
Rahel dan Satria kini bergabung di ruang santai bersama yang lain, barang barang mereka sudah dikemas dan akan di jemput oleh pelayan yang bekerja di rumah utama nanti.
Rencananya mereka semua hari ini akan berjalan jalan untuk menikmati akhir pekan mereka sekaligus merayakan kehamilan dan mengikuti keinginan Ibu Hamil yang tiba tiba ingin diajak jalan jalan itu.
Semuanya sudah siap, mereka pun berangkat menuju tempat pertama yang ingin dikunjungi Rahel yaitu Mall, ada ada saja dia memang katanya mau jalan jalan tapi masa iya ke Mall.
“Kamu yakin sayang? Gak ada pilihan lain selain Mall, kan biasa banget,” ucap Satria yang heran dengan pilihan istrinya.
“Yakin banget, aku mau ngerasain kaya orang lain yang pacaran dengan normal, jalan bareng ke Mall, makan di cafe atau resto bareng teman teman, terus nonton di bioskop, aku mau melakukan semua yang gak pernah aku lakukan dulu,” ucap Rahel dengan mata berbinar binar.
Jenny menatap sahabatnya seketika itu dia mengingat bagaimana hidup sangat keras bagi Rahel, Jenny memeluk Rahel sambil menangis dia benar benar sedih jika mengingat kehidupan Rahel dulu, Jenny juga tak bisa membantu banyak, sebab dia juga harus menghidupi keempat adiknya dan membantu orangtuanya.
“Maaf karena aku gak bisa bantu kamu banyak dulu Ra, maaf aku bukan sahabat yang baik,” ucap jenny sambil menangis.
“Loh aku yang hamil kok malah kamu yang cengeng sih Jen hahahaha,” ejek Rahel yang membuat Jenny mengerucutkan bibirnya tapi air matanya masih membasahi pipinya.
“Ishhh Rahel...” gerutu Jenny Sambil menoel noel lengan Rahel.
“Hahahah sini sini peyuk dulu, aduh sahabatku cengeng banget sihhh.... jangan nangis dong,” ucap rahel sambil merentangkan kedua tangannya.
“Hiks hiks hiks.... kamu ahhh.... aku beneranloh minta maaf karena gak bisa bantu banyak dulu malah dibercandain,” rengek Jenny.
Bastian menatap gadis yang sudah mencuri hatinya itu, “Mereka berdua sama sama menjalani kehidupan yang sulit sepertinya,” batin Bastian sambil terus menatap Jenny.
“Aku justru yang makasih sama kamu Jen, saat semua orang menolakku, saat semua orang membenciku, justru kamu yang selalu setia mendampingiku, bahkan saat paman dan Bibi juga mengusirku, kamu yang bersikeras biar aku bisa tinggal di rumah kalian,” ucap Rahel yang kini juga ikut menangis.
Mereka semua terkejut dengan fakta itu, ternyata orangtua Jenny pernah mengusir Rahel dari rumah mereka.
“Kamu udah banyak banget bantuin aku Jen, saat paman dan Bibi bilang aku harus bayar kos, kamu juga yang nyisihin uang jajan kamu buat bantu aku bayar sama Paman dan bibi, aku benar benar berterimakasih,” ucap Rahel Jujur sambil memeluk sahabatnya.
“Maaf kalau mereka membuatmu kesulitan rah, ku harap kamu akan bahagia sampai selamanya, aku akan memastikan tak ada yang membuatmu menderita lagi, aku akan menjagamu kau sudah seperti seorang kakak bagiku,” ucap Jenny.
“Iya iya, udah jangan nangis ,” ucap Rahel sambil mengusap air mata Jenny,” Dilihatin bastian loh,” bisik Rahel yang sempat sempatnya menggoda sahabatnya itu.
“Ihhh Raaaa.... jangan bilang bilang ahh,” bisik jenny sambil mengusap air matanya.
“Wah kok jadi mewek begini sih, kan kita mau jalan jalan, Jen jangan nangis jelek tau,” ejek Jonathan untuk mencairkan suasana.
__ADS_1
“Nih pake, bersihin air comberannya,” ucap Jonathan sambil tertawa.
“Yakkk.... kamu pikir mata ku selokan, ihhkkk Jonathan mulai ngeselin deh,” gerutu Jenny sambil mengambil sapu tangan yang diberikan Jonathan padanya.
Bastian menyimpan kembali sapu tangan yang sudah dikeluarkannya, ada rasa sakit di hatinya saat melihat Jenny banyak berinteraksi dengan Jonathan, sedangkan Bastian sama sekali tidak berani.
“Aku selalu terlambat satu langkah,” batin Bastian yang tertunduk lesu.
“ahhh... ini menyedihkan, kenapa aku merasa sangat sedih, kok nyesek sih..” batin Sabrina yang juga merasa sedih saat ini.
Mereka semua akhrinya berangkat menuju tempat yang akan mereka kunjungi.
Rahel dan Satria menggunakan mobil mereka, Bastian bersama Sabrina dan Jenny bersama Jonathan alasannya cukup menyebalkan.
Jenny dan Jonathan sama sama gugup jika satu mobil dengan gebetan mereka, akhirnya mereka memilih untuk satu mobil dan membiarkan Bastian dan Sabrina di dalam mobil milik Bastian.
Suasana di dalam mobil Bastian sangat mencekam, kedua manusia yang terbakar api cemburu itu sama sama diam membuat suasana sangat menyeramkan.
Sedang di dalam mobil Jonathan, Jenny dan Jonathan banyak mengoceh tentang segala hal bahkan sampai membahas orang yang mereka sukai.
Ya, Jenny sudah tau kalau Jonathan menyukai Sabrina begitupun sebaliknya, mereka mengoceh tentang banyak hal, yang membuat suasana di mobil mereka sangat meriah.
“By,” panggil Rahel sambil menatap suaminya.
“Hmmm ada apa?” tanya Satria sambil menoleh sebentar lalu kembai fokus ke jalanan.
“Sepertinya Jenny sedang punya masalah, dia tidak akan menangis seperti itu di depan orang lain, aku jadi khawatir, aku sangat mengenalnya, dia sepertinya sedang dalam puncak masalah ,” ucap Rahel yang mengkhawatirkan sahabat baiknya itu.
“Darimana kamu tau Sayang? Atau apa dia pernah seperti ini?” tanya Satria.
“Jika dia seperti ini maka dia sedang bermasalah dengan paman dan Bibi, sebenarnya Jenny bukan anak kandung keluarga itu, dia hanya anak angkat yang di rawat oleh paman dan bibi,” ucap Rahel mengungkapkan fakta tentang Jenny dan alasan kenapa dia punya adik yang masih kecil.
“Apa? Jadi Jenny bukan anak kandung mereka? Lalu orangtua kandungnya?” tanya Satria.
Rahel menggelengkan kepalanya dengan raut wajah sedih,”Dia di buang saat umurnya 6 tahun by, dia anak terlantar,” ucap Rahel.
Satria menggenggam tangan istrinya, dia tak ingin Rahel kepikiran dengan sahabatnya itu,” jangan terlalu dipikirkan, tidak baik untuk mu dan Baby, aku akan membantu Jenny sebisa mungkin sayang, aku akan suruh anak buahku mencaritahu,” ucap Satria.
__ADS_1
“Terimakasih by, aku benar benar ingin Jenny bahagia, kasihan dia, dan aku berharap dia bisa bersanding dengan Bastian, aku yakin Jenny akan bahagia dengan kak Bastian,”ucap Rahel.
“Hmmm.... kamu benar Ra, aku juga berharap Bastian segera mengungkapkan perasaannya, aku tau dia menyukai Jenny tapi dia terlalu gengsi untuk mengungkapkannya,” ucap Satria.
Mereka semua melaju menuju Mall yang akan mereka kunjungi, mall milik perusahaan Farenheit.
Jenny berjalan sambil menggandeng tangan Sabrina dan Rahel, tampak Sabrina diam saja, Bastian juga tampaknya tak mengajak ribut Jenny lagi membuat Jenny merasa ada yang kurang.
Mereka semua berjalan beriringan memasuki Mall terbesar di kota itu, tanpa ada yang sadar kalau Satria adalah pemilik Mall itu.
Mereka berjalan dengan langkah pasti mengikuti ke arah mana Rahel membawa mereka.
Bastian sendiri memakai masker, karena dia di kenal banyak orang sebab setiap kali perusahaan Farenheit masuk berita, pasti pria itu yang akan muncul di layar kaca.
Mereka memasuki Mall dan mulai menjelajah sebagai orang biasa tanpa harus takut dikenali orang orang.
Drrtt.... drrrtt...
Ponsel Bastian berbunyi sebuah panggilan dari sang tuan besar yang tak lain adah Dad Bram.
“Kalian duluan saja,aku akan menjawab ini dulu,” ucap Bastian yang di balas anggukan kepala oleh Mereka.
“umm.... Ra aku ke toilet dulu ya,” ucap Jenny sambil melirik Bastian berharap agar sahabatnya itu paham kalau Jenny ingin lebih dekat dengan Bastian.
“Baiklah,” ucap Rahel.
Akhirnya Jenny dan Bastian berpisah dari yang lain.
Jonathan tampak berjalan di samping Satria dan Rahel bersama dengan Sabrina.
.
.
.
Like, Vote dan Komen ya,
__ADS_1
Maaf updatenya lama,