Istri Cantik Suami Bucin

Istri Cantik Suami Bucin
Kabar bahagia


__ADS_3

Rahel terus memikirkan Dea yang bertubrukan dengan dirinya tadi, sungguh aneh seseorang yang dikenalnya sebagai gadis yang belum menikah pergi memeriksakan diri ke Obgyn dan pulang dengan membawa hasil USG.


“Tak mungkin Dea Hamil, dia kan belum menikah,” ucap Rahel sambil menggelengkan kepalanya dan berusaha berpikir positif. Rahel melangkahkan kakinya memasuki ruangan Obgyn setelah namanya dipanggil.


Dia sangat gugup sebab dia tidak didampingi oleh suaminya, dia mengepalkan kedua tangannya sambil berjalan menuju ruangan itu.


“Silahkan masuk Ibu Rahel,” ucap perawat yang membukakan pintu untuk Rahel.


Rahel masuk ke dalam ruangan itu sambil melepaskan masker dan kacamatanya, dia diarahkan untuk duduk di atas brankar pemeriksaan. Seorang dokter wanita berusia tiga puluh tahunan menyambut Rahel sambil tersenyum ramah.


“Ada yang bisa saya bantu bu?” tanya dokter tersebut.


“Saya ingin cek kehamilan dok, akhir akhir ini pola makan saya berubah dan mood juga berubah ubah, selain itu saya sudah telat sebulan lebih, dan terkadang ada flek tapi bukan menstruasi bu,” jelas Rahel.


Dokter tersenyum, “Baiklah kita akan lakukan pemeriksaan,” ucap dokter tersebut.


Mereka pun melakukan serangkaian pemeriksaan dan melakukan tes urine, dokter yang melihat hasilnya pun tersenyum. Rahel kemudian diarahkan untuk berbaring di atas brankar. “Relaks ya bu saya akan oleskan gelnya,” ucap dokter tersebut.


Rahel merasakan sesuatu yang dingin dioleskan di perutnya, dia sedikit gugup mendengar hasil pemeriksaannya. Dokter tersebut mulai menggerakkan alat USG di perut Rahel, dan langsung saja tampak sesuatu yang bergerak di layar monitor USG. “Bagaimana Dok?’ tanya Rahel tak sabaran.


Dokter tersebut tersenyum ,” selamat ya bu, Ibu sedang mengandung, dan usia kandungan Ibu sudah berjalan 6 minggu,” ucap Dokter tersebut.


Rahel merasa sangat bahagia, air matanya menetes kala mendengar kabar bahagia itu “janin Ibu sangat sehat dan kuat, Ibu harus berjaga jaga karena dimasa ini adalah masa paling rawan, jangan sampai kelelahan, stres atau depresi karena itu akan berpengaruh pada janin,” jelas dokter tersebut.


“Apa suami Ibu tidak ikut?” tanya dokter. “nggak dok, saya mau kasih kejutan,” ucap rahel sambil menatap monitor yang menunjukkan janin yang berkembang di dalam rahimnya. Rahel pun mengakhiri pemeriksaan, tak lupa dia meminta foto hasil USG serta resep vitamin untuk Ibu hamil untuk mengurangi gejala mual dan muntah yang umumnya memang dirasakan oleh Ibu hamil.


“Emmm dok, apa semua pasien yang datang kesini hari ini hanya untuk memeriksa kandungan?” tanya Rahel yang masih penasaran dengan apa yang dilakukan Dea di tempat dokter kandungan.


“Biasanya ada yang memeriksa kondisi rahimnya khusunya yang akan menikah, tetapi sampai nomor Ibu semuanya datang memeriksa kehamilan, “ jelas dokter tersebut.


“Ohhh begitu toh, lalu apa ada yang seusia saya, emmm maksud saya, saya sedikit malu karena saya yang umurnya masih muda datang sendirian kesini dok heheh,” kekeh Rahel sambil menggaruk kepalanya.

__ADS_1


“Ibu pasti baru menikah ya? “ ucap dokter dan dibalas anggukan kepala oleh Rahel, dokter tersebut tersenyum ,”jangan malu bu, ini semua berkat loh, lagi pula tadi juga ada beberapa orang yang mungkin seusia Ibu yang memeriksa kan kandungannya pada saya,” ucap Dokter itu.


“Ahhh benarkah, heheh baiklah kalau begitu, terimakasih atas bantuannya Bu Dokter, sampai jumpa lagi,” ucap Rahel sambil bangkit berdiri dan menunduk hormat ke arah dokter kandungan itu.


Rahel melangkahkan kakinya, sesekali dia mengusap perutnya, dia sangat bahagia dengan kabar baik ini, namun Dea benar benar membuatnya bingung, bagaimana mungkin Dea bisa hamil padahal dia belum menikah , hal itu sedikit membuat Rahel menaruh curiga pada kehidupan Dea selama ini.


“Huhhh... kenapa juga aku harus memikirkan tentang dia, cih lebih baik aku memikirkan tentang kandunganku,” gumam Rahel sambil berjalan menuju apotik di dekat rumah sakit untuk menebus resep dokter yang di terimanya sebelumnya.


Setelah menebus obat, Rahel memesan taksi namun matanya tak sengaja melihat sosok pria yang sangat dikenalnya tampak sedang berdebat dengan Dea. Matanya terbelalak saat melihat Satria berdiri di depan Dea sambil berdebat entah apa yang mereka bicarakan tetapi tampaknya Dea menunjuk nunjuk perutnya sambil sesekali memijit keningnya.


“Kenapa Satria disini? Dan itu mereka... ke..kenapa mereka seperti sedang berdebat?” gumam Rahel yang bersembunyi di balik dinding rumah sakit.


Karena penasaran kenapa suaminya bisa tiba di tempat itu, Rahel mendekat dan berjalan dengan perlahan lahan berusaha agar tidak terlihat oleh mereka berdua.


Saat berada di posisi yang tepat, Rahel begitu terkejut saat mendengar ucapan Dea. “Kau harus bertangungjawab, ini semua salahmu,” pekik Dea sambil menatap marah ke arah Satria.


“kenapa ini jadi salahku, kau yang tidak berhati hati, kau tinggal ke dokter maka semuanya selesai dasar perempuan aneh,” ketus Satria dengan nada kasar.


“ Ini semua juga salahmu dasar pria kurang ajar, sudah berbuat tetapi tidak mau tanggung jawab, kulaporkan kau ke polisi, cih aku kasihan dengan istrimu yang bodoh itu bisa punya suami tolol seperti dirimu,” bentak Dea dengan wajah marah dan kesal.


“Pokoknya kau harus bertanggung jawab ini semua salahmu, jika tidak mau aku akan menuntutmu,” ucap Dea sambil memegang perutnya yang terasa tidak enak karena dia mencium bau sesuatu yang tidak enak.


Rahel terkejut mendengar perkataan mereka, dengan menangis Rahel pergi dari tempat itu secara diam diam, entah kenapa dia merasa sangat sedih mendengar percakapan itu, apalagi tampaknya mereka begitu serius dengan percakapan mereka.


Kecurigaan rahel semakin bertambah dengan Dea yang keluar dari ruangan pemeriksaan. Tanpa terasa air mata Rahel mengalir begitu deras, perasaannya benar benar kacau apalagi saat ini dia tengah hamil muda membuat dirinya begitu sensitif.


Siapa yang tidak terkejut dan berprasangka buruk jika suaminya berbicara dengan musuh kita sendiri dan menyindir soal tanggung jawab.


Rahel berlari namun seketika dia ingat dengan kandungannya, dia berjalan dengan pelan sambil mengusap perutnya yang masih rata. “Sayang Papa kamu hiks hiks hiks,” lirih Rahel sambil menangis sedih.


Dia kini berdiri di pinggir jalan, dia mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi suaminya.

__ADS_1


“Halo sayang,” ucap Satria dari tempatnya berada.


“By Kamu dimana?” tanya Rahel padahal jelas dia tau suaminya ada dimana.


“Aku lagi ada pertemuan dengan klien sayang ada apa?” tanya Satria, mendengar jawaban Satria ari mata Rahel semakin deras.


“Pertemuan dimana?” tanya Rahel yang berusaha menahan tangisannya.


“Pertemuan di Kafe sayang, ada apa?” tanya Satria.


“Tidak, tidak ada apa-apa,” ucap Rahel,” Ya sudah lanjutkan pekerjaanmu,’ ucap Rahel sambil memutuskan panggilannya secara sepihak.


Hatinya benar benar hancur saat ini, bagaimana bisa suaminya berbohong padanya.


“Apa kamu selingkuh Satria? Hiks hiks hiks, lalu bagaimana dengan anak kita? Kenapa kamu tega melakukan itu ahhhkkk... kau jahat hiks hiks hiks ,” rahel menangis tersedu sedu sambil menepuk nepuk dadanya yang terasa sesak.


“Rahel,” panggil seseorang membuat Rahel menoleh sambil mengusap air matanya, dia melihat Jonathan disana. Beberapa saat yang lalu Jonathan sedang lewat bersama temannya yang sedang patroli, dia melihat Rahel menangis di pinggir jalan oleh karena itu dia segera menghampiri Rahel.


“Jo...” lirih Rahel masih dengan suara Khas seseorang yang baru menangis.


“Ada apa denganmu? Kenapa kau menangis ?” tanya jonathan sambil memberikan sapu tangan pada Rahel.


Namun Rahel tidak menjawab dia hanya menerima sapu tangan itu dan terus menangis.


“Boy pergilah dahulu aku akan bersama dia, dia temanku,” ucap Jonathan pada rekannya yang berada di dalam mobil.


“Baiklah, kau pakai mobilnya, sepertinya dia sedang dalam masalah,” ucap temannya sambil keluar dari mobil dan naik ke kereta patroli temannya yang mengikuti mereka dari belakang.


.


.

__ADS_1


.


Like vote dan beri komentar kamu ya


__ADS_2