
Kedatangan Satria dan Rahel ke rumah utama keluarga Farenheit disambut dengan meriah oleh seluruh penghuni rumah itu.
Tentu saja yang disambut disini bukan Satria melainkan Rahel sebagai anggota baru dalam keluarga Farenheit.
Rahel dibawa oleh Satria memasuki Mansion yang tertata dengan apik bergaya klasik yang membuat siapapun yang tinggal disana merasa sangat nyaman apalagi dengan penghuni rumah yang sama sama kocak.
"Wahhh menantu Mom udah datang, sayang kemari Mom kangen," ucap Mom Ayu menyambut kedatangan menantunya," Minggir!" ucap Mom Ayu seraya menepis tangan Satria dari bahu Rahel yang membuat Satria malah jadi kesal.
"Mom Satria anak Mom kok kejam banget sihhhh," rengek Satria.
Bughhh
"Udah sana minggir, kami mau ketemu menantu," Dad Bram menyikut perut Satria agar pria itu menyingkir dari hadapan mereka, " Dasar anak nakal, bilang bawa Rahel kesini secepatnya malah dua Minggu lebih gak dibawa," gerutu Dad Bram.
"Ck... arhhhh," Satria hanya bisa menggerutu kesal dengan perilaku pasangan Fenomenal yang selalu membuat suasana benar benar heboh.
"Anak sendiri gak disambut, ahhh kejam!" ucap Satria dengan sedikit melebih lebihkan.
"Cih... kamu mah udah expired," ejek Mom Ayu yang sudah merangkul bahu Rahel sambil tersenyum bahagia melihat menantunya yang sangat cantik itu.
"Ayo nak masuk ke dalam, tinggalkan saja si kunyuk itu," ajak Dad Bram yang ikut merangkul bahu Rahel dari sisi yang lain.
Rahel hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah kedua mertuanya, dia benar benar merasa disayangi di keluarga itu, sungguh membuat Rahel bisa merasakan kasih orangtua seperti dulu lagi.
"Mereka baik sekali, jadi kangen Mom dan Daddy, " batin Rahel sambil mengikuti langkah kaki Mom Ayu dan Dad Bram.
Satria menatap punggung mereka di belakang, meski dia merengek, dia tetap tersenyum manis menatap kedekatan Kedua orangtuanya dan istrinya.
"Kamu harus bahagia sayang," batin Satria.
Pria itu membawa kotak penyimpan makanan yang ditentengnya tadi menuju dapur.
"Ada yang bisa kami bantu tuan muda," ucap kepala pelayan yang biasa dipanggil Pak Gio.
"Ahhh tolong hidangkan Martabak ini ya Pak, bawa aja ke ruang santai, untuk es cendolnya tolong pindahin ke wadah minuman biar tetap dingin, masukin ke mobil saya ya Pak," pesan Satria.
"Baik tuan Muda," jawab Pak Gio sambil menunduk hormat.
"Oh iya, Sabrina dimana Pak? kok gak kelihatan? ini kan udah sore, apa dia belum pulang?" tanya Satria yang tidak melihat keberadaan adiknya di mansion itu.
"Belum tuan,akhir akhir ini nona Sabrina sering pulang malam, biasanya sampai sekitar jam tujuh," ucap Pak Gio.
"Jam tujuh? emang ada acara apa? kenapa dia sampai pulang malam? nggak biasanya," ucap Satria bingung.
__ADS_1
"Saya juga kurang tau tuan, tetapi akhir akhir ini nona muda lebih sering diam dan mengurung diri di kamar, jika tuan dan nyonya Besar bertanya, nona muda selalu bilang tidak ada apa apa dan selalu menghindar dari mereka," jelas Pak Gio.
"Yang paling aneh, nona muda bahkan tidak mau dipeluk oleh tuan dan nyonya Besar, dia selalu menghindar tuan," jelas Pak Gio.
"Aneh, ini benar benar aneh," ucap Satria yang menaruh curiga pada adik kesayangannya yang memang beberapa waktu belakangan ini banyak mengalami perubahan.
"Pak, selama saya disini apa Sabrina pernah melakukan hal hal aneh?" tanya Satria.
"Tidak ada tuan, semuanya kelihatan normal, hanya nona muda semakin pendiam, itu saja tuan," jawab Pak Gio.
Pak Gio sendiri adalah orang kepercayaan tuan dan nyonya besar Farenheit, beliau sudah bekerja di rumah keluarga Farenheit selama puluhan tahun.
Bahkan keluarga Pak Gio sudah dianggap seperti saudara bagi Dad Bram dan Mom Ayu. Pernah beberapa tahun lalu saat istri Pak Gio sakit kanker rahim, keluarga Farenheit yang setia mendampingi Pak Gio merawat istrinya, bahkan seluruh biaya pengobatan istrinya ditanggung oleh keluarga itu, meskipun istrinya harus meregang nyawa karena penyakit yang diidapnya.
Selain itu, keluarga Farenheit juga membiayai sekolah kedua anak perempuan Pak Gio hingga mereka lulus kuliah dan kini sudah berumah tangga.
Pak Gio sendiri memilih mendedikasikan hidupnya untuk keluarga Farenheit atas semua bantuan dan kasih yang mereka berikan pada keluarga Pak Gio. Jika ditanya soal kesetiaan, mungkin Pak Gio adalah satu diantara ribuan orang yang bisa setia pada satu majikan sepanjang hidupnya.
"Baiklah Pak, tolong awasi Sabrina selama saya tidak disini ya pak, saya takut terjadi sesuatu padanya," pesan Satria.
"Akan saya lakukan tuan," ucap Pak Gio.
Satria lalu pergi menuju ruang santai menghampiri kedua orangtuanya dan juga sang istri yang saat ini sedang berbincang bincang dengan kedua orangtuanya layaknya orang tua dan anak kandungnya.
"Ekhmmm... asik banget ya ngobrolnya sampai gak lihat aku disini," sindir Satria yang sudah duduk di dekat Dad Bram.
"Eh... si kunyuk, "ucap Dad Bram yang malah membuat Satria memutar malas kedua bola Matanya karena selalu saja di ledek oleh Daddy-nya itu.
"Ck... ayolah Dad, jangan hilangkan wibawaku di depan istriku," gerutu Satria .
"Cih emangnya kamu kapan punya wibawa? ngurus diri sendiri aja belum beres dasar anak nakal!" ledek Mom Ayu.
"Ahhh Mom gitu amat sih, udah ah Mom geser sedikit Satria mau dekat istri Satria ahh, " Pria itu benar benar merengek, begitulah dia, jika di depan kedua orangtuanya dia hanya seorang anak kecil, di depan istrinya dia akan jadi suami paling perhatian dan bucin tentunya, di depan sahabat sahabatnya dia akan menjadi orang yang gaul, dab di depan lawan bisnisnya dia akan menjadi seekor singa lapar yang siap menerkam siapa pun yang berani mengganggu ketenangan dirinya.
Satria duduk di samping istrinya sambil menepuk lembut pucuk kepala gadis itu.
"Kamu gak diapa apain kan sama mereka?" tanya Satria yang malah membuat Rahel tergelak sedangkan kedua orangtuanya menatap tajam ke arah Satria.
"Kamu pikir aku diapa apain emang? dasar kamu ini," kekeh Rahel sambil tertawa.
"Baguslah, aku takut kamu jadi aneh seperti mereka berdua," ucap Satria yang menghamburkan pelukannya tanpa malu di hadapan kedua orangtuanya.
"Ishh... ini nih efek kelamaan jomlo, jadi eror kan? ck... ck... ck... mimpi apa aku waktu hamil kamu nak,"ejek Mom Ayu.
__ADS_1
"Mom mah gitu ya sama Satria, anak sendiri dinistain, " balas Satria.
"Ck.. kalian ini terus saja berdebat, kasihan menantuku," ucap Dad Bram melerai istri dan anaknya yang asik berdebat.
"Ya elah Dad baru juga mulai ya kan Satria," ucap Mom Ayu sambil tergelak.
"Hahahahah, bener Mom belum juga kelar ronde pertama hahahah," kekeh Satria.
"Pfftttthhh... kalian ini ada ada saja," balas Dad Bram.
Tak lama, martabak yang dibeli mereka tadi tiba dan dihidangkan di atas meja. Aromanya saja sudah menggugah selera.
"Wah martabak dari mana?" tanya Mom Ayu.
"Kami yang bawa tadi Mom, idenya menantu Mom," ucap Satria sambil menatap Rahel, namun yang ditatap malah menatap martabak cokelat dengan mata berbinar-binar bahkan sesekali menelan ludahnya.
Mereka bertiga saling menatap lalu seketika itu tertawa melihat tingkah lucu Rahel.
"Bwahahahahhahahahah, kamu pengen banget ya sayang ya?" tanya Satria sambil mengelus kepala Rahel, Rahel menatap suaminya sambil mengangguk dengan cepat dengan mata berbinar-binar.
"Hahahahh aduh gemesin banget sih," ucap Satria.
"Ya udah dimakan yuk," ucap Mom Ayu yang gemas sendiri melihat tingkah polos menantunya itu Dad Bram hanya senyum senyum sendiri melihat respon Rahel yang benar benar di luar pikiran mereka.
"Ini sayang punya kamu yang rasa cokelat tadi," ucap Satria sambil memberikan martabak yang dipesan Istri cantik nya itu.
"Terimakasih by," ucap Rahel sambil mengambil Martabak itu dan memakannya dengan lahap.
"Hahahah, kamu suka banget Ra," ucap Mom Ayu yang ikut senang dengan sifat polos menantunya itu.
Rahel hanya tersenyum sambil mengunyah martabak nya dengan lahap.
"Satria," panggil Dad Bram.
"Kenapa Dad," tanya Satria.
" Ikut Dad sebentar," ucap Dad Bram.
.
.
.
__ADS_1
like,vote dan komen 😊😊😊😊