Istri Cantik Suami Bucin

Istri Cantik Suami Bucin
Panik


__ADS_3

Satria mengangkat tubuh Sabrina yang berbau alkohol, sungguh merupakan hal yang tak pernah mereka lihat dari Sabrina.


"Dad, putri kita kenapa dia seperti itu? Kenapa Sabrina Dad?" Mom Ayu menangis sambil memeluk lengan suaminya, mereka saat ini berdiri di dekat tempat tidur Sabrina sembari melihat Sabrina di letakkan di atas tempat tidur.


Rahel dengan sigap mengambil handuk basah dan air hangat untuk mengompres tubuh Sabrina, dia melihat jelas di leher Sabrina ada memar lebih condong ke bekas cekikan.


"By tolong ambilkan air putih hangat biar aku lap dulu badan Sabrina," ucap Rahel yang sudah duduk di dekat tubuh Sabrina.


Mom Ayu dan Dad Bram benar benar panik saat ini, sampai mereka tak bisa melakukan apa pun dan hanya berdiri dalam diam melihat menantu dan anaknya mengurus Sabrina.


"Dad, Mom duduk aja, jangan berdiri nanti capek, tenangin diri kalian dulu," ucap Rahel yang merasa tidak enak dengan kedua mertuanya yang tampak syok melihat kondisi Sabrina yang benar-benar berbeda hari ini, bagaimana bisa anak gadis mereka berbau alkohol dan tampak acak acakan.


"Sabrinaaa... Hiks hiks hiks, kenapa kamu nak!!" Mom Ayu kembali histeris, dia langsung duduk di dekat kaki Sabrina dan menggenggam tangan gadis yang tidak sadarkan diri itu.


"Mom tenang ya, kita rawat dia, jangan panik gak baik buat kesehatan Mom, tenang dulu"ucap Rahel menenangkan mertuanya yang sangat mudah menangis itu.


"Sayang kamu harus tenang supaya kita bisa cari tau masalahnya," ucap Dad Bram sambil mengusap punggung istrinya.


"Bagaimana Mom bisa tenang liat putri Mom kacau seperti ini, dia gak pernah begini Dad!!" Mom Ayu semakin histeris.


"Astaga Mom jangan begini, kamu yang kasihan nanti," ucap Dad Bram khawatir.


"Hiks hiks hiks, anakku Dad, anakku kenapa hisa begini!!" Tangis Mom Ayu.


"Haduhh sayang, sebentar ku ambil tissu dulu," ucap Dad Bram beranjak mencari tisu di kamar itu.


Rahel merasa sedih melihat mertuanya menangis seperti itu, tapi kalau nanya menangis tanpa mengambil tindakan tak akan ada gunanya, hanya akan menghabiskan tenaga.


"Mom tenang dulu, jangan panik, gak ada gunanya kalau Mom panik begini," ucap Rahel sambil menggenggam tangan mertuanya namun karena terlalu panik, Mom Ayu malah menepis tangan Rahel membuat wanita itu terkejut karena merasa ditolak oleh Mom Ayu.


Deghh...


Cepat cepat Rahel menarik tangannya, kali ini dia diam dan memilih melanjutkan pekerjaannya membersihkan tubuh Sabrina sambil memendam rasa terkejut dan rasa takutnya, dia berusaha untuk bisa mengerti dan bisa tenang dengan hatinya.


Dad Bram datang dengan membawa tissue dan mengusap wajah istrinya.


"Mom tenangkan diri dulu ayo, kita keluar biar Rahel yang melakukan sisanya," ucap Dad Bram sambil mengajak Mom Ayu keluar dari kamar Sabrina.


"Sebentar ya Ra," ucap Dad Bram yang hanya di balas anggukan kepala oleh Rahel dengan senyum kecut.


Rahel memegang dadanya yang tiba tiba terasa perih karena kejadian tadi.


"Huffft... Tenang Ra, tenang, huhhh... " Rahel menenangkan hatinya sambil menepuk nepuk dadanya dan berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.

__ADS_1


Dengan cekatan Rahel membersihkan tubuh Sabrina, tak lama Satria datang dengan membawakan segelas air putih hangat.


"Rara ini air putih hangatnya," ucap Satria.


"Hmm? Letakin di meja aja by" ucap Rahel tanpa menoleh, tampak wajahnya kusut dan sendu, dan Satria menyadari hal itu.


"Kenapa ?" Tanya Satria yang langsung membuat Rahel menoleh.


"Eh... Apanya?" Tanya Rahel.


"Hmm...nggak kok," ucap Satria.


"Satria aku mau ganti pakaian Sabrina, kamu keluar dulu ya," ucap Rahel dengan lembut.


"Hmmm baiklah, kalau ada apa apa bilang ya" ucap Satria sambil menepuk pucuk kepal istrinya.


"Iya," jawab Rahel sambil tersenyum tipis tapi Satria tau kalau istrinya menyembunyikan sesuatu, namun dia akan menunggu sampai batas tertentu.


"Ada apa dengan Rahel?" Batin Satria.


Rahel mengganti pakaian Sabrina, mengelap tubuhnya, namun betapa terkejutnya dia saat melihat bekas luka memar di tubuh Sabrina, memar di perut, bekas pukulan seperti bekas cambuk, di paha dan betisnya semuanya berbekas.


Dia mengangkat pakaian Sabrina, tampak bekas sol sepatu di punggung jaketnya, serta bau tepung dan alkohol membuat Rahel mual.


"Huwekk... Eghh... Bau tepung, dan kapur juga, eghh..." Rahel memijit pelipisnya yang tiba tiba pusing setelah mencium bau itu.


"Ya Tuhan ada apa denganmu Sabrina," ucap Rahel yang bingung dengan semua hal itu.


Ingatan nya kembali berputar pada saat dia menjadi korban bully dulu, dia tau bau itu, dia tau bekas bekas seperti itu.


"Ahhh tidak mungkin," ucap Rahel menggelengkan kepalanya.


Cepat cepat dia bangkit berdiri ingin memberitahukan hal itu pada suami dan mertuanya namun Sabrina yang sudah sadar menahan tangannya.


"Sa.. Sabrina," ucap Rahel langsung menghampiri Sabrina.


"Kak.. kak Rahel?" Ucap Sabrina dengan suara lemah.


"Iya ini Kakak, kamu kenapa dek, ada apa dengan tubuhmu kenapa seperti ini??" Tanya Rahel dengan wajah panik.


Sabrina menangis dia menggenggam erat erat tangan Rahel tampak gadis itu benar benar lemah saat ini.


"Kak... Hiks hiks hiks," Sabrina menangis tersedu-sedu, dengan cepat Rahel memeluk tubuh adik iparnya dan mengusap lembut punggung Sabrina agar dia tenang.

__ADS_1


"Tenang dek, jangan takut, ada kakak jangan takut, " ucap Rahel, sedikit banyak dia tau kondisi Sabrina ini sebab lima tahun yang lalu dia juga mengalami hal yang sama.


"Hiks hiks hiks, kak, Sabrina takut," cicit gadis itu bergetar ketakutan, dia benar-benar menangis sedih saat ini, bahunya bergetar hebat, dia memeluk Rahel dengan erat menumpahkan rasa sakit dan kesedihannya.


Lama dia menangis mengeluarkan segala kesedihannya, Rahel dengan setia memeluk Sabrina.


"Husshhh.... Tenang Sabrina, ada apa denganmu?" Ucap Rahel sambil menatap wajah Sabrina yang sembab, gadis itu tidak sehisteris tadi lagi.


"Aku... " Sabrina tak berani menceritakan apa yang terjadi pada dirinya.


Rahel menepuk punggung gadis itu, dia tidak mau memaksa karena dia tau kalau sangat sulit membicarakan hal seperti itu pada orang lain, dia sangat tau rasanya.


"Kalau belum mau cerita gak apa apa, kamu tenangin diri kamu dulu, jangan banyak mikir, " ucap Rahel sambil memeluk Sabrina memberikan kehangatan pada gadis itu meski saat ini hatinya sendiri benar benar kacau.


"Hiks hiks hiks, kak apa yang harus kulakukan aku takut, aku... Emph.. aku hiks hiks hiks," Sabrina kembali menangis sambil memeluk Rahel.


Dengan penuh kelembutan wanita itu merangkul Sabrina yang sedang terpukul.


"Tenang Sabrina, jangan dipaksakan, kalau kamu mau cerita tunggu sampai kamu tenang ya, kakak akan dengerin kok, kamu harus tenang, ingat jangan takut ya" ucap Rahel yang dibalas anggukan kepala oleh Sabrina.


"Sini minum dulu, " ucap Rahel sambil memberi minuman pada Sabrina.


"Kamu Lapar?" Tanya Rahel dan lagi dibalas anggukan kepala oleh Sabrina.


"Ya udah bentar kakak ambilin dulu ya," ucap Rahel namun cepat cepat Sabrina menahan tangan Rahel.


"Kak jangan bilang sama yang lain please, Sabrina gak mau ditemui, Sabrina.."


"Iya tenang aja, gak akan kakak sampaikan, kamu tunggu sebentar," ucap Rahel.


"Terimakasih kak," cicit Sabrina yang dibalas anggukan oleh Rahel.


Wanita itu keluar sambil membawa kompresannya.


"Bagaimana?" Ucap Satria yang menunggu mereka di luar pintu kamar.


"Dia sudah sadar, tapi jangan masuk dulu, emmm bisa bantu aku tunjukkan dapur? Sabrina butuh makan," ucap Rahel pelan.


"Hmmm kemari ikut aku Ra," ucap Satria yang tampak masih khawatir.


.


.

__ADS_1


.


Like, vote dan komen 😉😉😊


__ADS_2