
Satria menatap istri dan adiknya yang terlihat mulai bisa akrab, padahal dia pikir Sabrina akan sulit menerima kehadiran orang baru namun nyatanya di mata Satria, adiknya sedang mencoba membuka diri pada Rahel.
"Kamu duduk disini, biar aku yang lanjutkan," ucap Rahel yang dianggukkan oleh Sabrina.
"Kok bisa jatuh gelasnya dek?" tanya Satria lembut pada sang adik.
"Emm.. terkejut kak," cicit Sabrina pelan, tampak gadis itu seperti menghindari bersentuhan dengan Satria membuat Rahel dan Satria saling menatap sebab gelagat Sabrina cukup aneh bagi mereka.
"Ohhh..." ucap Satria ingin merangkul Sabrina namun ...
"Ekhmm.. kak.. sa..Sabrina pergi dulu ya, ma..mau ke kampus!" ucapnya gugup dan langsung beranjak keluar dari dapur dengan langkah terburu-buru.
"Loh Sab," panggil Satria namun tak di gubris oleh gadis itu.
"Ra bentar ya aku kejar dia dulu," ucap Satria yang dianggukkan oleh Rahel.
"Ada apa dengan Sabrina? sepertinya dia menghindari Satria, dia juga terlihat takut," batin Rahel sambil melanjutkan pekerjaannya.
Satria mengejar Sabrina yang menghindarinya, "Mom mana Sabrina?" tanya Satria pada Mom Ayu yang sedang membaca koran di samping Dad Bram.
"Baru aja pergi, katanya ada urusan di kampus," ucap Mom Ayu.
"Naik apa?" tanya Satria.
"Taxi, emang kenapa?" tanya Mom Ayu.
"Nggak kenapa sih, cuma mau ngomong aja tadi," ucap Satria yang dianggukkan oleh Mom Ayu.
"Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu ya Sat, ingat bawa menantu Dad ke rumah, jangan lama-lama dan segera beritahu dia semuanya jangan sampai Menantu kami kenapa-kenapa!" ucap Dad Bram.
"Iya Dad tenang aja, tapi gak ketemu Rahel dulu?" tanya Satria.
"Gak usah, bilang aja kami udah pulang, ya udah kamu baik baik sama istri kamu, jangan sakiti dia Mom tau kamu terpaksa tapi Mom mohon jaga gadis itu," nasehat Mom Ayu.
"Mom, Dad, sebelum kalian melakukan rencana gila kalian yang sangat beresiko itu, Satria memang udah berencana buat jalin hubungan dengan Rahel seperti yang Satria bilang tadi, jadi tanpa kalian suruh pun Satria pasti akan jaga dan lindungi istri Satria, Satria udah cinta sama Rahel," ucapnya pada kedua orangtuanya.
"Tapi yang paling Satria takuti saat ini adalah, kejadian saat Rahel berusaha bunuh diri, Satria takut itu terulang, Satria benar-benar mengkhawatirkan dia, jadi Satria mohon bantuan Mom dan Dad buat Melindungi Rahel karena sekarang hidup Satria setengahnya adalah milik Rahel, kalau sampai terjadi apa apa padanya, Satria mungkin akan gila Mom, Dad," lirih pria itu.
Dad Bram menepuk bahu anak lelakinya,"Kau sudah dewasa sekarang nak, Dad yakin kau mampu menjaga dan melindungi istrimu, Ki akan membantumu, tenang saja," ucap Dad Bram.
"Hiks hiks hiks, anak Mom sudah besar, sudah punya tanggung jawab sendiri,Mom bangga padamu sayang," ucap Mom Ayu sambil memeluk Satria.
"Thanks Mom, Dad ini semua berkat kalian," ucap Satria memeluk kedua orangtuanya dengan erat.
Sementara mereka berpelukan, di sudut ruangan tampak Rahel bersandar pada dinding dia menangis haru mendengar ucapan Satria, ternyata suaminya benar benar mencintai dirinya bahkan sampai takut kalau dirinya kembali melakukan percobaan bunuh diri.
Rahel meneteskan air matanya, "Aku akan bangkit demi kalian yang mencintaiku, aku akan bangkit, akan kubuktikan kalau aku bisa bangkit aku tak akan mengakhiri hidupku seperti itu karena aku punya harapan baru untuk bangkit," ucapnya pada dirinya sendiri.
"Raaa..." panggil Satria dari ruang depan, cepat cepat dia mengusap air matanya dan kembali menyusun piring yang sudah dibersihkan tadi.
__ADS_1
"Ada apaa?" jawabnya pura pura tidak tau apa yang di dengarnya tadi.
Satria berjalan ke dapur dan menemui istrinya yang cantik itu.
"Mom dan Dad sudah pulang katanya titip salam, " ucap Satria sambil membantu Rahel menyusun Pring piring itu.
"Cepat sekali, apa mereka ada urusan? lalu Sabrina?" tanya Rahel.
"Sepertinya ada urusan, kala Sabrina dia udah pergi tadi naik bus," jawab Satria.
"Ahhh baiklah," balas Rahel.
"Ummm Ra ke perusahaan yuk," ucap Satria setelah mereka selesai menyusun piring piring itu.
"ini kan udah lewat jam kerja Satria, masa iya kita ke kantor jam segini kamu ada ada aja, berasa kayak perusahaan sendiri ya?" ledek Rahel.
Satria tersenyum tipis, Rahel masih saja tidak sadar dengan semua ucapan Satria kalau dia adalah pemilik perusahaan itu.
Satria berdiri di belakang Rahel lalu...
Grepp
Satria memeluk Rahel yang hanya sebatas dadanya itu dari belakang membuta Rahel sedikit terkejut dan gugup pastinya.
"Aku suamimu memang pemiliknya, kenapa kamu gak percaya?" tanya Satria sambil meletakkan dagunya di bahu Rahel.
Rahel memukul lengan Satria, " Kamu tuh kalau mengkhayal jangan ketinggian, jangan aneh aneh deh," ucap Rahel tak percaya.
"Pfftttthhh hahhahahah, kenapa kau tidak percaya Rara hmmm? apa tampangku kurang meyakinkan hmmm?" tanya Satria yang masih memeluk Rahel dari belakang.
"Hmm bukannya begitu sih, cuma gak yakin aja, kalau kamu presdirnya gak mungkin dong kamu mau sama aku yang miskin dan gak punya apa apa ini, " ucap Rahel.
Mendengar itu Satria merasa sedih, dia memeluk Rahel lagi dengan erat.
"Ra, jangan mengatakan hal itu lagi, bagaimana pun kondisi kamu, bagaimana pun keadaan kamu, aku akan tetap mencintaimu meski kamu belum membalas cintaku sekalipun," ucap Satria.
"Sejak kapan kamu jatuh cinta padaku? bukannya kamu bilang kamu paling anti sama perempuan dan cinta cintaan?" tanya Rahel.
"Sejak bertemu denganmu, saat kamu jatuh di depan rumah waktu itu, dan aku memang anti dengan yang namanya hubungan karena suatu alasan, dan alasanku itu kini sudah ketemu akhirnya aku bisa jatuh cinta padamu," ucap Satria.
"Alasan apa?" tanya Rahel.
"Ada deh, kepo yaaaaa?" ucap Satria sambil mencolek hidung istrinya.
"ihhh kamu mah rese, udah cerita serius malah ngegantung dasar aneh!" celetuk Rahel.
"Hahahahahaha, nanti kamu juga tau Rara sayang, ya udah siap siap yok, kita ke kantor tapi bukan sebagai karyawan, kita datang sebagai pemilik," ucap Satria sambil mendorong bahu Rahel menuju kamar mereka.
"Jadi kamu beneran pemiliknya?" tanya Rahel lagi masih tak percaya.
__ADS_1
"Iya loh sayang, emang kamu gak dengan nama lengkap aku siapa?" ucap Satria.
"Satria Ben Farenheit kan?" ucap Rahel dengan polosnya.
"Nah terus?" ucap Satria sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Nama kan bisa sama Satria, kamu mah ada ada aja," ucap Rahel masih tak percaya.
Satria menepuk jidatnya, entah dia harus bersyukur atau tertawa melihat kepolosan istrinya ini tapi dia bersyukur bisa menemukan istri yang baik dan polos seperti Rahel.
"Hadeeehh kamu harus di kasih bukti dulu baru percaya, ya udah siap siap dulu yuk!" ucap Satria sambil mendorong Rahel ke dalam kamar.
Mereka pun bersiap siap menuju Kantor namun pakaian mereka tampak sangat aneh bagi Rahel karena mereka berdua harus memakai Hoodie, dan celana jeans, kalau memakai masker dan kacamata, terlihat bukan mau pergi ke kantor tapi akan pergi kencan kalau seperti itu.
"Satria kenapa pakai pakaian begini? bukannya kita mau ke kantor ya?" tanya Rahel bingung.
"Iya sayang, kita mau ke kantor tapi kita sembunyikan dulu identitas kita, jangan sampai ada orang yang tau kalau aku pemilik perusahaan dan kamu istrinya, nanti kamu bisa bahaya," ucap Satria sambil memakaikan masker istrinya.
"Jadi kamu beneran Presdir?" tanya Rahel dengan polos sambil memandang mata Satria.
"Iya sayangku, masih belum percaya hmm?" tanya Satria.
"Entahlah, terserah kamu lah," ucap Rahel.
"Hahahah aduh Rahel kamu gak percayaan amat sih sama suami sendiri juga," ucap Satria sambil memeluk Rahel dari depan.
"Ya gimana ya, terserah deh aku malah jadi tambah bingung nanti," ucap nya.
"Ya udah ayok, eits tunggu sebentar ada yang kelupaan disini," ucap Satria sambil memegang kepala Rahel.
"Kenapa?" tanya gadis itu.
Cup....
"I love you my wife," ucap Satria sambil mengecup kening Rahel.
Rahel merona, dia menundukkan kepalanya karena malu dengan perlakuan manis Satria.
"Yuk," ucap Satria dengan senyum sumringah di wajahnya.
.
.
.
.
like, vote dan komen 😉😉😉😉
__ADS_1