
Dad Bram mengajak putranya berbicara di ruang kerjanya. Kedua pria beda generasi itu jika dilihat kelihatan jelas sangat mirip, wajah tampan Satria di wariskan dari wajah sang Daddy.
"Ada apa Dad?" tanya Satria sambil duduk di kursi di depan meja kerjanya Daddy nya.
"Apa kamu sudah beritahu kan Rahel tentang hubungan keluarga kita dengan orangtuanya?" tanya Dad Bram serius.
Mengetahui topik pembicaraan Daddy-nya, Satria langsung duduk tegap dan menatap Dad Bram yang duduk di depannya dengan serius.
"Aku belum menjelaskan semua itu Dad, aku tak mau dia bersedih mengingat orangtuanya, bisakah kita lakukan pelan pelan?" tanya Satria dengan raut wajah khawatir dan Dad Bram paham akan hal itu.
"Huffft.... Cobalah bicara baik baik dengan Rahel, Dad mau agar dia bisa tau semua kebenaran tentang keluarganya, dan..." Pria paruh baya itu mengambil sebuah dokumen dan memberikannya pada Satria.
"Ini, bacalah baik baik dan kau akan tau apa yang terjadi sebenarnya," ucap Dad Bram sambil menyerahkan berkas itu.
"Apa ini Dad?" tanya Satria sambil membuka dokumen itu.
Srekk ... sreekk..
Lembar demi lembar dokumen di buka, semakin di buka semakin membuat Satria terkejut dan terbelalak kaget dengan apa isi dokumen itu.
"Dad... i... ini?" ucap Satria dan Dad Bram mengangguk pelan.
Dokumen itu berisi semua keterangan mengenai penyebab runtuhnya Raiden grup yang ternyata memang dimanipulasi oleh V.R grup adik dari tuan Raiden.
"Bagaimana bisa mereka Setega itu Dad!!" ucap Satria tak habis pikir, bahkan semua Informasi tentang bagaimana mereka memperlakukan Rahel selama ini, tertera lengkap di dokumen itu.
"Itu yang Dad kecewa dari Raiden, dia tak pernah mau melibatkan dan memberatkan orang lain atas masalah yang dihadapinya, seandainya waktu itu Raiden memberitahukan apa yang terjadi pada mereka, tak akan begini jadinya," ucap Dad Bram dengan raut wajah kecewa.
"Tapi Dad tau kan Om Raiden emang gak mau membuat orang lain merasa diberatkan, itu juga sifat yang turun pada Rahel makanya aku benar Benar khawatir dengannya, " ucap Satria.
"Hah, pokoknya kita harus menyelesaikan hal ini, kematian Raiden dan Hana juga bukan kematian yang wajar, bagaiman bisa mereka meninggal hanya karena hal itu, hal ini masih dalam penyelidikan, " jelas Dad Bram.
"Kau lindungilah istrimu jangan sampai dia kenapa kenapa, jangan membongkar identitas kalian sebelum waktunya tiba, jaga dia baik baik," ucap Dad Bram dengan tegas.
"Baik Dad, akan Satria lakukan sebaik mungkin," ucap Satria penuh keyakinan.
"Lalu dimana kalian akan tinggal? " tanya Dad Bram.
"Kurasa akan lebih aman kalau kami tetap di rumah itu untuk sementara waktu Dad, lagi pula aku tak mau Rahel kelelahan jika harus tinggal di rumah yang lebih besar, aku mau dia tenang dan nyaman," jelas Satria.
"hmmm...baiklah tapi sering sering bawa dia kesini, jangan menyusahkan istrimu, kalau itu terjadi aku yang akan memisahkan kalian!" ucap Dad Bram.
"Cih Dad pikir aku tak bisa menjaga istriku? aku ini suami siaga Dad, aku tak akan membiarkan istriku disakiti, tidak akan pernah!" ucap Satria.
__ADS_1
"Kita lihat saja, jangan cuma OmDo Satria, jangan cuma Omong doang!" ledek Dad Bram sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Ahhhh Dad yang Omong doang siapa emang, haiishhhh... Rahel kusembunyikan tau rasa kalian!" ketus Satria sambil bangkit berdiri.
Grepp
"Apa kau bilang dasar anak nakal, rasakan ini!" teriak Dad Bram sambil mengunci kepala Satria di antara lengannya membuat pria itu meringis kesakitan.
bugh..
bugh...
"Rasakan ini dasar anak nakal!!!" Dad Bram memukuli kepala anaknya sendiri dan menarik pria itu keluar dari ruangan kerja itu.
"Arhhh Dad... shhhh... sakit Ampun ampun!!!" teriak Satria sambil menepuk-nepuk lengan Dad Bram yang mencekik lehernya dengan kuat, usia boleh tua tapi tenaga anak muda bagitulah menggambarkan Dad Bram saat ini.
Mereka berdua berjalan sambil bercanda membuat Rahel dan Mom Ayu menoleh ke arah Satria dan Dad Bram yang selalu saja ricuh.
"Ck..ck.. ck.., Ra kamu yang sabar ya lihat tingkah absurd suami kamu itu, liat sendiri kan turun dari siapa?" ucap Mom Ayu sambil memasukkan potongan martabak ke dalam mulutnya.
Namun yang diajak bicara tak menyahut hingga membuat Mom Ayu bingung dan menoleh kenapa Rahel tak menyahut perkataannya.
"Astaga Ra, sampai segitunya kamu suka martabaknya?" ucap Mom Ayu yang melihat Rahel menjilati sisa cokelat di jarinya dan fokus dengan martabak di tangannya.
Mom Ayu hanya bisa geleng-geleng kepala, dikiranya Menantunya bisa membawa kewarasan di rumah besar itu, tau taunya malah ikutan absurd seperti mereka.
"Hadehhh ini keluarga anggotanya absurd semua," ucap Mom Ayu sambil geleng-geleng kepala.
"Dad udah lepasin ahhhkk malu sama menantu tuh," ucap Satria sambil melirik Rahel yang cuek saja dan fokus dengan martabaknya.
"Loh," Dad Bram dan Satria menatap heran pada Rahel yang sedari tadi tak berhenti makan, wajahnya tampak lucu dengan mulut menggembung penuh dengan martabak bahkan sampai wajahnya cemong karena cokelat.
"pfftttthhh hahahhahaha," kedua pria beda generasi itu sama sama tertawa melihat tingkah Rahel yang super menggemaskan.
Mom Ayu memutar malas kedua bola matanya, sedangkan Rahel menoleh dengan tatapan bingung dan wajahnya benar benar lucu, mulutnya menggembung, pipinya terkena cokelat, jarinya juga belepotan dan di tangannya masih ada martabak yang siap dimasukkan ke dalam mulutnya.
"Aduh lucu banget sih," ucap Satria yang mengambil kesempatan untuk lepas dari jepitan Dad Bram.
Dengan cepat Satria mengambil tisu dan duduk di samping istrinya yang makan dengan lahap.
"Lucu banget kamu, enak ya?" ucap Satria sambil membersihkan wajah Rahel dengan lembut.
"Enak," jawab Rahel dengan mulut yang penuh membuat Satria tergelak dengan sifat istrinya benar benar sebuah hal baru dalam hubungan mereka.
__ADS_1
"Baguslah dia bisa nyaman disini, kupikir tadi akan canggung," gumam Satria sambil membersihkan wajah istrinya.
"Kamu mau?" tanya Rahel sambil mengangkat martabak di tangannya dan mengarahkan pada Satria.
Pria itu mengangguk sambil tersenyum dan membuka mulutnya. Rahel menyuapkan martabak itu ke mulut suaminya dengan senyuman merekah di wajahnya.
Tanpa rasa jijik ataupun terganggu, Satria melahap martabak itu dengan lahap membuat Rahel benar benar senang sampai sampai dia bertepuk tangan saking senangnya.
Mon Ayu dan Dad Bram saling menatap, mereka benar benar bahagia dengan perkembangan hubungan anak dan menantunya.
"Syukurlah hubungan mereka semakin dekat, " ucap Mom Ayu.
"Kau benar sayang, semoga Rahel semakin membaik, kulihat Satria sangat khawatir dengan kondisi mental istrinya sejak kejadian terkait saat gadis itu mencoba bunuh diri," ucap Dad Bram.
" Kita harus membantunya Dad, biar Rahel bahagia, kasihan anak itu diperlakukan tidak layak oleh mereka selama ini," ucap Mom Ayu sambil memeluk lengan Suami.
"Ya Mom benar, kita akan hancurkan orang orang jahat itu, akan kita lakukan yang terbaik meski tak seberapa dengan bantuan Raiden dan Hana di masa lalu," ucap Dad Bram yang dianggukkan oleh Mom Ayu.
"Emmm Sabrina dimana ?" tanya Rahel yang sudah selesai dengan makanannya.
"Belum pulang Ra," jawab Satria singkat.
Namun tiba tiba mereka mendengar suara ribut ribut di depan. Tampak Pak Gio berlari terbirit-birit ke arah mereka.
"Tuan, Nyonya, Nona muda.. nona muda!!" teriak Pak Gio panik dengan wajah khawatir yang spontan membuat mereka ikut panik dan langsung bergegas ke depan.
"Ada apa!!" ucap Dad Bram.
Mereka berlari menuju ruang depan dan...
"Astaga Sabrinaaaaaa!!" pekik Mom Ayu saat melihat Putri bungsunya pingsan dengan wajah pucat dan bau alkohol.
"Sabrina!" ucap mereka kaget.
Satria langsung sigap menggendong tubuh adiknya yang terjatuh di atas lantai dan anehnya bau alkohol.
"Bau alkohol!" ucap Rahel yang mereka juga sadari itu.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 😉😉😊