran banget sih, kamu yang ajak kamu yang ngomel dasar aneh!" Ketus Rahel dengan wajah di tekuk.


"Heheheh, cie cemberut nieee," goda Satria.


"Ck...dasar aneh!" Ketus Rahel.


Mereka berjalan memasuki bangunan Mall tersebut. Keduanya tampak seperti pasangan yang sedang berbelanja kebutuhan rumah di mall tersebut.


"Eh Ra, by the way kamu dapat cincin itu dari mana? Itu sepertinya pasangan cincin yang ku pakai ini," ucap Satria sambil menunjuk cincin di jari manisnya.


"Aku dapat murah dari toko perhiasan yang kita bertubrukan waktu itu, katanya ada yang ngambil pasangannya, jangan jangan itu kamu lagi!" Ucap Rahel membelalakkan matanya.


"Heheheh, iya Ra, kok bisa samaan ya?" Ucap Satria terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, mungkin.


"Hahahahah, kok bisa kebetulan begini sih hahaha, kamu belinya buat apa?" Tanya Rahel.


"Kamu pasti tau untuk apa," ucap Satria sambil menaikkan satu alisnya.


"Pemalsuan identitas!" Ucap Rahel tergelak.

__ADS_1


"Yas benar sekali nona, hahaah kok malah jadi sepasang gini??" Ucap Satria terkekeh.


"Eh by the way emang gak masalah kita pakai ini di kantor, emmm oh iya kamu emang gak masuk kerja ya hari ini?" Ucap Rahel.


"Santai aja, pekerjaanku ringan sekarang, bosnya juga belum masuk, lagian aku cuti untuk pindah rumah ya gak masalah lah soalnya aku jarang ambil cuti," jelas Satria.


"Ohhh gitu, eh tadi gimana? Apa gak masalah kita pakai cincin nikah begini? Entar ada gosip yang gak enak lagi," ucap Rahel.


Mereka berdua kini sedang naik eskalator dengan posisi Rahel dan Satria saling berdampingan.


"Hmmm benar juga, aku malah jadi khawatir bakalan ada gosip miring, apalagi orang-orang di pemasaran agak sengklek," ucap Satria.


"Hisshhh kamu kok malah ejek divisi sendiri," ucap Rahel tanpa sadar memukul lengan Satria pelan.


"Hmmm....gini aja supaya aman buat kita berdua, kita ngakunya udah nikah aja biar aku juga gak ada yang gangguin dan kamu juga gak ada yang ganggu, secara di perusahaan banyak banget orang yang nge fans sama.aku," ujar Satria dengan percaya dirinya.


"Heleh pede banget kamu," ucap Rahel dengan tatapan meledek ke arah Satria.


"Ya harus pede dong Ra heheheh, gimana cocok kan? Kamu juga akan terhindarkan dari laki-laki hidung belang," ucap Satria.


"Hmmmm sepertinya idemu bagus juga, kita bohongin aja mereka hahahah," Rahel tergelak.


"Eh tapi kamu gak masalah kan Sat?" Ucap Rahel merasa tidak enak.


"Santai aja Ra, toh tujuan kita sama dan kita juga gak ada niat mau nikah ya kan?" Ucap Satria.


"Iya kamu benar," Jawab Rahel.


"Perhatikan kakimu," ucap Satria saat mereka tiba di lantai atas dengan eskalator.


"Thanks," ucap Rahel yang dianggukkan oleh Satria.


Satria membawa Rahel menuju sebuah salon yang melayani pengunjung laki laki dan perempuan.


"Kamu mau ubah warna itu kan!" Ucap Satria sambil menunjuk rambut Rahel.


"Ahh iya, pas banget kita kesini," ucap Rahel.


Mereka pun dilayani oleh pegawai salon itu. Rambut Rahel di ubah menjadi warna coklat tua yang lebih dominan ke warna gelap dan ujung rambutnya dirapikan sedikit agar lebih fresh.


Sama halnya dengan Satria, dia juga merapikan rambutnya yang sudah cukup panjang.


.


.


.


jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya guyss 😊😊😊😉😉😉😉😉

__ADS_1


__ADS_2