
Satria membawa Rachel menuju dapur, tak ada pembicaraan diantara mereka berdua tampak mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
" Ada yang bisa kami bantu tuan, nona?"ucap pelayan yang bertugas dalam bagian masak saat melihat kedatangan tuan dan Nona muda mereka.
"Bolehkah aku memakai dapurnya sebentar Aku ingin memasakan bubur untuk Sabrina," ucap Rachel meminta izin memakai dapur.
"Biarkan saja saya yang masak nona, " ucap si pelayan yang merasa tidak enak jika tugas memasak dilakukan oleh Rahel.
"Nggak apa-apa kok, biar aku yang masak ya" pinta Rahel dengan lembut membuat para pelayan itu takjub dengan sifat ramah dan lembut dari Nona muda mereka.
Pelayan itu menatap kearah Satria yang sedari tadi berdiri dan memperhatikan percakapan mereka.
Pria itu mengangguk pelan pertanda mengizinkan istrinya untuk menggunakan dapur.
"Baiklah nona muda," jawab pelayan yang bertugas untuk memasak itu.
Dengan senyum lembut, Rahel memulai pekerjaannya, hanya saja pelayan itu membuatnya tak enak karena sedari tadi terus menatapnya.
"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Rahel yang merasa canggung.
"Eh... Maaf nona, sa.. saya hanya kagum,"cicit pelayan itu sambil menunduk takut.
Rahel tersenyum, " kemarilah," panggil Rahel membuat pelayan itu mulai jantungan, dia tentu saja takut karena telah menyinggung Rahel, Satria tampak dengan serius menatap istrinya entah apa yang dipikirkan oleh pria itu.
"No..nona ma..maaf telah menyinggung Anda, ma..maaf," ucap pelayan itu langsung duduk memohon di atas lantai membuat mata Rahel sontak membulat.
Rahel malah ikutan duduk di atas lantai," kenapa duduk di lantai?" Ucapnya.
"Eh no.. nona"
"Siapa nama kamu?" Tanya Rahel dengan ramah, dia masih duduk di atas lantai.
"Sa..saya Yuni no..nona, mo..mohon jangan pecat saya," ucap Pelayan itu sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Ada apa ini Satria?" Tanya Mom Ayu dan Dad Bram yang mendengar suara dari ruang santai saat Dad menenangkan Mom Ayu. Tanpa Rahel sadari mereka sedang diperhatikan oleh mertua dan suaminya.
"Lihat dulu Mom, Dad," ucap Satria.
"Pfftttthhh hahahhahaha," Rahel tertawa terbahak-bahak saat mendengar ucapan Yuni, membuat pelayan yang berusia muda itu kebingungan begitu juga dengan tiga manusia yang masih memperhatikan mereka.
"No..nona, kenapa menertawakan saya?" Cicit Yuni.
"Kamu lucu Yuni, masa mohon mohon sama aku, ihk kamh ada ada aja ahh, mana ada hak aku buat memecat kamu dasar aneh, " ucap Rahel masih tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Ja...jadi kenapa nona memanggil saya, bukannya nona tersinggung karena saya lihatin sedari tadi?" Ucap Yuni yang masih bingung.
"Hahahhaha, aduh kamu ini gemesin banget sih, ya kali aku tersinggung " ucap Rahel sambil mencubit gemas kedua pipi Yuni membuat gadis pelayan yang dipercaya kan dalam urusan masak memasak itu menjadi merona karena malu.
"Ciee... Malu ya hahhaha," goda Rahel yang tampak asik menggoda Yuni.
"Nona, jadi nona gak akan memecat saya kan? Saya baru disini dan saya gak mau kehilangan pekerjaan saya nona," ucap Yuni.
"Ck... Berdiri dulu,"ucap Rahel sambil menarik lengan Yuni.
"Berapa umur kamu?" Tanya Rahel.
"22 tahun nona," ucapnya.
"Ohh, kalau begitu panggil aku kakak, aku bukan nonamu atau nona siapa pun ,aku ini Rahel, panggil kakak ya," ucap Rahel.
"Mana bisa begitu nona, nona kan orang penting di rumah ini," ucap Yuni merasa tidak enak.
"Heiii apa bedanya, aku cuma orang batu disini, nggak usah seformal itu, aku juga atau posisiku di rumah ini, aku cuma orang yang baru datang," ucap Rahel sambil menutupi kesedihannya.
Deghh
Sesuatu yang sangat berat seperti menghujam jantung Satria saat dia mendengar ucapan istrinya yang penuh dengan makna, sedang Mom Ayu dan Dad Bram masih belum paham.
"Eh.. i ..iya.. Ka..kak Rahel," ucap Yuni tergagap.
"Nah bagus, sekarang bantu aku masak ya, Sabrina pasti udah nungguin,"
Beberapa menit memasak akhirnya masakannya selesai, Rahel dengan penuh semangat membawa nampan berisi makanan itu sedangkan Yuni membersihkan bekas memasak mereka atas permintaan nya sendiri.
"Beres, " ucapnya sambil melangkah, namun langkahnya terhenti saat melihat kedua mertua dan suaminya menatapnya sedari tadi.
"Eh... Kenapa berdiri disini?" Tanya Rahel yang berusaha tetap tersenyum manis.
"Kamu masak apa Ra? Gimana kondisi Sabrina? Kenapa bukan Yuni aja yang masak?" Tanya Mom Ayu yang masih belum sadar dengan kesalahannya.
"Eh.. i... Itu, Sa... Sabrina udah bangun ja..jadi Rahel masakin bubur , katanya dia lapar, tapi dia gak mau ketemu sama yang lain dulu, emm... Rahel masak karena ingin saja, lain kali tidak akan Rahel lakukan lagi, " ucap Rahel terbata bata, dia berbicara tanpa menatap lawan bicaranya yang justru membuat Dad, Mom dan Satria bingung.
"Kamu kenapa Ra?" Tanya Mom Ayu ingin menyentuh bahu Rahel.
"Eh.. nggak apa apa kok Mom, aku ke atas dulu Sabrina pasti udah nungguin, permisi" ucapnya langsung pergi dari hadapan mereka sambil menahan rasa sedihnya, dia berusaha kuat menahan diri.
"Kenapa Rahel?" Ucap Dad Bram bingung.
__ADS_1
"Entah, apa tadi terjadi sesuatu?" Tanya Mom Ayu.
"Nggak tau, mungkin cuma perasaan kita aja kali," ucap Satria yang memang sebenarnya bingung dengan sikap Rahel yang tiba tiba itu.
"Sabrina, gimana apa dia bisa ditemui?" Ucap Mom Ayu kembali panik saat mengingat Putrinya.
"Kita ke atas, tapi Mom harus tenang," ucap Dad Bram.
Mereka pun pergi ke lantai atas dimana kamar Sabrina terletak.
Sementara itu di dalam kamar, Rahel dengan penuh perhatian menyuapi Sabrina dengan bubur buatan nya.
"Siap makan kamu langsung istirahat ya, jangan banyak mikir lupakan aja apa yang terjadi, kalau butuh teman kamu tinggal hubungi kakak ya," ucap Rahel sambil membersihkan bibir Sabrina.
"Kenapa kakak perhatian sekali pada Sabrina?" Tanya gadis itu dengan suara pelan.
"Apa gak boleh ya?" Ucap Rahel dengan raut wajah tak bisa diartikan, dia benar benar sensitif dan mudah curiga entah apa ya g terjadi pada dirinya.
"Bu..bukan begitu maksud Sabrina, " ucap gadis itu kembali murung
Rahel tersenyum lembut dia mengusap kepala Sabrina," gak tau kenapa tadi kakak tiba tiba kangen sama kamu, lagian kamu sekarang kan adik ipar kakak jadi boleh dong kakak peduli sama kamu," ucap Rahel lembut,dia tak ingin Sabrina kembali takut.
"Benar Kakak sayang sama Sabrina?" Ucap gadis itu ya g di balas anggukan kepala oleh Rahel.
Sabrina tersenyum lembut, dia memeluk Rahel, dengan erat, dan kembali menangis.
"Loh kok nangis lagi? Kamu cerita ada apa dengan kamu, melihat luka lukamu itu bekas pukulan Sabrina, dan bajumu bau tepung, alkohol dan kapur, ada apa?" Tanya Rahel.
"Apa ada yang bully kamu?"pertanyaan itu lolos dari bibir Rahel.
Sabrina terbelalak saat mendengar ucapan Rahel, " ba.. bagaimana kakak bisa tau" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Jadi benar? Astaga Sabrina," Rahel kembali memeluk Sabrina, dia paling tau disaat seperti ini yang dibutuhkan sabrina adalah teman bicara.
"Sa..Sabrina takut Kak," ucap gadis itu sambil menangis.
.
.
.
like, vote dan komen 😉😉😉
__ADS_1