
Satria tak habis pikir dengan ucapan Rahel, dia benar-benar kesal bercampur khawatir dengan kesehatan mental istrinya.
"Maaf," cicit Rahel sambil menunduk.
"Jangan menyesali apa yang terjadi Ra, semua sudah diatur oleh yang diatas," ucap Satria.
"Tapi apa kau tidak marah?" ucap Rahel dengan polosnya.
"Aku masuk ke kehidupanmu dan merusak semua prinsip hidupmu," ucap Rahel.
Satria menatap dalam netra hitam gadis cantik yang kini menjadi istri seutuhnya bagi seorang Satria.
"Justru prinsipku kujaga untuk wanita seperti dirimu Ra, kamu wanita yang hebat, jujur saja aku jatuh cinta padamu," ucap Satria sambil mengelus kepala istrinya dengan lembut.
Deg... deg ... deg...
Jantung Rahel berdegup kencang, wajahnya merona dan matanya terbelalak tak percaya saat mendengar pernyataan cinta dari suaminya sendiri. Secepat itukah? pikirnya.
"Apa secepat itu? tapi aku.."
"Tak apa kalau kau belum membalasnya saat ini, yang penting kau sudah tau perasaanku saja aku sudah bahagia, jadi kumohon jangan memikirkan sesuatu yang tidak tidak, aku sangat mengkhawatirkanmu," ucap Satria jujur.
"Entah ini benar untuk kulakukan, entah aku layak mendapatkan kasih sayang seperti ini," ucap Rahel kembali menangis.
"Jangan menangis Rara, " ucap Satria yang membuat Rahel terbelalak.
"Rara?" ucapnya malu.
"He.. em Rara, panggilan sayangku padamu Rara-ku," ucap Satria sambil melemparkan senyum menggoda pada Satria.
Rahel menutup wajahnya, dia merasa malu apalagi saat ini mereka sangat dekat tanpa sehelai pakaian pun, membuat rasa gugupnya semakin bertambah besar.
"Ahahhahaha, kenapa wajahmu memerah Rara sayang," goda Satria lagi.
"Hentikan Satria, aku malu !" ucapnya sambil menutup wajahnya dengan selimut.
Satria ikut masuk ke dalam selimut, dia memeluk tubuh polos istrinya membuat sesuatu di bawah sana kembali menegang.
Satria membuka selimutnya dan...
Hap,
dia menggendong tubuh istrinya menuju kamar mandi, Rahel sekarang benar benar malu , dia merasa sangat malu menunjukkan tubuh polosnya pada Satria.
"Kita mandi bareng, oke, aku takut kebablasan Ra, aku gak mau memaksa dirimu," ucap Satria jujur, meski hasratnya sebagai seorang pria muda dewasa mulai membuncah nun segera dia redam mengingat kondisi istrinya yang baru pertama kali dan mereka telah melakukan hal itu semalaman.
"Tapi kenapa harus mandi berdua Satria, aku malu," cicit Rahel sambil menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang suaminya.
"Mau berdua atau tidak akan sama saja, lagian buat apa malu Rara sayang toh aku sudah menyentuh semuanya, kau juga sangat Ekhmm... sangat menikmatinya semalam, iya kan," goda Satria lagi
Lagi dan Lagi wajah Rahel memerah, dia memukul dada Satria.
"Wah apa kamu mau lagi hmm? dengan senang hati akan kulakukan tapi jangan sekarang ya sayang, aku tau kamu pasti masih sakit," ucap Satria.
"Ihkkk..Satriaaaaa!!"teriak Rahel kesal karena terus menerus digoda oleh suaminya sendiri.
"ahahahah, Jangan teriak sayang, mendes4h saja akan terdengar sangat seksihh, seperti semalam kau memanggilku ahhh... Satriaahhh... seksi sekali," bisik Satria.
Bughh.. bughh bughh
Rahel memukul mukul dada Bidang Satria yang mulus itu. Dengan jahil Satria memutar tubuh Rahel dan menggendongnya dengan posisi seperti koala hingga dada sintal Rahel tepat di depan Satria.
__ADS_1
"Satriaaaaa..!!!!" teriak Rahel lagi, dia benar-benar malu saat ini.
"Hahahah, ini ini ini semua milikku, " goda Satria.
"Kau sangat seksi sayang," godanya lagi.
"Arhhh Satria!!!" kesal Rahel.
Mereka pun melakukan ritual mandi tanpa ada sesi pengulangan adegan semalam, sebab tepat perkiraan Satria kalau Rahel masih sakit. Meski Satria harus benar benar menahan hasratnya dia menahan diri untuk tidak memaksa istrinya, dia tidak ingin membuat Rahel merasa buruk maupun sedih, biarlah semua berjalan dengan normal.
Setelah berendam dengan air hangat, keduanya kini sudah selesai berpakaian dan sudah rapi.
"Satria bukankah hari ini seharusnya kita masuk kantor?" tanya Rahel.
"Nggak perlu, kita tidak akan bekerja di kantor itu lagi," ucap Satria sambil mengancingkan bajunya.
"Ha? A.. apa karena aku kita di pecat?" ucap Rahel dengan rasa bersalah yang amat besar.
"Nggak dong Ra, lagian nggak bakal ada yang bisa memecat kita," ucap Satria dengan santainya, dia memakai dasinya. Melihat Satria kesulitan, Rahel berinisiatif membantu.
"sini kupasangkan," ucapnya sambil mengambil dasi itu.
Satria memberikan dasinya, dia tersenyum, setidaknya Rahel bisa mulai mendekat pada dirinya.
Satria menunduk agar istrinya dengan leluasa bisa memasangkan dasi ke leher Satria.
"Maksud kamu gimana sih, kita dipecat atau gimana? masa iya kita nggak ke kantor, aku karyawan baru loh Sat," ucap Rahel.
"Tenang aja Rahel, kita nggak di pecat kok, toh suami kamu pemiliknya," ucap Satria mulai bersikap jujur pada Rahel.
"Heh? ck.. jangan mengada ada Satria," ketus Rahel.
"Heheheh, terserah kalau gak percaya, aku udah bilang loh," kekeh Satria yang merasa lucu dengan respon istrinya yang malah tidak percaya kalau perusahaan itu miliknya.
"Hahahah, sudah ayo keluar, kurasa Mom, Dad dan Sabrina sudah menunggu kita," ucap Satria sambil menggandeng tangan istrinya.
"Emm tapi apa harus gandengan?" tanya Rahel yang kembali merasa gugup.
"Kenapa emang? Gak boleh?" tanya Satria heran.
"Bukannya begitu, aku.. aku gugup," ucapnya sambil menunduk malu.
"Hahahah, sama aku juga, kamu wanita ketiga yang bisa sedekat ini denganku dan wanita satu satunya yang bisa seintim semalam dengan ku," ucap Satria sambil tersenyum dan menaikkan sebelah alisnya.
"Ihkk kamu ngomongnya kok mesum sih," ucap Rahel.
"Hahahahh, ya mungkin karena kamu yang jadi istriku, terus kamu cantik dan aku cinta sama kamu hahahhaha, " kekeh Satria.
"Ck.. kamu mah gitu," ketus Rahel.
"Ya udah keluar yuk," ajak Rahel.
"Yakin mau keluar, gak mau lanjutin yang semalam sayang," bisik Satria di telinga Rahel.
"Satriaaa, kamu ihh!!" ketus Rahel sambil mengerucutkan bibirnya.
"Hahahahah, sayang, sayang,saa...yang, Rara sayang," goda Satria lagi sambil menoel-noel lengan istrinya .
Rahel menutup wajahnya dengan satu telapak tangan, sebab tangannya yang lain di genggam erat oleh Satria.
"Malu Aku tuh!" gerutu Rahel.
__ADS_1
"Hahahah, malu malu tapi mau kan Rara sayang," bisik Satria lagi.
"Udah ah, Satria aku lapar tau," rengek Rahel.
"Aku juga lapar sayang, pengen makan kamu," ucap Satria sambil menarik Rahel dalam pelukannya.
Rahel meronta ingin lepas dari dekapan Satria.
"Ssst sayang jangan banyak bergerak nanti aku pengen kayak semalam lagi, " ucap Satria yang langsung membuat Rahel diam membatu.
"Pfftttthhh hahahhahahah, kamu takut banget ya," ucap Satria.
"Ihkkk... kamu kok gitu sih," ketus Rahel.
"Hahahah maaf sayang, aku hanya ingin kamu tersenyum, aku ingin kamu terhibur, aku tak mau kamu sedih dan mengingat semua kejadian menyedihkan itu, mulai sekarang tertawalah dengan bahagia Dan ku harap kamu menemukan alasan baru untuk tetap bertahan," ucap Satria masih dalam posisi memeluk Rahel.
Rahel terharu mendengar ucapan Satria, ini pertama Kalinya bagi dirinya bisa merasakan kenyamanan di dekat seorang pria dan dia adalah suaminya sendiri.
Rahel membalas pelukan Satria, "Terimakasih," ucapnya.
"Heheheh, sudahlah ayo, keluar!" ucap Satria sambil merangkul bahu Rahel.
"Ternyata sifat kamu begini ya Satria," ucap Rahel .
"Gimana? aku lucu ya, menarik, tampan? hohoho sudah pasti dong sayang," balas Satria sambil terkekeh.
"Jujur aku sedikit terkejut," ucap Rahel.
"Tapi ini menyenangkan," ucapnya lagi.
"Ya sudah ayo,"
Mereka keluar dari kamar, dan berjalan menuju meja makan, disana sudah tersedia hidangan yang sangat lezat dan tentu saja sudah ada tiga manusia yang menunggu mereka di meja makan itu.
"Selamat pagi Mom, Dad, Sabrina," sapa Rahel.
"Selamat pagi sayang," balas mereka.
"Astaga Satriaaaa!!!" pekik Mom Ayu.
"Kenapa Mom?" tanya Satria dengan santai sambil menarik kursi untuk Rahel.
Pletak
Centungan sayur mendarat di kepala Satria membuat pria itu meringis kesakitan.
"Itu leher Rahel ditutupin dasar anak goblok!!!"ketus Mom Ayu.
"Eh aduh, Rara kemari sebentar!" ucap Satria saat menyadari kalau bekas penjelajahannya semalam ternyata lupa ditutupi, padahal sebenarnya Satria mah senang kalau itu ditunjukin.
" Kenapa sih," tanya Rahel bingung.
Satria menarik istrinya kembali ke kamar, Dad dan Mom tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah anak menantu mereka itu.
Lain halnya dengan Sabrina, dia terus saja diam.
.
.
.
__ADS_1
jangan lupa, like vote dan komen 😊😊😉😊