
Bastian dan Jenny kini berada di dalam mobil milik Bastian, mereka sudah ijin untuk pergi dari mall dan mengatakan kalau Jenny tiba tiba ada urusan mendesak yang harus dihadiri.
Dia dalam mobil, Jenny tampak gelisah, dia berulang kali menatap layar ponselnya sebab sedari tadi pesan masuk dari orang tua dan adiknya terus mengganggu pikirannya.
Dia menggigit jarinya, tampak raut khawatir tergambar jelas di wajah gadis cantik berambut pendek itu.
“Hey apa kau punya gangguan kepanikan? Kenapa kau seperti itu? Kau membuatku takut Jen,” ucap Bastian yang heran dengan perilaku Jenny, persis seperti seseorang yang tengah mengalami gangguan mental.
“Ha? Ma... maaf,” jawab Jenny langsung menunduk, tangannya tampak gemetar, dia menunduk sambil menggenggam erat ponselnya. Sejak melihat pesan dari orangtuanya, Jenny tampak panik dan khawatir, sepertinya firasat buruknya benar benar terjadi.
Bastian melirik gadis yang disukainya itu, dia merasa heran dengan Jenny yang tiba tiba panik seperti itu.
Grepp...
Bastian mengambil ponsel jenny tepat saat sebuah pesan masuk terdengar dari ponsel gadis itu.
“Pak... po... ponsel saya,” ucap Jenny sambil menatap Bastian, dia tampak panik saat Bastian membuka ponselnya itu.
“Tidak dikunci,” gumam Bastian sambil membuka ponsel gadis itu.
“Ada apa sebenarnya?” tanya Bastian yang belum membuka pesan itu, dia memegang ponsel jenny tanpa menatap gadis itu karena ia sedang menyetir.
“Ummm i...itu urusan pribadi saya pak,” jawab Jenny.
“Hmmm... terpaksa,” ucap Bastian menghentikan mobilnya ke pinggir jalan membuat Jenny heran.
Bastian membuka isi pesan itu dan membacanya, pria itu terdiam saat membaca isi pesan yang dikirimkan orangtua dan adik jenny. Dia terbelalak kaget saat membaca pesan itu, bahkan pesan pesan sebelumnya dia juga baca.
Jenny merebut paksa ponselnya, dia langsung menyembunyikan ponsel itu saat melihat wajah Bastian yang terkejut, bahkan sampai membuat pria itu menatap Jeny dengan tatapan tak percaya.
“tak kusangka dia hanya anak angkat, seperti apa kehidupannya dulu,” batin Bastian yang menatap Jenny.
“Kupikir apa,” ucap Bastian cuek, padahal hatinya sudah gundah gulana membaca isi pesan orangtua Jenny pada gadis itu.
“Ini urusan pribadi saya pak,” jawan Jenny dingin.
Bastian kembali menyalakan mobilnya, dia melaju menuju rumah keluarga Jenny sesuai dengan Map pada aplikasi.
Bastian mengemudi, dia tenggelam dengan pikirannya, dia memikirkan isi pesan orangtua angkat Jenny tadi.
__ADS_1
Pesan yang meminta agar jenny segera pulang karena dia akan dinikahkan dengan orang yang telah mereka pilih, jika menolak maka Jenny akan dibuang dan di coret dari kartu keluarga dan dituntut untuk membayar biaya perawatannya selama dia tinggal bersama mereka.
“Apa yang akan dilakukan gadis ini, hahhh... apa aku tak punya kesempatan? Tapi dia tampak khawatir sekali, seperti apa sebenarnya kehidupan gadis ini?” batin Bastian yang sesekali melirik jenny yang tampak gelisah.
“Apa pak Bastian tidak punya perasaan sedikitpun padaku? Dia tampak biasa saja saat melhat isi pesan itu, padahal aku sengaja membiarkan dia melihatnya untuk mengetahui responnya, ternyata aku memang tidak punya kesempatan untuk dekat dengan pak Bastian,” Batin Jenny, ia benar benar murung.
Mereka berdua larut dengan pikiran mereka masing masing, Jenny benar benar panik saat ini, jika dia tidak datang maka dia akan dituntut oleh kedua orangtua angkatnya itu, selain itu mereka juga menggunakan adik adik Jenny untuk mengancam gadis itu.
Di sisi lain, adik adik angkat Jenny meminta agar Jenny tidak datang ke rumah karena dia pasti akan langsung dinikahkan dengan seorang pria mata keranjang dan cukup dikenal oleh warga di tempat itu karena memiliki banyak uang dan rela mengeluarkan uang yang banyak untuk menjadikan Jenny sebagai istrinya.
Jenny terus memikirkan semua isi pesan itu, sampai sampai dia tidak sadar telah membuat Bastian ikut panik, sebab Jenny sampai memukul mukul kepalanya, terkadang menarik rambutnya karena benar benar tidak tau cara untuk menghindar dari masalah itu.
“dia sangat panik,” batin Bastian.
“Jen tenanglah,”hanya dua kata keluar dari mulut Bastian bisa membuat Jenny terdiam seketika, dia tidak lagi ketakutan, setelah mendengar suara itu dia lebih tenang, katakan saja kalau suara Bastian membuatnya sedikit merasa nyaman dan tenang meskipun maslah besar kan segera menghadangnya di depan.
“Maaf,” cicit gadis itu lagi.
Mereka melaju menuju rumah Jenny tanpa ada pembicaraan apa pun, Jenny menatap kosong ke arah jalanan, dia menyembunyikan wajahnya, air matanya menetes dan berusaha disembunyikannya,” Menyedihkan,” batin Jenny meratapi nasibnya.
“Dia menangis,” batin Bastian yang melirik Jenny dari kaca spion.
Saat mereka tiba, rumah Jenny sudah ramai dengan beberapa mobil terparkir di depan dan beberapa sepeda motor, rumah mereka juga sudah dihias seindah mungkin seperti akan melaksanakan sebuah acara penting.
Beberapa warga tampak menatap kedatangan mobil Bastian.
Jenny keluar dari dalam mobil, dia benar benar takut saat ini dan Bastian bisa melihat ketakutan gadis di sampingnya itu.
Jenny menatap rumahnya lalu menatap Bastian yang tampak cuek padahal pria itu juga tengah gelisah memikirkan apa yang akan terjadi pada gadis yang telah merebut hatinya itu, akankah Bastian gagal sebelum berperang?
“wah Jen selamat ya, kamu hebat bisa mendapatkan hati Pak Subroto, dia orang kaya berat loh, selamat ya, semoga acara pernikahannya lancar,” ucap para warga.
Deghh...
Jantung Jenny dan Bastian sama sama bagai dihujam batu yang sangat keras, “Saya mana..” belum selesai Jenny berbicara, tangannya di tarik paksa oleh seorang wanita yang tak lain adalah mama angkat Jenny.
“Ayo cepat, kenapa kau lama sekali, semua orang sudah menunggu,” ucap Mamanya seraya mencubit lengan gadis itu hingga membuat Jenny meringis kesakitan.
“Awhh... ini apa maksudnya Ma? Aku... aku gak mau nikah, aku gak mau nikah sama orang itu,” ucap jenny yang mulai menangis.
__ADS_1
Mama angkat Jenny begitu geram saat mendengar ucapan Jenny, dia menarik paksa Jenny dan membisikkan sesuatu di telinga gadis itu.
“Jika kau tidka menurut maka aku akan menyiksa Petra dan yang lainnya dan juga aku akan menuntut sahabatmu bernama Rahel itu atas pencurian barang karena dia membawa beberapa barang dari rumah ini, “ ancam mama Jenny yang telah dibutakan oleh iming-iming uang bernilai puluhan juta.
“Tapi..” Jenny tak bisa mengelak, dia ditarik paksa, dia sempat melirik Bastian tampak sorot kesedihan di mata gadis itu, dia menangis namun tak bisa berbuat apa apa.
Bastian masih mengamati apa yang akan merkea lakukan untuk bisa berpikir dan mengambil tindakan selanjutnya.
Jenny dirias paksa oleh MUA yang disediakan oleh Pengantin pria yang sudah menunggu di hadapan pemimpin acara pernikahan yang di akan diadakan dengan konsep outdoor.
Jenny tampak cantik dengan semua riasan yang menempel di tubuhnya, namun tak ada senyum di wajah itu, dia hanay bisa pasrah dan tak bisa melawan, jika menolak dia akan dituntut ganti rugi dan adik adiknya akan di pukuli serta Rahel akan terlibat dalam masalah itu.
Kini jenny dibawa menuju altar pernikahan, mereka akan melaksanakan pernikahan, hampir gadi situ menangis menahan sakit dari cengkraman tangan Mama angkatnya dan menahan kesedihannya, semua itu tak luput dari mata Bastian.
“Siapa pun tolong aku,” batin Jenny menangis dalam dalam diam.
“wah calon istriku sangat cantik,” ucap pak Subroto si pria hidung belang sambil mencolek dagu Jenny yang membuat Jenny ketakutan dann Bastian menggeram kesal.
“Baiklah sebelum kita mulai acaranya, apa ada yang ingin menyempaikan sesuatu atau tidak setuju dengan pernikahan ini?” tanya pembawa acara.
Jenny menatap tamu undangan, dia mengulum bibirnya, dia ingin menyelamatkan dirinya dari siksaan ini.
Gadis itu dengan berani mengangkat tangannya bersamaan dengan Bastian yang juga mengangkat tangannya sambil menatap jenny.
“Saya keberatan !!” ucap mereka berdua dengan tegas.
Semua mata terbelalak, bagaimana bisa pengantin wanita keberatan dengan pernikahannya sendiri bahkan ada seorang pria yang juga melakukannya.
Jenny terkejut, dia segera menatap Bastian, pria itu tersenyum lembut menenangkan Jenny.
“aku akan membantumu Jen,” batin Bastian.
.
.
.
Like, Vote dan komen
__ADS_1