
Satria dan Rahel keluar dari rumah mereka, mereka menaiki mobil Satria yang sudah terparkir rapi di garasi mobil.
"Siapa yang bawa mobilnya kesini?" tanya Rahel yang memang tidak melihat mobil itu semalam.
"Ahh Bastian yang antar tadi malam," ucap Satria.
"Jadi Pak Bastian itu asisten kamu?" ucap Rahel yang masih saja belum percaya dengan ucapan Satria.
"Iya sayang," jawab Satria sambil tersenyum menghadapi kepolosan istrinya itu.
Mereka pun berangkat menuju perusahaan Farenheit. Setibanya disana mereka disambut oleh para pengawal yang berjejer di depan pintu masuk perusahaan.
Kedatangan mereka sontak menjadi pergunjingan di antara para karyawan yang bahkan tak pernah melihat sosok Presdir mereka.
Di dalam mobil, tampak Satria merapikan penampilan istrinya dan juga dirinya.
"Tutupin rambutnya juga, jangan lepas maskernya ya sayang, kacamatanya juga, aku gak mau kamu jadi incaran orang orang jahat," ucap Satria sambil memperbaiki penampilan istrinya.
"Apa kamu melakukan ini karna kamu malu punya istri seperti aku?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari bubur mungil Rahel.
Deghhh...
Mendengar ucapan Rahel, membuat Satria merasa sedih, bagaimana bisa istrinya begit merasa rendah diri di hadapan suaminya semi padahal sudah jelas Satria mengatakan kalau dia mencintai Rahel.
Satria menarik Rahel ke dalam pelukannya, dia tau hidup wanita itu sulit selama ini, sehingga untuk membangkitkan kembali kepercayaan dirinya akan cukup sulit dan perlu tenaga serta kesabaran ekstra.
"Sayang please jangan ngomong begitu ya, atau kamu mau kita buka masker aja, aku sih gak masalah nunjukin sosokku ke hadapan publik, kamu maunya gitu biar aku buka masker dan kacamata aja, biar kutunjukkan pada duni bahwa Rahel Jennifer Kylie adalah milik Satria Ben Farenheit!" ucap Satria dengan tatapan sedih sambil melihat istrinya, dia membuka masker dan kacamatanya.
Rahel menatap mata Satria, dia dapat melihat ketulusan disana, dia tau Satria bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Seketika Rahel tersenyum manis, dia mengambil kacamata dan Masker Satria lalu memasangnya kembali ke wajah Satria.
"Nggak perlu, aku gak mau pria tampan ini jadi incaran para wanita di kantor ini, maaf membuatmu khawatir," ucap Rahel.
Satria tersenyum, dia memeluk Rahel dengan erat dan..
Cup
Satu kecupan lembut mendarat di kening gadis cantik itu.
"Aku mencintaimu," ucap Satria sambil tersenyum.
"Terimakasih, maaf aku belum bisa membalasnya sekarang," ucap Rahel.
"Bukan masalah, cinta bisa kita pupuk, yang penting kamu nyaman di sampingku," ucap Satria sambil menutup masker istrinya.
"Ya udah kita keluar ya," ucap Satria.
Satria pun membukakan pintu untuk istrinya dan menggandeng tangan Rahel. Sontak penampilan mereka berdua menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
Kehadiran sang Presdir legendaris yang bahkan tak pernah menunjukkan wajahnya ke hadapan publik membuat perusahaan menjadi geger dan penasaran kira kira bagaimana sosok pemimpin perusahaan mereka apalagi sosok itu membawa seorang perempuan yang identitasnya juga disembunyikan rapat rapat .
Satria menggandeng tangan istrinya dengan erat. Mereka disambut oleh Bastian asisten Satria di perusahaan yang paling sering tampil di hadapan publik di bandingkan dengan Satria sendiri.
"Selamat datang tuan, nyonya!" sapa mereka sambil menunduk hormat yang dibalas dengan anggukan oleh Gama.
Mereka berdua berjalan dengan Bastian di belakang dan diikuti oleh pengawal lainnya. Melihat tatapan para karyawan, membuat Rahel merapatkan tubuhnya ke samping Satria dan berjalan sambil menunduk.
"Kenapa?" bisik Satria saat melihat istrinya menunduk.
"Mereka bisa saja mengenaliku, hanya berjalan berdua denganmu saja tanpa tau identitasku mata mereka sudah melotot mau keluar dan membunuhku, apalagi kalau sampai tau, bisa habis aku!" bisik Rahel sambil mengintip suaminya dari balik kacamata.
Satria tergelak, dia merangkul tubuh Rahel ," Tenang saja tak akan ada yang berani menyakitimu wahai nyonya Farenheit," ucap Satria dengan hati yang begitu senang.
"Benarkah?" tanya Rahel lagi.
"Tentu saja sayang," ucap Satria.
Di belakang mereka tampak Bastian mengangakan mulutnya mendengar percakapan Satra dengan perempuan bisa berubah seperti itu.
"Wow ini benar benar tidak disangka, Satria kembali normal, hmmm tapi kurasa itu hanya berlaku untuk nona Rahel," batin Bastian sambil menatap mereka berdua yang terlihat sangat serasi.
Mereka tiba di lift khusus Presdir yang hanya bisa dinaiki atas seizin Satria.
Lift tiba di lantai yang mereka tuju, lantai terakhir gedung itu, yang hanya bisa dikunjungi oleh Satria dan orang penting lainnya.
"Kamu suka?" tanya Satria sambil membuka masker dan topinya, begitu juga dengan milik istrinya.
"What? aku gak salah Lihat,??" batin Bastian terbelalak kaget dengan perlakuan manis Satria pada istrinya.
"Hmmm... suka, ini cantik banget," ucap Rahel dengan senyum bahagia di wajahnya.
"Mulai hari ini kamu gak usah kerja di bagian pemasaran lagi, kalau perlu kamu gak usah kerja kamu temanin aku aja," ucap Satria sambil memeluk istrinya dari belakang dan menatap pemandangan perkotaan di depan mereka.
"Husshh gak boleh gitu, aku tetap harus profesional dong, kan aku udah bilang tujuan aku ke kamu waktu itu," ucap Rahel sambil menepuk lengan Satria.
Bastian yang melihat kemesraan dua sejoli itu hanya bisa gigit jari dan memilih fokus pada pekerjaannya daripada harus melihat orang lagi mesra mesraan di depannya.
"Ckk .. sekalinya dapat buat adegan romantis gak mikir tempat, dasar Satria sableng!!"batin Bastian sambil membolak balikkan dokumen di depan mejanya.
"Ahhh kamu masih mau melanjutkan tujuanmu itu? " tanya Satria yang dibalas anggukan oleh Rahel.
"Kalau begitu kamu jangan duduk di bagian pemasaran, aku akan memberikan posisi yang tepat untuk kamu, supaya bisa lebih cepat berkembang, aku akan membantu istriku yang cantik ini," ucap Satria.
"Aku sih gak masalah, tapi apa aku bisa nanti mengatasi semua pekerjaan itu, secara aku belum ada pengalaman?" tanya Rahel.
"Kamu kan cepat belajar sayang, kalau begitu ayo kita belajar dari hari ini, kamu akan menjadi asisten pribadiku, sesekali kita akan berkunjung ke bagian pemasaran," ucap Satria.
__ADS_1
"Lalu kompetisi itu?" tanya Rahel.
"Akan tetap berlangsung tanpa kamu, aku sengaja buat kompetisi itu supaya ketemu sama orang yang paling cocok untuk mengganti posisiku sebagai kepala divisi pemasaran," jelas Satria.
"Baiklah, aku ikut apa katamu saja, emmm tapi..." Rahel terdiam.
"Tapi apa Ra?" tanya Satria.
"Kita harus beritahu Jenny, aku takut dia khawatir, apa boleh?" tanya Rahel.
"Apa Jenny bisa dipercaya?" tanya Satria ragu.
"Kalau menurutmu bagaimana? apa dia bisa dipercaya? pandangan orang berbeda beda, kalau menurutmu terlalu beresiko memberitahu Jenny maka tidak perlu memberitahukannya," ucap Rahel.
Satria tersenyum, istrinya memang sangat pengertian dan bijak, meski kelihatannya sering depresi, Rahel adalah wanita yang bijak jika saja dia tidak mengalami semua kejadian mengerikan di masa lalunya.
"Baiklah, kita panggil dia kesini, aku ingin melihat wajah konyolnya saat tau siapa dirimu sekarang dan siapa pria yang mereka sebut sebagai gay ini," ucap Satria sambil tersenyum nakal.
"Kau jahil sekali," ucap Rahel sambil tersenyum.
Satria melepaskan pelukannya lalu menghubungi manajer HRD untuk memanggil Jenny ke ruangan Presdir dan akan dikawal oleh beberapa pengawal.
"Apa perlu pakai pengawal?" tanya Rahel.
"Kita jahili dia hahahhah," tawa Satria.
"Ck.. ck... ck .. kekanakan," ledek Rahel sambil geleng-geleng kepala.
sementara itu di divisi Pemasaran, terjadi keributan karena bagian HRD datang bersama pengawal untuk menjemput Jenny.
"Bu kenapa saya dibawa ke kantor Presdir, mana pake pengawal lagi," ucap Jenny ketakutan saat melihat dua pria berpakaian hitam tinggi dan tegap berdiri di belakang Manajer HRD.
"Saya mana tau Jenny, kamu kali melakukan kesalahan," ucap Manajer tersebut.
"Ya sudah cepat!" ucapnya.
"Tiiidaaakkkk bagaimana kalau aku dipecat arhhhhhhhh...." teriak Jenny frustasi.
"Jen gak nyangka kita akan berpisah secepat ini," ucap teman temannya.
"haissshhhh jangan nakut nakutin deh!" ketus Jenny.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 😉😉😉