
Sabrina yang lama menangis kini sudah kembali tenang, dia duduk di atas kasur bersama Rahel dan Jenny.
"Sabrina, ini kenalin sahabat kakak panggil aja kak Jenny," ucap Rahel memperkenalkan Jenny pada adik iparnya.
"Halo Sabrina, salam kenal ya, kakak kak Jenny," ucap Jenny sambil tersenyum hangat pada Sabrina.
"Ha.. halo kak, salam kenal," ucap Sabrina pelan sambil menunduk.
Rahel tersenyum, "Sabrina kamu anu cerita gak sama kakak apa yang terjadi padamu?" tanya Rahel lembut tapi Sabrina tampak masih diam saja.
"Emmm... kalau kamu gak mau cerita, gimana kita mau hajar orang orang itu, orang kayak mereka harus di hajar, jangan di biarin biar kakak nanti yan puk... pak... bughh," ucap Jenny sambil dengan semangat memainkan tinjunya ke udara, "biar kakak yang hajar!!" sambungnya dengan penuh semangat.
Hal itu berhasil menghibur Sabrina kelihatan dari senyuman tipis di bibir gadis itu.
"Nah gimana? mau menghajar tukang bully gak?" tanya Jenny yang memang orangnya benar benar asik kalau di bawa bercanda apalagi menghibur seseorang yang sedang patah hati.
"Nggak sia sia aku membawa Jenny, dia memang yang terbaik," batin Rahel di dalam hatinya.
"Kamu mau cerita?" tanya Rahel lembut.
Melihat kedua perempuan itu, hati Sabrina menjadi tenang dan mendapatkan tempat untuk bersandar di saat dia mengalami kejadian buruk, Gadis itu mengangguk pelan membuat senyum indah mengembang di wajah Rahel dan Jenny.
Kejadian yang membuat Sabrina terpuruk,
Sabrina adalah salah satu gadis cantik dan ceria di kampusnya, di usianya yang menginjak 20 tahun, Sabrina semakin hari semakin cantik dan juga dia adalah gadis yang periang dan punya banyak teman.
Gadis bertubuh tinggi ideal itu disukai oleh banyak orang, selain karena cantik dia juga pintar, bahkan banyak laki laki yang menyatakan perasaannya pada Sabrina, namun dia selalu menolak mereka dengan halus, tak ada yang mengetahui identitasnya sebagai anak konglomerat karena Satria menutupi identitas adiknya demi masalah keamanan.
Awal permasalahannya dimulai ketika ada seorang mahasiswa baru, seorang laki-laki yang tampan mempesona yang dapat dikatakan bisa menarik perhatian seluruh wanita di kampus tersebut, pria itu secara terang-terangan menyukai Sabrina.
Tetapi seperti sebelumnya, Sabrina selalu menolak pria itu, Pria tampan ini sudah menjadi incaran gadis gadis di kampus.
Di kampus mereka terkenal geng gadis gadis cantik dan anak anak orang kaya yang selalu iri dengan kecantikan dan prestasi Sabrina, hingga saat mereka mengetahui kalau pria bernama Frans Ranio Viko ternyata menyukai Sabrina, sejak saat itu pembullyan pun dilakukan.
Setiap hari Sabrina mendapatkan serangan verbal maupun serangan fisik dari gadis-gadis yang dikenal dengan sebutan Geng Cantik.
Bahkan pria yang menjadi sasaran mereka pun berhasil mereka kelabui dan berhasil mereka untuk mengganggu dan melecehkan Sabrina.
pada awalnya Sabrina mencoba untuk tetap tenang dan tidak memberitahukan segala sesuatunya kepada orang tuanya, Namun ternyata pilihannya salah semakin hari dia semakin tersiksa dengan semua tindak kekerasan yang mereka lakukan.
Terkadang dia akan disiram air comberan, terkadang dia akan dipermalukan di depan kelas, terkadang dia dituduh mencuri dan bahkan sampai di ditelanjangi di depan pria, Dia juga dipukuli, dilempari dengan sampah, bahkan dirsuruh meminum air dari dalam toilet.
Semua uang jajannya di rampas, dia diancam kalah foto fotonya akan disebarkan ke publik, dia juga diancam akan dibunuh, bahkan hampir saja dia kehilangan kegadisannya jika semalam dia tidak melarikan diri dari Bar.
Semalam dia dibawa paksa oleh geng itu, dia di bully habis habisan, disiram dengan tepung dan minyak bahkan tubuh dan wajahnya di coret-coret dengan kapur.
Pria bernama Frans itu ikut andil dalam membully Sabrina yang dikatakan sebagai seorang pel4c*r oleh geng tersebut.
Kejadian semalam,
Sabrina di tarik paksa ke dalam sebuah Club malam, dia dibawa ke sebuah ruangan private. Empat orang gadis dengan pasangan mereka masing-masing menarik paksa gadis itu.
__ADS_1
Brukk
Sabrina di lemparkan oleh Frans dengan kasar ke atas lantai.
"A..ampun... eghh... ampunn to.. tolong jangan lakukan itu kumohon," lirih Sabrina dengan suara bergetar ketakutan.
"Hahahahah lihatlah jal4ng ini dia bergetar ketakutan, ck..ck..ck.. bukan kah kau selalu caper di kampus kenapa tidak sekaligus saja kau caper pada seluruh pria di dalam gedung ini hmm?" ucap Seorang gadis yang disapa Nani.
"A.. apa salahku padamu," lirih Sabrina dengan suara bergetar.
"epe selehku bla bla bla hahahah kau tidak punya salah Sabrina, hanya saja menyenangkan melihat wajah busukmu ini menderita hahahaha," tawa Nani dengan Sura cempreng nya itu.
byuuuurrrr
Frans berdiri, dia menuangkan alkohol ke kepala Sabrina sambil tersenyum sinis, "Ternyata kau jal4ng sok soan berani menolakku," ucap Frans dengan senyuman sinis.
"Buka pakaiannya!!" ucap Nani dan langsung dilakukan tiga teman perempuannya.
srakk
kaos Sabrina dirobek, dan menyisakan kaos dalam gadis itu.
"Mau apa kaliaaaannn!!!" pekik Sabrina sambil menangis ketakutan.
"grrrhhh kau menyakiti telingaku bangsat!!!"
Plak... plak.. plakkk.. bughh
"Hei jangan menghancurkan wajahnya, klien kita tak akan puas nanti," ucap Risa teman Nani.
"Ahh kau benar sayang, kalau wajahnya hancur pria itu tak mau," balas kekasih Risa yang tengah menikmati aroma tubuh Risa dari belakang.
"Eghh... jangan menggigitku disini, nanti saja di hotel," bisik Risa dengan nada sensual.
Sabrina menangis tersedu-sedu, tubuh bergetar ketakutan.
"kurasa kau akan cocok dengan kapur ini hahahah," ucap gadis lain yang ikut membully Sabrina.
Tubuh Sabrina di coret-coret, wajahnya di gambar dan diberi bedak, rambutnya di acak acak dia benar benar di buat seperti mainan mereka.
Cekrek...
kilatan kamera ponsel menyilaukan mata gadis itu, dia tak bisa melawan tubuhnya diikat dan dia benar benar berantakan saat ini.
Sabrina yang lemah tak berdaya di paksa meminum alkohol bahkan sampai muntah muntah.
"Hahahahahhahaha," suara tawa mereka terdengar menggelegar di dalam ruangan, sangat jelas di telinga Sabrina kalau mereka sedang menertawai dirinya.
"To.. tolong, eghh.. uhukk uhuk... tolong aku,"lirih gadis itu menahan rasa sakit di tubuhnya.
"Heh lihat sini kau akan tidur dengan pria itu, hahah kau akan menikmati surga dunia, lakukan tugasmu dengan baik," ucap Frans sambil mencengkram kuat wajah Sabrina.
__ADS_1
"Cuiihhh," Sabrina meludahi wajah Frans membuat pria itu semakin murka, di tampar ya wajah itu berkali-kali dan di hajarnya tubuh Sabrina, di tendang dan di cambuk..
"Sial kau j4l4ngg!!!" teriak Frans murka.
"Hei sudah ku bilang aku tak akan membayar kalian kalau wajahnya rusak!!" ucap pria misterius yang duduk santai di ruangan itu.
"Ahh maafkan kami," ucap Nani sambil menarik tangan Frans.
"ck... kalian membuatnya kacau haissshhh sial pergi kalian!!" usir pria itu.
Sabrina ditinggalkan sendiri disana, pria psikopat tadi duduk berjongkok di depan Sabrina sambil membelai wajah gadis itu dengan sensual, jarinya menyentuh kulit gadis itu menyusuri kulit gadis itu, Sabrina bergetar ketakutan dia menangis menahan rasa takutnya.
Tiba tiba...
Brakkk...
Pintu ruangan itu di buka dengan kasar, tiga orang pria berpakaian hitam masuk sambil menodongkan pistol.
"Angkat tangan!!" ucap polisi itu.
"Kami dari kepolisian, Anda di tangkap atas tuduhan prostitusi!" ucapnya sambil menunjukkan surat penangkapan.
"Arhhh siaaaaaalllll!!!" teriak pria itu berusaha melarikan diri dari mereka.
"tangkap!" titah kapten mereka.
Dia langsung di bekuk dan dibawa keluar dari ruangan itu.
Mata pria itu langsung tertuju pada Sabrina yang tampak sangat mengenaskan, dia membiak jaketnya dan memakaikannya pada Sabrina.
"To..long,," lirih Sabrina sambil menangis.
Detektif itu langsung membawa Sabrina keluar dari ruangan itu.
"Tenang Nona anda sudah selamat sekarang," ucapnya membawa Sabrina menuju mobilnya, dengan cepat dia melaju ke klinik terdekat untuk mengobati gadis itu.
Sesampainya disana dia menitipkan Sabrina pada pemilik klinik dan memberikan pakaiannya untuk dipakai sabrina sementara.
"Tunggu disini, saya akan mengantarkan anda," ucap pria itu sambil memberikan kartu namanya pada perawat di klinik itu.
Setelah pria itu pergi, Sabrina diperiksa dan diobati, dia berganti pakaian, dengan perlahan-lahan dia keluar dari klinik itu, dia tak ingin merepotkan orang lain, dia mencari taksi dan pulang ke rumah masih dengan keadaan setengah mabuk.
flashback end.
"Kurang ajaaaarr!!!" kesal Rahel saat mendengar penjelasan Sabrina, dia benar-benar marah apalagi saat mendengar nama pria yang mem-bully Sabrina.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 😉😉😊