Istri Cantik Suami Bucin

Istri Cantik Suami Bucin
Menunggu Jenny


__ADS_3

Rahel tampak mondar mandir di dalam kamarnya, beberapa jam lalu dia dan suaminya sudah kembali ke rumah, dia menunggu kabar dari Jenny dan Bastian yang belum sampai juga hingga saat ini.


Ibu hamil itu berjalan sambil mengunyah kerupuk udang dengan wajah khawatir, meski khawatir dia tidak melupakan kerupuk udangnya yang terasa sangat nikmat.


Kros... kross... krosss..


“Hmm.... kemana perginya mereka berdua, kenapa selama itu, sampai sekarang belum ada kabar, haisshhh... krosss... kross,” gumam Rahel sambil mengunyah kerupuk udangnya.


Satria tersenyum geli melihat tingkah istirnya yang jadi lucu, “ Sayang tenang lah, kamu jangan makan sambil jalan jalan, duduk dulu, perut kamu nanti sakit kalau seperti itu,” ucap Satria yang duduk di meja kerjanya.


“Haishhh... aku gak bisa tenang kalau begini by, Aku punya firasat buruk, aku takut keluarga Jenny melukai Jenny atau melakukan hal yang tidak tidak seperti sebelum sebelumnya,” ucap Rahel sambil duduk di kursi gantung tepat di samping meja kerja suaminya.


“Hmm? Kau takut mereka menyakiti Jenny tapi bisa bisanya kau mengirimi mereka setumpuk hadiah, kau mulai aneh sayang,” ucap Satria sambil geleng geleng kepala.


“Hehehe aku mengirim untuk adik adik di rumah itu, kalau ada untuk mereka hanya sebagai hadiah karena telah menerimaku disana selama beberapa tahun, aku orang yang tau balas budi Hubby,” jelas Rahel sambil tersenyum manis.


“Hmmmm iya iya dasar kau ini, “ Satria mengiyakan saja ucapan istrinya.


Beberapa waktu lalu Rahel berbelanja sangat banyak namun bukan untuk dirinya dia membelikan barang barang yang dia suka untuk diberikan pada orang orang yang dikenalnya.


“tapi by, kemana Jenny dan Bastian? Aku khawatir, aku takut Jenny kenapa kenapa kasihan dia,” ucap Rahel yang sudah ngacir ke pangkuan suaminya.


Satria menatap Rahel sambil tersenyum dan mengusap pucuk kepala wanitanya itu,” dia akan baik baik saja selama bersama Bastian, tenang saja sayang,” ucap Satria.


“Tapi...” Satria menatap Rahel.


“kenapa hmmm? Kau mau? Ucap Luna sambil mengangkat kerupuk udangnya di depan mulut Satria.


“Terimkasih... krosshhh kroshh.... tapi kenapa kau hanya menanyakan Jenny? Apa kau tidak khawatir dengan Sabrina adik iparmu?” tanya Satria.


Rahel tersenyum saat Satria mengingatkannya tentang Sabrina.


“aku senang by, “ ucap Rahel sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Satria,


“Senang kenapa sih hmmm” tanya Satria heran, dia memeluk pinggang Rahel yang mulai menunjukkan perubahan.


“Senang karena Sabrina dan Jonatan sudah saling mengaku perasaannya, mereka sudah jadian by hehehheh,” Rahel tersenyum bahagia.


“Kau sesenang itu?” tanya Satria.

__ADS_1


“he... em.. aku sangat senang, mereka bisa bersama, tadi Jonathan mengirim pesan teks padaku kalau dia sudah berhasil dia minta ijin untuk bawa Sabrina jalan jalan sekaligus latihan bela diri,”jelas Rahel.


“jadi kau bahagia dengan hal itu?” tanya Satria dan lagi lagi dibalas anggukan kepala oleh Rahel.


“Sangat bahagia,” ucap Rahel dengan senyuman manis.


“Syukurlah, bagaimana keadaan anak kita? Apa dia baik baik saja? Tumben kau tidak meminta sesuatu,” ucap Satria sambil mengelus perut istrinya dengan lembut.


“Dia baik by, dia sangat sehat, “ ucap Rahel yang menaruh tangannya di atas punggung tangan suaminya yang mengusap perutnya.


“Syukurlah, anak papa baik baik saja kan? Sehat sehat ya nak, nanti malam papa jengukin kamu, sekarang masih siang kita nunggu aunty sama uncle kamu dulu heheh,” ucap Satria.


Rahel menutup wajahnya yang merona mendengar ucapan Satria, dia tua itu mengarah kemana.


Drrtt.... drrrtt...


Ponsel Rahel berbunyi, Satria meraihnya untuk Rahel.


“Jenny sayang,” ucap Satria.


Rahel langsung mengambil ponselnya dan menerima panggilan itu.


“Hal....”


“Loh Jen aduh udah udah tenang dulu jangan nangis, tenang ya jangan panik, kamu tarik nafas dulu terus buang jangan panik ngomong yang jelas,” ucap Rahel.


“Halo Ra kalian dimana Jenny butuh kamu sekarang, sejak tadi dia menangis, dia butuh kamu Ra, kamu di rumah mana biar kami kesana,” kali ini yang berbicara adalah Bastian, dia tak tahan melihat Jenny menangis, dia yang kaku dengan perempuan tidak paham cara menenangkan Jenny.


“Kami di rumah utama, ya udah cepat kesini, Jenny kalau nangis bisa sampe pingsan, kakak harus cepat sebelum itu terjadi dia punya sindrom panik, apa dia mengalami tekanan berat tadi?” tanya Rahel.


“Iya, baiklah kalau begitu aku akan membawanya kesana, apa butuh sesuatu?” tanya Bastian.


“nggak kak, bawa aja Jennynya kesini, mungkin di jalan dia akan terus menangis, kakak sabar aja, jangan si bentak dia gak bisa dibentak, kalau itu terjadi dia makin parah,” ucap Rahel.


“Baiklah, “ ucap Bastian.


Rahel tampak gusar setelah menerima panggilan itu,” Ada apa sayang?” tanya Satria.


“Jenny by, dia panik, dia punya gangguan kepanikan , sepertinya ada masalah di rumah itu.

__ADS_1


“Aku ke bawah dulu nyiapin kamar buat Jenny, dia mungkin akan pingsan saat tiba disini,” ucap Rahel sambil melangkah keluar.


"Ayo bareng aku aja," ucap Satria yang memilih ikut menemani istrinya.


Mereka berdua keluar dari kamar menanti kedatangan Jenny dan Bastian, kebetulan Tuan dan nyonya Besar Farenheit sedang di luar negeri sehingga hanya mereka di rumah itu.


Sementara itu di dalam perjalanan, Jenny Ter terusan menangis, tangannya sampai bergetar seperti kejadian tadi benar benar membuatnya ketakutan dan tertekan.


Tak tahan melihat Jenny terus menangis bahkan setelah menelepon Rahel dia masih menangis, Bastian meminggirkan mobilnya dan parkir di pinggir jalan.


"Jenny," panggil Bastian, gadis itu menoleh dengan air mata berderai.


Tangan Bastian terulur, dia menarik kedua tangan Jenny kemudian menarik Jenny dalam pelukannya, gadis itu butuh tempat bersandar.


"Tenang Jen, semua akan baik baik saja, jangan panik," ucap Bastian seraya menepuk punggung Jenny dengan lembut.


"hiks hiks hiks... pak Bastian me..mereka jahat kenapa mereka seperti itu huaaaaa..... Maafkan aku jadi merepotkan mu aku sangat sedih hiks hiks hiks.....," Tangisan Jenny sangat kencang.


Bastian menghela nafas dia menatap wajah Jenny, dia menangkupkan kedua tangannya di wajah gadis itu sambil menatap mata itu.


"tenang Jen, aku disini,aku akan menjagamu, kau harus tenang kumohon ya, jangan panik," ucap Bastian dengan lembut.


"Tenang please ,kalau kamu menangis nggak ada gunanya, keadaan tidak akan berubah dengan kamu menangis, jangan panik, sebentar lagi kita ketemu Rahel, dia juga bisa panik kalau melihat kamu seperti ini, dia sedang mengandung, dan kamu juga butuh ketenangan supaya kamu gak sakit," ucap Bastian, dia benar benar berbicara dengan lembut.


"Jadi kumohon kau tenang ya," pinta Bastian dengan lembut.


Jenny merasa aman saat Bastian menenangkannya dengan cara itu, dia mengangguk perlahan.


Puk... Puk...


"Nah begitu dong, dasar manusia tengkorak, jangan cengeng kita pulang ke rumah," ucap Bastian sambil tersenyum dan menepuk pucuk kepala Jenny dua kali.


"Pakai tisunya, ingusmu meler kemana mana,dasar bocah," ucap Bastian yang berusaha menghibur Jenny sebisanya.


"Tcih.... Gak tulus, dasar tiang listrik," ketus Jenny sambil membersihkan wajahnya.


Mereka pun melaju menuju rumah utama keluarga Farenheit dengan keadaan Jenny yang mulai membaik.


.

__ADS_1


.


like, vote dan komen 😉😉


__ADS_2