
Seorang pria berseragam hitam menghampiri Rahel dan yang lainnya. Tampak seorang pria bertubuh tegap dan tinggi dengan pakaian serba hitam dapat dilihat kalau dia adalah seorang detektif.
Melihat kedatangan pria itu, Dea dan nyonya Viko cepat cepat kabur dari dalam Cafe itu, entah apa yang ditakuti oleh mereka dari pria itu.
"Selamat siang, " sapa pria itu.
Mereka menoleh, Rahel sedikit terkejut saat melihat pria itu, "ada yang bisa kami bantu tuan?" tanya Rahel.
"Eh tunggu dulu...," Mereka berdua saling menatap cukup lama dan...
"Rahel(Jonathan)" ucap Mereka bersamaan saat menyadari siapa sosok yang mereka lihat.
Jenny dan Sabrina menatap keduanya, Sabrina langsung mengenali pria yang menyelamatkan dirinya itu.
"Wahhh, sudah lama ya Jo!" ucap Rahel ramah.
"Udah lama banget, kita terakhir ketemu waktu acara perpisahan kelas 6 SD, wah kamu makin cantik aja ya, banyak berubah!" ucap Jonatan, teman SD Rahel saat bersekolah dulu.
"wahh iya ya, kamu juga banyak berubah Jo, dulu aku masih lebih tinggi sekarang kamu ya g lebih tinggi, senang bertemu denganmu sobat!" ucap Rahel.
"Wahh gak nyangka sih, " ucap Jonathan.
"Ehh duduk dulu yuk, gak lagi sibuk kan?" tanya Rahel.
"Nggak sibuk kok," ucap Jonathan.
"Ada apa?" tanya Rahel.
"Cih kamu memang gak pernah berubah ya, Aku cuma mau memastikan kalau nona ini wanita yang kuselamatkan semalam," ucap Jonathan.
"Sabrina? jadi kamu yang selamatkan adik iparku? makasih banyak Jo, syukur ada kamu!" ucap Rahel langsung berterimakasih, sejujurnya dia penasaran dengan siapa sosok pria yang menyelamatkan adik iparnya itu.
"Kamu udah nikah? wah emang kalau cewek cantik cepat sold out ya hahahah," kekeh Jonathan.
"Heh bisa aja kamu, kalau kamu gimana? udah ada yang nyangkut di hati belum?" tanya Rahel.
"Belum Ra, tapi disini udah ada seseorang," ucap Jonathan sambil melirik Sabrina sebentar namun segera dia menatap Rahel.
"Ohh... semangat ya buat ngejar cintanya heheh, oh iya Jen, Sabrina," ucap Rahel.
"Dek, kamu gak apa apa kan?" tanya Rahel pada Sabrina dan gadis itu hanya mengangguk pelan saja sedang Jonathan terus melirik ke arahnya.
"Kenalin Jen, Sabrina ini teman masa kecilku Jonathan, udah jadi detektif sekarang," ucap Rahel.
__ADS_1
"Wah pak polnya tampan," celetuk Jenny dengan mata berbinar-binar membuat Rahel menggetuk kepala Jenny.
"Heh jangan sembarangan," ucap Rahel.
"Hisshhh emang ganteng kok, heheh halo pak Polisi," sapa Jenny sambil senyum seindah mungkin yang dibalas dengan ramah oleh polisi tersebut.
"Halo nona," balasnya.
"Aduh mleyot aku ihhh," Ucap Jenny sambil meletakkan kepalanya di atas meja, Sabrina tersenyum tipis melihat tingkah Jenny yang memang selalu diluar perkiraan itu.
"Maaf ya Jo, temenku agak geser dikit," ucap Rahel.
"Ck.. gak geser tau Rahel, aku mah normal tau mana yang bening mana yang keruh kayak si Bastian itu ishhh," gerutu Jenny sambil mengerucutkan bibirnya.
"Jadi Bapak polisi yang tampan ini yang menyelamatkan adikku, terimakasih banyak Pak, tanpa Bapak Sabrina mungkin... ahh sudahlah," ucap Jenny tak ingin Sabrina sedih kembali.
" Ahh sudah tugas saya nona, saya mencari dia semalaman syukurlah kalau dia kembali dengan selamat," ucapnya sambil menatap Sabrina yang sedari tadi cuek tak ingin melihatnya.
"Dek,"panggil Rahel.
Sabrina menoleh, dia merasa canggung sekaligus sedikit takut, karena kejadian semalam terngiang jelas di kepalanya, tiba tiba dia berdiri sambil membungkuk, rambut pendek yang menutupi wajahnya.
"Ma..maaf saya tidak menunggu Anda semalam," cicit Sabrina sambil menunduk, dia mengepalkan kedua tangannya, Rahel tau kalau berhubungan dengan pemicu trauma pasti akan sangat berat apalagi pria itu yang menyelamatkan Sabrina semalam.
"Terimakasih sudah menyelamatkan saya semalam, Ka..kalau pak polisi tidak datang... mu..mungkin," Sabrina terdiam, dia kembali menitikkan air matanya.
Dengan cepat Jenny yang sudah sadar dari kegilaannya memeluk Sabrina dan mengusap punggung gadis itu.
Rahel mendesah berat, permasalahan yang dihadapi Sabrina sangat berat, mereka harus melakukan sesuatu untuk membuat gadis itu merasa tenang.
"Jo bisa bantu kami tidak menyelesaikan kasus ini, kasihan Sabrina dia sampai trauma, bagaimana dengan pria yang mencoba melecehkannya itu, bagaimana dengan para bajingan yang menjual Sabrina masa iya mereka lepas? aku gak bisa terima adik iparku diginiin," jelas Rahel mengungkapkan kemarahannya.
"Ra.. kamu tenang dulu, pria itu udah disekap di kantor polisi dan akan diadili sesuai dengan hukum yang berlaku, lalu untuk anak anak yang kamu maksud kami sudah tau siapa mereka tapi..." Jonathan berhenti, dia menatap iba pada Sabrina yang tampak mengalami kesulitan berbaur dengan orang baru.
"Ini sangat berat Ra, keluarganya berusaha menutupi kelakuan bejat anaknya, kau tau kan V.R Grup? mereka sudah menghilangkan semua bukti," ucap Jonathan yang membuat Rahel, Sabrina dan Jenny lemas seketika itu juga.
Jenny memeluk erat Sabrina, dia dapat merasakan kesedihan gadis itu.
"Ck... sial, jadi mereka sudah bergerak terlebih dahulu!" ucap Rahel mengepalkan kedua tangannya.
"Lalu apa yang harus kami lakukan Jo, kamu lihat sendiri kan bagaimana Sabrina Sekarang? aku gak tega Jo, aku juga pernah ngalamin hal seperti itu, pokoknya mereka harus di adili apa pun caranya," ucap Rahel, dia benar-benar marah saat ini.
"Tenang Ra, aku akan minta bantuan temanku, adiknya agak gila soal komputer dan bagian penyelidikan seperti ini, aku akan meminta bantuan mereka, hanya saja kalian harus bersabar, kita ambil waktu paling tepat untuk menghajar mereka," ucap Jonathan.
__ADS_1
"Aku juga tidak akan tenang jika mengetahui ada kasus yang berusaha disembunyikan seperti ini, dan kau tau sudah lama aku ingin mengusut kasus dengan V.R grup ini," ucap Jonathan seraya berbisik.
"Apa kau bisa dipercaya? aku tak yakin dengan kata katamu," ucap Rahel.
"Ohh ayolah apa kau tak mengenalku?" ucap Jonatan.
"Ck... orag bisa berubah Jo," ucap Rahel.
"Heh kau sama saja, baiklah aku akan membantu kalian, untuk sementara nona Sabrina akan berada dalam perlindungan polisi atau aku yang akan menjaganya langsung selama kasus ini belum diselesaikan," ucap Jonathan.
"Baiklah, ku harap segera ada kabar baik dari teman mu itu," ucap Rahel yang dibalas anggukan kepala oleh Jonathan.
"Sabrina, kamu tenang ya kita akan membalas semua perbuatan mereka, kakak gak akan. biarkan kamu disakiti oleh orang orang itu!" ucap Rahel.
"Terimakasih kak," ucap Sabrina.
"Terima Pak Polisi," ucap Sabrina.
"Sudah tugas saya nona, dan jangan panggil Pak polisi panggil kak Jonathan aja," ucapnya berusaha membuat Sabrina nyaman.
"Wahh kak Jonathan ya, aku juga pengen dong dilindungi kak Jonathan," ucap Jenny sambil menatap Jonathan dengan kedua tangannya memangku wajahnya.
Pletak
"Jeeeennn, please deh jangan pecicilan kenapa?" ucap Rahel mulai jengah dengan sifat sahabatnya itu.
"Heheheh habis temen kamu ganteng banget," ucap Jenny sambil tertawa.
"ingat Pak Bastian Jen," ucap Rahel.
"idih najiss," ucap Jenny sambil bergidik ngeri.
Sabrina tersenyum mendengar celetukan kakak kakaknya yang selalu berhasil menghibur dirinya.
Jonathan melirik Sabrina, dia merasa lega melihat gadis itu tersenyum.
"Sepertinya aku menyukainya,"batin Jonathan.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 😉😉😊