
Satria sedang duduk di samping brankar Rahel, ini kali kedua pria itu membawa Rahel ke rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri.
Jenny sendiri berada di sisi Rahel yang lain sambil menggenggam tangan sahabatnya dengan erat, dia benar-benar khawatir dan panik karena sejak dua jam lalu di tangani dokter,Rahel tak juga sadarkan diri.
Sedangkan Bella sedang ke luar mencari makan untuk mereka.
"Pak bagaimana dengan Rahel, kenapa dia belum bangun juga?" ucap Jenny dengan raut panik.
"tenang lah Jen dia masih dalam pengaruh obat, aku keluar dulu, ini nomor ponselku telepon aku jika Rahel sudah bangun," ucap Satria sambil menyodorkan kartu namanya.
"Baik Pak," jawab Jenny tanpa bertanya apa apa.
Satria keluar setelah membetulkan selimut Rahel, entah mengapa hatinya sakit melihat gadis itu terluka tepat di hadapannya.
"aku pergi Jen, jaga dia," ucap Satria keluar dari ruangan itu.
"Tanpa bapak suruh pun aku pasti akan menjaga sahabatku ini dengan baik, ohh malangnya nasibmu Ra, grrrhhh ini karena si Gaby bodoh itu!!" geram Jenny mengingat kejadian tadi.
"Cepatlah bangun Ra dan tunjukkan tarringmu, tunjukkan kalau kamu tidak bisa diinjak injak oleh orang lain!" ucap Jenny.
ceklek...
Pintu di buka dengan pelan, tampak Bella masuk ke dalam ruangan itu dengan berhati hati, takut jika mengganggu Rahel yang sedang terlelap.
"Pak Satria kemana Jen?" tanya Bella sambil duduk di sofa dalam ruangan VVIP yang di pesan Satria tadi tanpa membuat karyawannya curiga.
"lagi keluar Bel, eh makasih udah bantuin yaa," ucap Jenny sambil menatap Bella yang sedang membuka kotak makanan.
"Sini Jen kita makan dulu, kamu juga butuh tenaga," ucap Bella.
"Yakin nih makanan nya aman?" ledek Jenny yang memang belum bisa percaya sepenuhnya dengan Bella.
Bella tersenyum, dia tau tak akan semudah itu Jenny menerima permintaan maafnya setelah semua yang dia lakukan, namun ada alasan di balik semua perbuatan buruknya selama ini.
"Lihat ya Jen," ucap Bella sambil menyendokkan makanan dari semua wadah yang ada disana ke dalam mulutnya dan mengunyah mereka lalu menelannya sambil tersenyum.
Setelah itu dia menenggak minuman yang di bawanya masih baru dan bersegel.
__ADS_1
"Lihat gak ada apa apa kan," ucap Bella.
Jenny mengangguk percaya, dia merasa sedikit lega ternyata Bella masih bisa berubah dan punya harapan besar untuk jadi orang yang lebih baik.
"Hmmm.... oke yang ini aku yakin, seterusnya kita lihat saja," ucap Jenny masih dengan nada curiga.
Bella tersenyum, dia tau dan dia harus berjuang untuk membuktikan kalau dia benar-benar sudah berubah.
"ya udah makan dulu sambil nunggu Rahelnya bangun," ucap Bella.
Jenny pun menurut, perutnya juga sudah keroncongan karena tadi pagi hanya makan sedikit karena tiba-tiba mengalami sakit perut membuatnya tak berselera makan.
Mereka berdua makan dengan tenang, hingga akhirnya Jenny membuka pembicaraan.
"Bell," Panggil Jenny di sela sela kunyahan nya.
Bella menoleh, "ada apa Jen?" tanya Bella yang masih serius dengan makanannya.
"Kenapa kamu lakukan hal itu pada Rahel dulu?" Tanya Jenny tiba-tiba membuat Bella terkejut namun dia sudah menebak bahwa memang mereka akan menanyakan hal tersebut suatu saat nanti.
"Kita selesaikan makan dulu baru aku jelasin Jen, ini cerita ya panjang,"ucap Bella serius.
Beberapa menit berlalu mereka sudah beres makan siang dan merapikan bekas makan mereka.
"Jadi gimana?" tanya Jenny tak sabaran membuat Bella tersenyum tipis.
"Kau sangat tidak sabaran Jen," ucap Bella sambil tersenyum.
"Hmm anggap saja begitu, sekarang jelaskan semuanya!" desak Jenny dengan wajah penasarannya.
"Huffft ini semua berawal dari persahabatan ku dengan Rahel di masa SMA Jen," ucap Bella.
"waktu itu kami jadi teman dekat setelah duduk di kelas tiga, aku dan Rahel sangat akrab dan juga dengan teman-teman yang lain, Rahel sangat disukai oleh semua orang di sekolah," ucapnya.
"Hal ini membuat Dea cemburu begitu juga dengan Gaby, sebab mereka menganggap kalau aku dan Rahel adalah saingan mereka. Singkat cerita selama masa SMA Kami berteman baik, namun saat di kampus yang ternyata kita kuliah di kampus yang sama disitulah awal keretakan pertemanan kami," ucap Bella, tampak raut kesedihan di wajah gadis itu.
"Awalnya aku dan Rahel sangat senang kuliah di kampus yang sama, tetapi Dea masuk diantara kami dan mengancam ku saat awal semester, ayahku Beker di V.R grup membuatku tak bisa berkutik, dia mengancam jika aku tidak bergabung dengan gengnya maka karir ayahku akan hancur bahkan seluruh keluarga kami akan hancur," ucap Bella tertunduk lesu.
__ADS_1
"Sejak saat itu aku dihasut dan diperintahkan untuk mengejek dan menjelekkan Rahel di hadapan umum, apalagi saat perusahaan Ayah Rahel bangkrut dan malah diakuisisi oleh V.R grup, serta saat om Rai dan Tante Hana meninggal, aku dipaksa ikut dengan cara mereka," ucap Bella.
"Aku... aku menyesali semua perbuatanku, tapi aku arhh... aku bisa apa Jen, hidup kami bergantung pada pekerjaan Papa dan saat itu aku masih harus kuliah, adikku juga masih SMA, aku tak bisa menolak permintaan Dea dan Gaby, aku takut Jen hiks hiks hiks," tangis Bella pun pecah setelah sedari tadi berusaha menahan rasa sakit hatinya.
"Setiap aku mengejeknya, aku selalu merasa bersalah, aku seperti merendahkan om Raiden dan Tante Hana yang jelas jelas sangat baik padaku, aku bisa apa Jen, aku juga terpaksa melakukan ini," ucap Bella dengan Isak tangisnya.
"Fuhhhhh.... masalah ini berat," ucap Rahel mendesah.
"Entahlah aku harus percaya dengan ucapanmu atau tidak Bell," ucap Jenny sambil bersandar ke sofa dan menatap Bella dengan intens.
"Lalu apa tujuanmu meminta maaf pada Rahel tadi? bukankah ini sama saja kau mengibarkan bendera perang pada dua gadis siluman itu?" tanya Jenny.
"Aku tau, dan aku siap menerima resikonya, aku tak mau hidup dengan kemunafikan lagi Jen," balas Bella.
"Ku harap aku bisa membangun karirku di perusahaan Farenheit yang bahkan V.R grup hanya semut kecil bagi perusahaan ini, aku yakin pasti bisa," ucap Bella percaya diri.
Jenny mendelik, "Ck... jangan terlalu naif Bell, perbaiki dulu sifatmu baru berharap lebih, jika suatu saat kutemukan kalau kau tidak sesuai dengan perkataan mu saat ini maka bersiaplah menemui ajalmu!" ancam Jenny yang membuat Bella terkejut bukan main.
Degghh
"Ka.. Kau benar-benar menakutkan Jen, aku tak menyangka kalau kau punya sifat seseram ini," ucap Bella dengan mata terbelalak sekaligus takut.
"Kau tidak mengenalku dan Rahel dengan baik, kami sudah melalui banyak hal yang bahkan orang biasa tak bisa pikirkan, " ucap Jenny sambil menatap Rahel yang masih terlelap.
"Rahel hanya belum menunjukkan taringnya Bel, sempat dia marah siapa pun itu akan dihabisi nya, dia bukan wanita lemah seperti anggapan orang-orang," tambah Jenny lagi.
Bella terdiam, dia memang tidak tau sifat asli kedua gadis itu, ucapan Jenny juga terngiang-ngiang di kepalanya, pedas memang tetapi rasional tidak kebanyakan menye menye.
"Ternyata Bella dipaksa oleh siluman rubah itu, awas kau Dea, lihat saja aku akan berusaha membalikkan keadaan dan menghancurkan V.R grup sampai tak bersisa, " batin Rahel yang ternya sudah bangun sejak Jenny dan Bella makan tadi.
"Aku tak akan mudah terpuruk lagi Dea, Paman, bibi tunggu aku menghancurkan perusahaan kalian, aku akan merebut perusahaan Papa, lihat saja nanti," tekad Rahel sudah bulat untuk mengembalikan apa yang seharusnya jadi miliknya dan orangtuanya.
"Ra kamu udah bangun?" ucap Jenny saat melihat jari jari Rahel bergerak, dia langsung beranjak diikuti Bella.
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen 😉😊😊😊